
"Mom, aku kan udah bilang, aku bisa nentuin pasangan aku sendiri mom. Emang mommy pikir aku ini udah nggak laku sampek harus di cariin gitu." ujar Devan.
"Eh mommy nggak ada bilang anak mommy nggak laku ya. Buktinya itu Nantha di jodohin juga terima-terima aja, bahkan sekarang mereka udah saling cinta. Dan om Bian sama tante Iren menjodohkan Nantha bukan berarti Nantha nggak laku, tapi karna emang udah kelamaan sendiri. Makanya mommy takut kalo kamu kelamaan sendiri bisa-bisa kamu nggak suka lagi sama cewek." jelas mommy panjang lebar.
"Mommy tega banget do'ain anak yang nggak-nggak." balas Devan mulai kesal.
"Mommy cuma khawatir." sahut mommy.
"Mom, give me more time, please." ujar Devan memelas.
"Aku janji bakal bawa calon menantu buat mommy dan daddy as soon as possible." lanjutnya.
"1 bulan." sahut mommy.
"What?!" Devan terkejut dengan pernyataan mommynya.
"Dalam waktu 1 bulan kalo kamu nggak bawa calon menantu buat mommy. Mommy akan siapin langsung buat kamu calon istri pilihan mommy." jelas mommy.
Devan menghela napas kasar, "Okey, mom." balas Devan
"Yaudah Devan ke atas dulu mau tidur." lanjutnya.
"Okey son." ujar daddy.
"Okey sayang." ujar mommy.
"Night, mom dad." ujar Devan.
"Night too." ujar mommy dan daddy bersamaan
"Sleep tight yaa." imbuh mommy.
"Okey, mom." balas Devan dan segera naik ke lantai atas.
"Mommy seharusnya nggak kayak gitu sama Devan. Kan kasian Devan baru nyampe udah di todong kayak gitu." ujar daddy setelah memastikan Devan sudah masuk kamar saat mendengar pintu kamar Devan di buka dan di tutupnya kembali.
"Lagian kita juga jarang ketemu sama anak kita, masak mau mantu aja." lanjutnya.
"Emang daddy belum siap punya mantu, bukannya daddy udah pengen cucu." ujar mommy.
"Iya, tapi nggak keburu juga mom. Daddy cuma kasian sama Devan, dia kan disini juga tujuannya kerjaan, mana mungkin dia sempet nyari calon istri dalan waktu sebulan. Calon istri loh ini mom, bukan main-main. Kalo cuma sebulan, mana bisa Devan selektif milihnya." jelas daddy.
"Yaudah sama pilihan mommy aja." balas mommy santai.
"Emang gadis itu siapa sih mom? Beneran masih gadis apa udah--"
"Husss daddy. Ya jelas masih gadis lah, ting ting. Single." sahut mommy memotong ucapan daddy.
"Udah cantik, pinter, baik, ramah, sopan. Aduhh pokoknya mantu idaman banget deh." imbuhnya.
__ADS_1
"Mommy kenal dari mana?" tanya daddy. Bagaimana bisa istrinya itu langsung cocok dengan seseorang sehingga akan di jadikannya manantu.
"Kemaren mommy ketemu di butiknya Mrs. Ellen. Mommy di kenalin sama Mrs. Ellen dan ngobrol lumayan lama sama dia. Dia itu nyambung, enak banget kalo di ajak ngobrol." jelas mommy.
"Yaudah lah terserah mommy. Daddy percaya pilihan mommy, tapi daddy minta, jangan terlalu menekan Devan. Kasian dia." ujar daddy.
"Iya daddy sayang..." balas mommy dengan bersender di pundak daddy.
°
°
°
Devan yang sedari tadi sudah di dalam kamar pamit tidur, nyatanya tidak demikian. Di kamar ia hanya merenung, memikirkan bagaimana dalam waktu yang singkat ia bisa menemukan Calon Istri. Seseorang yang akan ia nikahi, yang akan menjadi pasangan hidupnya. Devan benar-benar tidak habis pikir dengan waktu yang di berikan ibunya.
"Dimana gue nyari cewek yang mau gue jadiin istri. Kalo cuma gebetan juga 10 detik ini juga sanggup gue. Lah ini calon bini, kalo gue nggak selektif bisa berabe urusannya." gumam Devan merasa gelisah.
Ting
Suara pesan masuk membuyarkan lamunannya. Setelah di buka ternyata yang masuk adalah email dari Mr. Smith, beliau adalah tangan kanan perusahan Pradana Group yang ada di negara ini. Selama Devan disini, Mr. Smith yang akan mendampingi Devan.
Pesan email tersebut berisi jadwal, yang mana lusa ia harus terbang ke New York untuk menemui klieb penting disana dan besok Devan masih bisa beristirahat. Hal itu akan Devan gunakan untuk menjelajah kota, kali saja ia menemukan apa yang ia cari.
🌼🌼🌼🌼🌼
Pagi hari Devan masih bergelut dengan selimut tebalnya, udara di kota ini sangat dingin, karna memang kini di Kanada mulai memasuki musim dingin. Devan enggan turun ranjang king sizenya, ia masih sangat ngantuk, ia baru bisa tidur pukul 01:25 dini hari.
