
Vino pergi ke tempat-tempat yang mereka kunjungi waktu itu, waktu yang singkat menorehkan kenangan yang indah, hanya menatap manik matanya membuatnya merindu.
Ketika lapar ia pun pergi ke kafe atau rumah makan sederhana bersama sang supir.
Hari mulai gelap setelah puas mengunjungi beberapa tempat menjadi kenang untuknya dan Gloria ia pun memutuskan untuk kembali ke apartemen setelah sholat isya' berjamaah di masjid. Vino keluar dari masjid, berjalan menuju ke mobilnya dan duduk di bangku belakang dengan menyandarkan bahunya."Pak kita pulang ke apartemen!" perintahnya pada sopirnya.
"Baik, Tuan!" jawab sang sopir dan mobil berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan masjid.
Dengan waktu satu jam mereka pun sampai di area parkir gedung apartemen. Mobil berhenti dan Vino keluar dan berjalan menuju lobby lalu masuk ke dalam lift yang membawanya ke apartemen ia menginap.
Vino telah sampai dan membuka pintu sambil mengucapkan salam. Raka menjawab salam Vino lalu menyuruhnya segara membersihkan dirinya. Pria remaja itu hanya mengangguk lalu masuk kedalam kamarnya. Dia pun pergi ke kamar mandi, tak lama kemudian, terdengar kucuran air setelah itu, ia pun keluar dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Vino berjalan ke lemari dan mengambil baju lalu mengenakannya.
Kemudian ia keluar dan bergabung dengan kakek Raka dan Ayah Angga. Raka menoleh pada pria remaja yang duduk di sebelahnya dan menepuk bahunya. "Kau tidak ingin menemui kakak dan ponakanmu?" tanyanya pada Vino. Mendengar ucapan kakek Vino pun menoleh Raka lalu ke ayah Angga.
"Kakak sudah melahirkan?" tanyanya pada mereka berdua.
Sebelum mendapatkan jawaban dari mereka ia beranjak berdiri lalu berjalan dengan cepat menuju apartemen abangnya, Bara. Begitu sampai di pintu ia mengucapkan salam dan langsung masuk, Rika terseyum melihat kedatangan Vino sambil menjawab salam.
"Bunda kata kakek, kak Ratih sudah melahirkan?"
"Ada di kamar tamu, ke sanalah sudah di tunggu oleh kakakmu!" perintah Rika.
__ADS_1
Vino menuju kamar tamu ia pun mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka Bara terseyum menyambut kedatangan adik iparnya itu. "Masuklah, dari pagi kakakmu itu cemas padamu takut kau melakukan hal yang negatif," kata Bara pada adik iparnya itu.
Vino masuk dan mendekati box bayi serta melihat dari dekat keponakannya itu. "Ia tampan sekali yaa, paduan antara kak Bara dan Mbak Ratih, Bagaimana secepat ini mbak Ratih pulang dari rumah sakit?" tanya Vino pada pada Bara dan Ratih.
Bara terkekeh. "Sudah kukatakan pada kamu tadi Mbakmu itu terlalu cemas kepadamu takut kamu aneh-aneh, sudah kubilang kau tak mungkin begitu, tapi rasa cemasnya gak mau hilang hingga putranya pun demo minta keluar dan belum sempat pergi ke rumah sakit bahkan, jadi Mbakmu itu lahiran di rumah ditolong oleh Bunda."
Vino beralih menatap Ratih yang masih di atas ranjang. "Benar begitu Mbak?" tanya pada Ratih sembari mendekati sang kakak.
"Iya, Maaf Vin, Mbak takut kamu terpuruk terlalu dalam," jawab Ratih menatap sang adik.
Alvin, memegang jemari kakaknya. "Mungkin iya, tetapi otakku masih bisa berfikir dengan jernih, jadi jangan kawatir lagi! Aku akan berusaha hidup dengan baik, utamakan kak Bara dan baby kak," kata Vino pada kakaknya.
