Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Pengganggu Kecil


__ADS_3

Di Vila Puncak


seorang lelaki di pusingkan dengan gadis yang bernama Nara, setiap ada kesempatan gadis itu datang ke Vila yang di sewanya.


Ya Diki sudah mulai sedikit gila dengan ulah gadis itu, liburan yang di kira akan memperbaiki iklim suasana hati justru kebalikannya.


Sepanjang malam gadis itu menelponnya dan tak akan berhenti jika tidak di terimanya.


Jika ia mematikan handphonenya maka Nara akan datang ke Vila dengan melompati tembok batas lantai atas lalu mengetuk kamarnya tak henti-hentinya.


Seperti tadi malam ia mengetuk kamarnya berkali-kali. Dengan mata yang mengantuk di bukanya pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya dengan tatapan malas.


"Hem, maaf bang kalau ganggu, mbak Ririn dan mas Bram belum pulang dari rumah sakit bang, Nara takut sendirian, boleh Nara tidur di sini di kamar sebelah abang.


"Ya, sana masuk abang masih ngantuk nih mau tidur lagi."


"Ah.. benarkah, trimakasih bang," ucapnya sambil mengecup pipi Diki sekilas lalu masuk kedalam kamar yang ada di sebelah kamar Diki.


Diki pun terkejut matanya melebar, kantuk yang semula menyerang tiba-tiba menguap begitu saja. Dia pun akhirnya ke dapur membuat mie instan rebus dan secangkir kopi hangat.


Saat hendak menyuap mienya tiba-tiba Nara mengejutkannya," Bang Nara juga mau dong."


Diki menghelah nafas panjang," Bikin sendiri sana!"


Nara mengerucutkan bibirnya lalu mencari mie instan, " Di mana Bang?"


"Di laci atas."


Nara mencoba menjangkau laci atas namun tak bisa menjangkaunya, Ia kembali melompat tetap tak bisa menjangkaunya.


Diki yang melihat itu langsung berdiri berjalan menuju kitchen set dan mengambil mie instan dan di berikan pada Nara, lalu kembali ke meja dan melanjutkan makannya.


Nara membawa semangkuk mie rebus ke meja makan dan duduk di sebelah Diki.


"Bang kalau sudah selesai makan jangan tinggalin Nara ya, tunggu Nara sampai selesai ya bang," pintanya sambil nyengir.


"Lo kapan ngak ganggu gue?"tanyanya sambil menyeruput kopi panasnya.


"Ciela, bang gitu aja marah bang."


"Bukan marah Ra, gue ini pria normal, kalau kayak gini terus bisa-bisa gue nerkam lo hidup-hidup.


Nara tertawa," Nara percaya bang Diki orang baik, gak akan lakukan itu pada Nara.

__ADS_1


"Bukan begitu Ra, bukan masalah baik apa enggaknya, masalahnya gue khilaf apa enggak?"


"Kalau abang khilaf, gampang abang tinggal nikahi Nara." kata Nara enteng.


"Nara!? *Brakk*


Diki memukul meja dengan kerasnya.


lalu meninggalkan Nara begitu saja.


Nara terkejut, ia makan dengan air mata yang terus menetes di pipinya.


Sementara itu Diki duduk di taman belakang sambil menyesap rokoknya.


sedikit menyesal telah membentak Nara.


Setelah memenangkan dirinya ia kembali ke dapur nampak Nara mencuci piring di wastafel.


"Nara mintak maaf karena mengganggu liburan abang, kalau abang mau tidur Nara gak akan ganggu abang lagi." katanya sambil berlari menaiki tangga, Diki terkejut segera menyusul Nara.


Nara, sudah sampai lantai atas dan akan melompat pagar pembatas Vila di tariknya tangan Nara dengan kencang hingga menubruk dada bidang Diki.


Diki memeluknya erat Nara," Maafkan Abang lebih tidur di sini, kamu di sana sendiri abang lebih kawatir lagi."


"Bang bagaimana kalau Nara cinta sama


abang? apa Nara terlalu centil sama abang? abang gak obok-obok Nara sebelum nikahkan?"


