
Mama Izah sangat senang karena akan mempunyai dua cucu dari anak-anaknya.
"Kakak iparmu juga sedang hamil tapi yang mengalami morning sicknes adalah kakak mu Rafa, " kata Izah pada Nara.
Nara terkekeh mendengar penjelasan mamanya. "Itu anaknya bang Rafa lagi punya misi balas dendam pada bapaknya karena selama ini kan bang Rafa itu judes banget sama kak Anin."
Izah tertawa karena kelakar Nara tentang kakaknya itu. "Mungkin iya, ya Ra. Abangmu itu, sekarang malah lebih manja pada sama kakak ipar kamu gak bisa di tinggal ke mana-mana selalu ngintilin kakak iparmu itu. Keadaannya lebih parah dari kamu dalam segi manjanya," timpal Izah sambil tertawa.
"Untung yang morning sicknes ini Nara, bukan bang Diki, kasihan pasiennya nanti kalau bang Diki yang ngalamin, apalagi papanya 'kan kerjanya nolong orang, anakku ini tipe anak yang ngerti tanggung jawabnya papanya," kata Nara pada mamanya sambil tersenyum.
Saat ini Nara merasakan lebih baik dari yang tadi, rasa mualnya sudah berangsur-angsur menghilangkan, ia menatap mama sambil berucap, "Ma, trimakasih ya, sudah mau jenguk Nara, jagain Nara saat sakit, dan bawain makanan untuk Nara, kirain kalau Nara sudah menikah Mama gak mau lagi, jenguk Nara dan ngurusin Nara lagi." Izah pun sepontan memberi jitakkan padanya anak perempuannya itu.
"Aduh mama kenapa dijitak sih." gerutu Nara pada Mamanya.
"Habis kamu itu mikirnya aneh-aneh saja, yang namanya seorang ibu itu ya, Ra. Walau anak sudah menikah masih tetap memikirkannya meskipun tanggung jawab orang tua terhadap dirimu beralih pada suamimu itu. tetap saja terpikirkan, apa lagi dengar anaknya sakit suami harus bekerja, di rumah gak ada siapa-siapa, kalau kamu pingsan gak ada yang nolong dan baru diketahuin saat suami pulang kerja. Jadi jangan pikir aneh-aneh, yang paling sangat kawatir itu daddy-mu, bahkan sehari sebelum hijab, daddy sempat diam-diam nangis, katanya dia gak siap pisah sama anak perempuannya seperti baru kemarin dia menimangmu, membacakan dongeng sebelum tidur." jawab Izah panjang.
"Iya, Mam. Maafin Nara ya Mam, pantas saja mama jitak Nara, agar otak Nara kembali waras," katanya sambil memeluk Mamanya dan tertawa keras.
"Dasar anak ya sudah mau jadi ibu masih seperti anak-anak saja, kamu sudah mandi belum sih Ra?" tanya Izah pada putrinya.
"Sudahlah Mam, kalau belum gak bisa sholat dong," katanya lagi sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kamu, ya sekarang, tambah pintar aja kalau ngomong." kekeh Izah
Tak lama kemudian terdengar salam dari luar, mereka pun menjawabnya. Diki masuk kedalam rumahnya langsung menuju ke kamarnya, ia mencium punggung tangan ibu mertuanya. "Ma, maaf ya, harus ngerepotin mama untuk jaga Nara." kata Diki pada Mama mertuanya.
"Eh, ya gak ngeropoti toh nak Diki, ini Nara juga anak Mama jadi wajar kalau mama juga ikut kawatir Nara sakit." kata Izah pada menantunya.
"Tadi sebenarnya mau saya ajak periksa sekalian, Mam. Akan tetapi kondisi Nara tidak memungkinkan untuk di bawah periksa Mom, Ini saya pulang mau jemput Nara untuk diperiksa sekalian, "ijin Diki pada mertuanya itu.
"Lah kalau niatnya begitu kenapa gak telpon mama saja tadi. Jadi Nara mama antar ke sana Dik, kamu gak usah pulang." jawab Izah.
