
Dia menghembuskan nafas dan kembali bercerita. "Ibu juga bekerja menyetrika baju orang lain untuk mendapatkan upah lebih. Aku pun mulai berpikir untuk membantu orang tuaku. Setelah pulang sekolah aku akan mengamen di jalanan atau menjajakan semir sepatu di depan perkantoran. Mereka yang tidak sempat menyemir sepatunya karena takut terlambat bekerja dan akan memakai jasaku. Aku sangat gembira jika pulang dengan membawa uang."
"aku tak menyangka bahwa kehidupan Bang Ren, begitu keras. Aku salut melihat perjuangan dan mendengar cerita dari Bang Ren," kata Rena.
Hari semakin gelap dan azan maghrib berkumandang Rendra pun mengajak Rena, untuk pergi ke masjid terdekat, di sana mereka melaksanakan salat magrib jamaah.
Setelah selesai, Rendra mengajak ke pasar malam yang pernah dijanjikan. Banyak sekali permainan yang ada di sana. Rena naik di kincir angin sendirian yang di abadikan dengan kamera ponsel nya. Ia pun sangat senang dari dari atas dia melambaikan tangannya dan tertawa kepada pria itu.
Setelah puas bermain kincir angin, Ia mencoba permainan yang lebih seru lagi. Rendra hanya melihatnya sambil tersenyum dan bergumam, "Aku seperti seorang pengasuh anak kecil."
Habis itu mereka berjalan-jalan mencari makanan yang diinginkannya. Banyak jajanan kaki lima yang begitu menggiurkan. Gadi itu mencoba berbagai macam jajanan yang ada di sana Hinga puas.
Ketika mereka sudah merasa bosan Rendra melajukan kendaraannya di beberapa tempat. Dia pun mengajak Rena ke rumah makan Yang dikelolanya saat ini karena di sana dia bernyanyi menghibur para pelanggannya dengan ketikan gitarnya dan suara merdunya. Setengah jam kemudian mereka sampai di tempat yang dituju.
Dia memarkirkan mogenya di halaman parkir rumah makannya lalu masuk bersama Rena sambil menggandeng tangan gadis tersebut. Beberapa karyawan melihatnya dan berbisik-bisik heran, kenapa majikannya membawa anak kecil di rumah makannya dengan menggandeng begitu mesranya? Seolah gadis itu adalah kekasihnya beberapa karyawati Yang memang awalnya bekerja di situ dengan niatan ingin menggaet pria tersebut merasa inscure karena apa yang dilakukan tidak membuahkan hasil, malah justru sekarang majikannya itu membawa gadis yang masih sangat mudah.
Rendra mengajaknya duduk di meja yang masih kosong lalu ia pun memanggil karyawannya untuk menyediakan minuman atau makanan yang diinginkan oleh Rena.
Rendra masuk ke dalam ruangannya mengambil sebuah gitar listrik lalu duduk di bangku yang ada di atas panggung kecil.
Dia mulai menyanyikan lagu sempurna yang di persebahkan pada Rena sebagai tanda bahwa dia sangat mencintai gadis itu.
__ADS_1
Beberapa pengunjung memandang gadis itu lalu tersenyum dan bertepuk tangan. "Lagu ini saya persembahkan pada gadis cantik yang duduk di kursi meja nomor sembilan, dia gadis impian saya yang lama saya cari dan rela menunggunya lulus," kata Rendra yang kemudian memetik gitar listriknya.
Rena merasa tersanjung saat lagu itu dipersembahkan untuknya, sebagai seorang yang dicintai pria begitu dalam, membuatnya sangat terharu dan merasa sedikit punya ketergantungan terhadap pria tersebut. Gadis itu meminum jus alpukat yang dia pesan tadi.
Tiga lagu telah dibawakan untuk para pengunjung rumah makan itu, ia pun berjalan ke arah Rena dan duduk di sebelahnya sambil menatap gadis itu dengan sangat mesranya.