"Bagaimana aku tidak tahu? Bang Bara selalu bercerita kepadaku, aku ini Mbakyumu loh, Vin. Akan tetapi rahasiamu kau bagi dengan kakak iparmu," kata Ratih sambil mengerucutkan bibirnya.
Vino terkekeh. "Sudah bukan rahasia lagi Mbak, buktinya Bang Bara Bocor," katanya sambil tertawa.
Bara merangkul pundak sang adik ipar. "Jadikan ini hanya mimpi buruk yang hanya singgah di tidurmu dan ketika kau terjaga maka lupakanlah karena tak akan datang dalam dunia nyatamu. Ingatlah yang indah-indah dan lupakan kesedihan! tataplah kedepan dan terus melangkah jangan tengok kebelakang! karena tidak ada apa-apa di jalan yang telah kau lewati dan tidak mungkin bisa kau ambil kembali," kata Bara pada adik iparnya itu.
"Mbak, karena kamu sudah melahirkan dan aku sudah selesai dengan masalahku di sini maka besok aku akan segera pulang, karena mungkin akan ada ujian setelah ini," katanya pada mereka, lalu ia keluar ruangan setelah puas memandang ponaan yang tertidur pulas, ia berjalan mendekati Rena yang dari tadi tak mempedulikan dirinya sedang duduk dikursi di depan meja makan, memakan cup cake buatan sang bunda. "Dek, besok aku pulang ikut enggak? Jika ikut biar Bang Bara memesankan tiket sekalian," katanya sambil menyaut cup cake yang ada ditangan Rena dan langsung memakannya. "Kak Vin, itu bekas gigitanku loh," protes Rena.
"Gak apa-apa lebih manis rasanya," kata Vino tersenyum.
__ADS_1
"Gombal kamu, kak Vin, aku sih gak mempan digombalin sama kamu," kata sambil menyomot cup cake lagi lalu di masuk semua kedalam mulutnya hingga membuat Vino terpingkal-pingkal.
Ternyata cup cake itu terlalu besar sehingga membuat Rena sedikit kesusahan menelannya dan hampir tersedak, Vino mengambil segelas air putih dan diberikan pada Rena. Gadis itu menerima serta meminumnya untuk melegakan tenggorokannya. "Bun, boleh gak nih Rena pulang sama kak Vino?" tanya Rena pada Bundanya yang masih sibuk dengan kue-kuenya.
"Boleh tetapi tinggal di rumah Tante Izah yaa, jangan di rumah sendiri Bunda gak tegah walau ada Bik Darmi.
"Iya deh Bun, tapi lebih nyaman di rumah sendiri Bun," jawabnya sedikit kecewa.
"Sudah nurut saja, deh Dek. Toh itu untuk kebaikan kamu di sana katanya ada Mbak Nara dan Mas Diki, setelah melahirkan Mbak Nara gak boleh tinggal sendirian di sana, enakan bisa godain anaknya Mbak Nara aku juga belum ke sana, nanti kita sama-sama ke sana," kata Vino meyakinya.
"Beneran, ada Bang Diki dan Mbak Nara?" tanyanya dengan wajah yang ceria.
"Tuh kan, Bun. Ini pasti Rena mau nantangi Bang Diki main game dan taruhan," tebak Vino. Rika tertawa, "Dia itu masih penasaran karena kalah empat- satu sama Diki," jelas Rika.
"Sebenarnya taruhan itu boleh gak sih Bun?" tanya Vino sambil terus memakan cup cake yang ada di meja.
"Sebenarnya sih kalau menurut bunda gak boleh, apapun bentuk taruhannya, tapi dasarnya Rena itu bandel mau gimana lagi, apalagi dapat dukungan dari kakeknya, Bunda kalah deh," jawab Rika sambil menata cup cake ke dalam piring.
"Cuma mainan doang Bun, gak benar-benar taruhan, kemarin Rina kalah Bang Diki tetap tanya Rena mau dibelikan apa," katanya terkekeh.
"Lah Dia memang gak sungguh-sungguh, sebenarnya kamu panggilnya bukan Abang tapi Adik," jelas Rika.
__ADS_1