"Mmm mom.." gumam Devan
Ceklek
"Wake up, son. Kamu nggak ke kantor?" tanya mommy sambil mengusap lembut rambut Devan, membuat Devan semakin nyaman dan ingin terlelap.
"Libur. Lusa aku ke New York ada meeting." jawab Devan
"Yaudah turun gih sarapan bareng yuk." ajak mommy.
"Mom and dad duluan aja. I'm still sleepy." balas Devan.
"Emang kamu semalem tidur jam berapa?" tanya mommy langsung membuat Devan membuka matanya. Tidak mungkin ia bilang jika ia tidak bisa tidur karna memikirkan obrolan dengan mommynya semalam.
"Aku begadang ngerjain laporan." jawab Devan berbohong.
"Yaudah kalo gitu mom and dad duluan ya. Karna daddymu mau ke kantor dan mommy juga mau ke resto. Nanti kalo mau makan minta pelayan buat nyiapin." jelas mommy sambil beranjak keluar kamar.
"Hmmm take care mom.." ujar Devan
"Okey honey, see you." pamit mommy dengan menutup pintu.
__ADS_1
"See you." balas Devan kembali terlelap.
°
°
°
Pukul 10:00 ia baru bangun dan langsung mandi. Selesai dengan aktivitasnya di dalam kamar, Devan turun mencari makanan.
"Den Devan mau makan?" tanya pelayan yang juga berasal dari Indonesia
"Eh, iya bi. Tolong siapin ya." jawab Devan.
"Aden mau makan apa?" tanyanya lagi.
"Telor aja bi, biar cepet." ujar Devan.
"Baik, tunggu ya den." ujar bibi dibalas anggukan oleh Devan.
Selesai makan, Devan segera keluar dari rumah menaiki mobil yang memang di sediakan untuknya jika ia mengunjungi orang tuanya disini.
Devan menjalankan mobilmya tanpa arah tujuan, ia hanya memutari kota, merasa bosan hanya di dalam mobil, Devan pun menghentikan mobilnya di Granville Island untuk sekedar duduk dan mencari udara segar, tak lupa ia juga memesan segelas kopi pada penjual di sekitar tempat itu.
Devan amat sangat menikmati pemandangan sekitar, ini adalah salah satu tempat favoritnya jika ia berkunjung ke negara ini. Saat tengah asik mengamati sekitar, tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara lelaki yang membentak kasar seorang wanita di depannya.
"Damn!! You cracked my phone. (Sialan!! Kamu membuat ponselku retak)" ujar pria asing.
"I'm sorry, sir. But you were walking with playing on your phone and you crash me first. It's not my fault if your phone falls. (Maafkan aku, tuan. Tapi kamu berjalan sambil bermain ponsel dan kamu menabrakku terlebih dulu. Bukan salahku jika ponselmu jatuh)" jelas seorang gadis berusaha membela diri
"I don't care. Give me the compensation money or I will take you to the police station. (Aku tidak peduli. Beri aku uang ganti rugi atau aku akan membawamu ke kantor polisi)" ujar pria itu semakin memaksa.
"Hey!! Are you crazy? You crash me and has hurt my hand, I should be the one to hold you accountable. (Hei!! Apa kamu gila? Kamu yang menabrakku dan telah membuat tanganku luka, aku yang seharusnya meminta pertanggung jawaban darimu)" balas gadia tersebut tak mau kalah.
"You are crazy, follow me or I will hurt you more than this. (Kamu yang gila, ikuti perintahku atau aku akan melukaimu lebih dari ini)" ujar pria itu dengan menarik paksa tangan gadis tersebut.
"Bast*rd!! (Baji**an)" ujar sang gadis yang sudah kesakitan.
"Let go of her hand or I will break your hand. (Lepaskan tangannya atau aku akan mematahkan tanganmu)" suara Devan membuat pria tersebut menoleh.
"Who are you? Do not interfere. (Siapa kamu? Jangan ikut campur)" ujar pria itu.
"It doesn't matter for you to know who I am. Let go of her hand. Now! (Tidak penting bagimu tahu siapa aku. Lepaskan tangannya. Sekarang)" ujar Devan semakin megintimidasi dengan tatapan tajamnya, membuat pria itu kikuk seketika dan melepaskan tangan gadis tersebut.
"Take this and go away. (Ambil ini dan pergi)" ujar Devan memberikan beberapa lembar uang, membuat gadis di sebelahnya kaget.
"One more thing, if you meet this girl again, don't disturb her or you will deal with me. (Satu lagi, jika kamu bertemu gadis ini lagi, jangan ganggu dia atau kamu akan berurusan denganku)" imbuhnya sambil memberikan kartu namanya, bermaksud untuk memperjelas siapakah Devan. Pria itu terkejut, setelah tahu jika Devan bukan orang sembarangan.
__ADS_1
"I'm sorry miss, sir." ujar pria itu lantas pergi dengan kikuk dari hadapan Devan dan gadis itu.