
Makan malam telah siap, di meja makan semua sudah berkumpul di meja makan kecuali si Reno. Dia lagi di rumah temannya dan minta di jemput jam 9 kurang.
Di kesempatan makan malam, Frans yang sudah tidak sabar bertanya" Bagaimana kondisi Aila tan?"
"Di indung telur terdapat miom seperti dugaan tante. Jika rasa sakit di alami belum sampai di ambang batas, kita masih bisa menunda mengoperasinya hingga Aila hamil dulu, tindakan operasi mungkin akan mengakibatkan kesulitan dalam memiliki keturunan, namun tidak menutup kemungkinan untuk mendapatkan keturunan."
Raya menghelah nafas lalu melanjutkan apa yang ingin dikatakan," Kalian berdua sudah tante anggap mampu bertindak dewasa, mampu memutuskan yang terbaik, tadi siang tante sudah berdiskusi dengan daddy mu Ai, Dia bilang lebih baik di lakukan operasi setelah kalian mendapatkan keturunan, sehingga setelah operasi kemungkinan terburuk terjadi kalian sudah mempunyai keturunan.
Walaupun masalah keturunan itu adalah hak prerogatif dari Allah, jika Allah menghendaki, seseorang yang di fonis dokter tidak bisa hamil saja tiba-tiba bisa hamil. Semua tante serahkan kepada kalian apa yang kalian putuskan selanjutnya." kata Raya lagi
Setelah penjelasan yang begitu panjang dari Raya semua terdiam, melanjutkan makan malam tanpa ada diskusi lagi hanya denting sendok yang terdengar sesekali.
Setelah selesai Raya membantu mertua membereskan meja makan, dan mencuci peralatan makan, Aila yang ingin membantu pun tidak di perbolehkan membantu, Raya memerintahkan Aila untuk istirahat saja.
Di dalam kamar Frans duduk di sofa bersama Aila, di tatapnya mata Aila mencari tahu apa yang di inginkan Aila.
"Ai jika aku ingin menunggu kau hamil dan memiliki anak dari ku baru melakukan operasi apa kau keberatan?"
"Tidak Frans aku tidak keberatan aku juga ingin memiliki anak dari mu Frans."
"Trimakasih Ai," katanya sambil mengusap kepala Aila.
"Ai, istirahatlah aku mau keluar lihat kafe dulu." katanya sambil mengecup kening Aila. Aila tersenyum ia pun berjalan keranjang dan merebahkan tubuhnya di sana, tak menunggu lama ia pun tertidur.
Di tempat lain di sebuah club Anin masih menjadi penyanyi di sana, wajah yang cantik membuat pemilik club tak rela melepas Anin.
Rafa yang baru saja pulang dari studio terkejut Anin tidak ada di apartemennya.
ada sepucuk catatan di bawah gelas di atas meja.
__ADS_1
Maaf Fa aku belum bisa berhenti dari pekerjaan ku. Jika aku berhenti sekarang aku harus membayar denda 50 juta.
melihat tulisan itu Rafa menjadi sangat marah, ia meremas kertas itu buku-buku tangannya mengeraskan menonjol urat-urat di jemari tangannya.
Di taruhnya kameranya dan Bungkusan plastik berisi Laptop baru untuk Anin di meja, kembali keluar dari Apartemennya.
Dengan langkah cepat terkesan terburu-buru memasuki lift yang membawanya ke lantai dasar lalu berjalan melewati lobby lalu ke area parkir kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke mobilnya lalu menjalankan mobilnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Mobil pun sampai di club di mana Anin bernyanyi di sana. mobil pun berhenti di area parkir club itu. Dia pun turun dari mobilnya, dan masuk ke dalam club itu.
Beberapa bodigurd club berdiri di beberapa titik. Rafa menghampiri salah satu dari bodigurd itu," Pertemukan aku dengan bos mu, aku ada perlu dengannya."
"Mari ikut saya tuan." kata salah satu bodyguard sambil berjalan ke suatu ruangan.
Tunggu di sini sebentar tuan katanya."
Rafa menunggu hingga akhirnya ia diijinkan masuk kedalam.
"Hai tampan ada apa mencari ku kau ingin memesan gadis untuk menanimu malam ini."
"Tidak aku ingin membayar denda yang harus di bayar Anindia sebesar 50 juta jika dia berhenti berkerja sebelum masa kontrak selesai."
Wanita itu menghelah nafas," Aku tak ingin dia berhenti karena dia tempat ku ini ramai, sayang ia tidak mau menerima tamu andai ia mau mungkin penghasilannya akan lebih besar."
"Tolong jangan mempersulitnya, biarkan dia keluar dan aku yang membayar dendanya."
Wanita itu bertepuk tangan," luar biasa, jika ku naikan dendanya apa kau tetap akan membayarnya?"
"Berapa?"
__ADS_1
"Seratus juta."
"Baik, berikan surat kontraknya padaku bubuhkan tanda tangan mu dan keterangan bahwa kontrak telah berakhir karena pembayaran denda."
"Berikan dulu uangnya."
"Akan ku transfer uangnya sekarang juga ke rekening anda tolong berikan sesuai keinginan ku anda sudah menaikan nilai uangnya bukan?"
Wanita itu berjalan dengan elegan menuju mejanya. Di ambilnya surat kontrak dan di bubuhkan setempel lunas pada kolom denda. lalu di berikan surat kontrak itu pada Rafa.
"Beberapa nomer rekening anda akan ku kirim segera."
Wanita itu menghelah nafas lagi, " Tidak perlu aku hanya menguji niat mu."
"Dia sahabat ku dia meminta pekerjaan padaku untuk biaya operasi ibunya namun sebelum di operasi ibunya meninggal dunia."
"Dari dulu ia ingin berhenti karena tak ada alasan baginya untuk mengejar uang tapi aku yang menahannya ku katakan padanya jika ia ingin pergi maka dia harus membayar 50 juta."
" Banyak pengusaha ingin memakai jasanya tapi aku menolak mereka aku menghargai perinsipnya, karena aku dia kehilangan sesuatu yang ia jaga selama ini jika aku tak mengirimkannya ke pesta anda mungkin malam itu tidak terjadi, tapi setelah saya melihat anda langsung hari ini. aku tidak menyesali lagi hari itu, bawalah ia pergi dari sini dan bahagikan dia."
Rafa mengangguk dan keluar dari ruangan itu lalu berjalan di ruang karaoke di mana Anin menghibur beberapa pengusaha yang ingin melepas lelah dengan bernyanyi bersama beberapa pemandu karaoke di samping mereka sambil menuangkan minuman haram.
Dia masuk di ruangan itu lalu menghampiri Anin yang duduk di sebuah panggung kecil dengan bentuk bundar sedang menyanyi beberapa pasang mata menatap nyalang.
Tanpa berkata Rafa menarik tangan Anin keluar dari ruangan itu, tanpa memperdulikan orang yang ada di ruang itu menatap tak suka.
Tanpa bicara apapun ia terus menyeret Anin dan memasukkannya dalam mobil dengan paksa ia pun masuk dalam mobil lalu mengemudikannya dengan kecepatan tinggi."
Anin yang ketakutan memegang pegangan yang berada di atas mobil Rafa.
__ADS_1
Mobil itu pun berhenti di area parkir Apartemennya, ia keluar dari mobil itu lalu berjalan memutar dan membuka pintu mobil di mana Anin berada. Di seretnya keluar dari mobil lalu menutup dengan kencang *Blam* Anin terjengkit.
Dia tertatih mengikuti langkah Rafa yang begitu cepat.