Rendra pun bertanya, "Kapan ayahmu pulang?" Karena ia benar-benar ingin berhubungan dengan Rena secara serius sebab dia tidak ingin sembunyi-sembunyi.
Dia bersungguh-sungguh pada gadis itu walau saat ini gadis itu masih berusia tiga belastahun.
Rendra memesan makanan untuk Rena, karena dia gadis itu belum makan malam, hanya memakan makanan ringan saja.
"Bang, aku ini belum lapar, kenapa harus memesan makanan berat?" tanyanya. "Karena kamu belum makan apapun malam ini. Nanti kamu bisa sakit karena makanan yang kamu makan tadi banyak yang pedas dan itu tidak baik untuk lambungmu. Jadi walaupun tidak banyak kamu harus memakan, Abang cuma memesan satu piring, ayo kita makan dua. Abang tahu kamu belum sangat lapar tapi perut perlu diisi dengan makanan yang bermutu jangan hanya makanan pedas saja, jika lambungmu tidak kuat akan sakit perut dan abang yang disalahkan sama Mama Izah, jadi menurut lah!" kata Rendra
Setelah menghabiskan makanannya mereka pun meninggalkan Rumah makan tersebut, untuk kembali ke rumah Izah, Rendra menaiki mogenya dengan kecepatan sedang, malah terkesan sangat lambat hingga Rena pun mulai kesal padanya, pasalnya ia harus memeluk dengan erat ke perut Rendra padahal dia berjalan dengan sangat lamban. "Bang, Kenapa lamban sekali Jadi pegal memegang perut, Abang! protesnya sebal. Rendra pun tertawa. "Aku masih ingin kamu peluk seperti ini, kalau sudah sampai rumah tidak akan bisa lagi seperti ini karena akan kena marah oleh ratu dan raja, yang ada di sana. "
"siapa maksud Abang, apa tante iza sama Om Amar?" tanya Rena
"Iya siapa lagi kalau bukan mereka pasti mereka akan marah kalau ketahuan kamu berpelukan denganku," katanya sambil tertawa.
"Abang, 'kan yang nyuruh? Kok sekarang aku yang dibilang peluk Abang, curang nih,"protes Rena
__ADS_1
Rendra pun tertawa lalu menjalankan mogenya dengan lebih cepat, tak lama kemudian ya sudah sampai di kediaman Amar dan memarkirkan mogenya kedalam garasi.
Ia pun mengucap salam saat masuk ke dalam rumah itu, mereka pun menjawab salam dengan agak keras karena berada di ruang tengah dan sedang berkumpul untuk makan malam. Rendra dan Rena memasuki rumah itu, berjalan menuju meja makan dan menemui anggota keluarga, sesampainya di sana mereka pun mencium punggung tangan iza dan Amar.
Amar heran kenapa Rendra bisa keluar dengan Rena padahal belum kena kenal.
Izah pun menceritakan perkenalan singkat mereka dan rasa ketertarikan Hendra pada Rena.
"Beneran nih Kamu serius sama Rena pasalnya Rena itu masih kecil loh, Dra, jadi khawatir kamu tidak bisa menahannya, itu seperti Dicky akhirnya dia cepat-cepat melamar si Nara dan minta menikah cepat,"
"Aku akan buang dengan kesibukan kerjalah Dad," katanya pada Ammar.
"Oh ya Ren ini kamu kenalkan Vino adiknya istri istrinya Bara, kakak dari Rena. Saat ini dia masih kuliah di Boston.
Mereka pun saling berjabat tangan dan menyebutkan namanya masing-masing
"kenalkan nama gue Rendra," katanya sambil menjabat tangan Vino.
"Oh ya Ma ini Rendra mau tanya apa kamarku masih kosong aku mu menginap di sini malam ini," ijinnya pada Izah
"kamu jangan macam-macam ya Ren! Jangan sampai aneh-aneh kelakuanmu!" ancam Izah.
__ADS_1
"Enggaklah cuma tidur saja," katanya sambil tertawa.