"Gak ke pikiran Ma, tadi itu Nara pucet banget makannya begitu selesai operasi Diki langsung pulang aja Mam,"kata Diki sambil menatap sang istri.
"Mama ikut ya?" tanyanya pada menantunya.
"Sendiri-sendiri aja, Dik. Karena mungkin nanti Mama mau mampir ke hotel juga, gak lucu kan harus nungguin kamu pulang tugas kan gak lucu Dik." kata Izah pada menantunya.
Mereka pun keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya masing-masing, lalu berjalan meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Sesampainya di sana mereka keluar dari kendaraannya berjalan melewati lobby menuju kebagian Obigyn, saat itu yang bertugas dokter Raya, Nara di minta untuk berbaring kemudian di oleskan krim lalu mulailah memeriksa dengan alat USG. Digesernya ke kanan dan ke kiri.
"Usianya sudah 4 mingguan dan masih berupa titik ini ya, Ada keluhan di semester Awal?"tanya Dokter Raya.
"Ada tante saya mengalami morning sicknes di pagi dan malam, apa ada vitamin untuk mengurangi rasa mual? Agar saya memenuhi asupan gizi pada janin." tanya Nara pada dokter Raya.
__ADS_1
"Oke, saya kasih vitamin untuk mengurangi rasa mual dan usahakan untuk makan apa saja untuk memenuhi asupan gizinya dan bayinya dalam keadaan sehat, untuk yang lain-lainnya mungkin Dokter Diki sudah tahu, betulkan, Dok," kata Dokter Raya sambil terkekeh.
Dokter Diki tertawa mendengar kelakar Dokter Raya, ia pun manggut-manggut membenarkan apa yang dikatakan dokter kandungan itu.
Setelah mendapatkan resep vitamin dari dokter tersebut. Mereka pun keluar dari ruangan Dokter Raya. dan berjalan menuju loket pembelian obat. Sedangkan Izah berpamitan kepada menantunya untuk pulang terlebih dulu.
"Dik, mama pulang dulu ya, mau ke hotel dulu daddy sudah nunggu di sana," kata Izah kepada menantu dan anaknya.
"Oh, iya Ma, gak papa kalau Mama duluan di ruangan Diki ada tempat tidur, kalau dek Nara mau istirahat. Setelah itu Izah berjalan berlawanan arah di berjalan menuju pintu keluar sedangkan Diki dan Nara ke loket pembelian obat.
Di sana memberikan resep pada petugas loket. Ia menerima resep tersebut sambil berkata, "Dokter Diki, anda tunggu di ruangan Anda biar suster yang membawakan vitamin Nyonya di ruangan Anda. Kasian Nyonya dalam keadaan pucat. Takutnya nanti malah pingsan."
"Oh, ya bisa begitu ya?" tanya Diki.
"Bisa Dok, nanti saya yang panggil Susternya dan menyuruh mengantar keruangan Anda,"kata petugas itu.
"Baiklah, Pak. Saya tunggu di ruang saya kalau begitu. Ayo, Sayang, lebih baik menunggu obatnya di ruang Abang." kata Diki dan mereka berdua, Diki dan Nara pergi meninggalkan loket kemudian berjalan menuju ke ruangannya, sambil terus merangkul istriya.
Sepanjang jalan Diki tak mau melepaskan tangannya di pinggang istrinya. Rasa bahagia karena akan menjadi seorang ayah di luapkan dengan kemesraan yang ditunjukan tanpa perduli tempat.
Beberapa teman dan staf rumah sakit hanya mengangguk ketika bertemu dengan mereka lalu mengulum senyum melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
"Kamu tadi sudah makan, Sayang?" tanya Diki kepada Nara. Nara tersenyum lalu mengangguk. "Tadi dibawakan Mama burjo, lalu Nara disuapin rasanya nikmat gitu, Bang.
"Habis banyak?" tanya Diki lagi pada istrinya. Nara mengangguk dan tersenyum.