"Kenapa? apa kamu ingin abang obok-obok? tanyanya terkekeh. Nara memberontak diamlah Ra, please begini saja dulu sebentar saja.


Setelah yakin perasaannya, baru melepaskan pelukannya ke Nara. Di raihnya tangan Nara mengajaknya ke balkon yang memiliki taman mini yang indah, di ajak duduk di bangku taman.


"Apa kau tahu Nara? ini salah walaupun kita tak perbuat apa pun tetap salah. Kemasi pakaian mu, besok akan ku atar kau pulang."


"Apa abang gak cinta Nara? kenapa Nara di pulangkan? Ini lebih sakit dari yang kemarin." katanya sambil terisak


"Karena Nara mau di nikahkan makanya harus di atar pulang."


"Nara gak mau nikah sama orang yang Nara gak cinta bang."


"Kalau nikahnya sama abang gimana?" tanya Diki sambil menaik-turunkan alisnya.


"Bang!? teriaknya sambil memukul bahu Diki, Diki tertawa.


"Ayo kembali ini sudah larut malam."

__ADS_1


Mereka pun bergandengan tangan menuruni tangga lalu masuk ke kamar mereka masing-masing.


"Diki merebahkan tubuhnya di ranjang, hari ini begitu melelahkan setelah berhari-hari di usik oleh gadis kecil tetangga Vilanya itu.


Tak seberapa lama ia pun terlelap.


Adzan subuh terdengar sayup-sayup membangunkan insan terlelap, dengan mata yang masih belum sempurna terbuka.


Diki duduk di ranjang di turunkan kakinya dan Diki melakukan peregangan ototnya lalu beranjak dari ranjangnya lalu berjalan ke kamar mandi mengambil air wudhu lalu menunaikan sholat subuh.


Setelah selesai ia pun keluar dari kamarnya mengetuk pintu kamar Nara.


Ra, bangun sholat subuh dulu tak ada jawaban.


Di putarnya gagang pintu kamar Nara tak terkunci, di lihatnya kamar itu kosong.


Diseret kakinya melangkah ke arah dapur.


terdengar sayup-sayup seseorang bersenandung, semakin dekat semakin jelas.


Diki melihat Nara sibuk dengan penggorengan dan spatulanya, Diki mendekati gadis itu," Masak apa?"


Nara meringis," Masak nasi goreng bang."


"Bisa di makan?"


"Bisalah bang, abang duduk di sana saja." katanya.


Nara mengambil dua piring ditaruhnya nasi dalam ke dalam dua piring tersebut ditaruhnya telor mata sapi di masing-masing piring kemudian ditaruhnya di atas meja.


Diki memimpin berdoa lalu di cobanya nasi goreng buatan Nara, dikunyanya berlahan, Nara menunggu expresi Diki.


"Lumayan, sih masih bisa di makan," katanya tanpa expresi. Nara menatap nasi goreng dengan lesu, di sendoknya sedikit, lalu disuapkanya di mulutnya, matanya melebar lalu tersenyum," Enak kok." katanya sambil terus melahap masakannya sendiri, Diki tertawa melihat tingkah laku gadis itu.


Diki mulai menelisik raut wajah Nara hampir mirip dengan gadis yang di lihatnya di Kafe itu cuma bedanya gadis itu memiliki karakter yang kuat dan dewasa. Beda dengan Nara, gadis ini sangat ceroboh dan terlalu centil jika dia salah mengenal orang maka akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Diki yang sudah selesai dengan sarapan paginya beranjak dari duduknya sambil sambil memberikan perintah,"Jika sudah selesai lekas kemasi pakaian mu Sebentar lagi kita berangkat."


"Baik bang."


Setelah selesai sarapan Nara membersihkan meja makan dan mencuci piring setelah itu ia naik kelantai atas lalu loncat di pagar pembatas.


Nara mulai mengemasi pakaiannya, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Terimakasih telah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak like dan koment agar semangat update. sehat selalu untuk anda semuanya.

__ADS_1


__ADS_2