Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Memberikan Perhatian


__ADS_3

Sementara itu rombongan Keluarga yang menjenguk sudah berada di kediaman Raka, dia ingin anak dan Cucu-cucunya menginap di rumahnya.


Mereka semua menempati kamar mereka masing-masing, begitu pula Nara. Dia merebahkan dirinya di ranjang yang telah lama di tinggalkannya. Setelah menikah ia belum pernah berkunjung ke rumah kakeknya, betul kata kakek harusnya ia dan abangnya sering-sering mengunjungi kakeknya karena kesempatan mereka ada setiap hari, sementara Kak Bara bahkan gak punya kesempatan sama sekali untuk sering ketemu kakek, karena dia ada di Boston.


Nara bangun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu melaksanakan sholat ashar, lalu ia berdandan kemudian dia mengetik pesan pada suaminya. Setelah itu, ia berjalan ke balkon menikmati senja hari dan sepoi angin yang menerbangkan rambut panjang yang tergerai indah.


Lamat-lamat terdengar deru suara mobil yang masuk di halaman rumah kakeknya, terlihat dari atas balkon kamarnya suami masuk kedalam rumah sambil mengucapkan salam lalu menghilang dari pandangan mata.


Tak seberapa lama ia mendengar langkah kaki naik keatas balkon lalu tangan yang memeluknya dari belakang. tercium aroma maskulin dari tubuh tegap lelaki yang menjadi suaminya, dia mendongakkan kepalanya keatas, melihat senyum Diki yang selalu disukainya. "Cantik sekali istriku, sayang masih sore." celetuk Diki. Nara tertawa. "kalimat apa itu?"


"Kalimat rindu ingin mengurungmu di kamar." Nara tertawa kembali sambil memukul tangan Diki. Dia membalikan tubuh istrinya di cium perut buncitnya. "Assalammualaikum, Anak daddy lagi ngapain aja tadi sama Bunda." Nara tertawa. "Kok Bunda sih, mestinya 'kan pasangannya, Mama atau Mamy...." Diki terkekeh, "Gak mau, gak suka, dan lebih suka dengan nama Bunda kalau gak cocok ya di cocokin saja."


Nara semakin terbahak. "Daddymu suka maksa yaa, Dek," katanya sambil mengelus perutnya. "Dulu siapa yang ngatain aku tua? Sekarang gak bisa di tinggal sedikit saja," kata Diki sambil meledek. "Aku, Bang. Ihh, ingat aja sih Abang."


"Gimana gak ingat, kamu panggil aku Om-am-om." Nara semakin terbahak.


"Aduh perut aku sampai sakit ni, Bang."


"Kamu sih tertawa melulu dari tadi, jadi perutnya sakit deh," kata Diki sambil memeluk Nara yang bersandar di tembok pembatas Balkon.

__ADS_1


"Habis teringat raut muka Abang yang jutek itu."


"Kenapa suka Abang?"


"Apanya yaa? nyaman gitu lo, kalo sama Abang, berasa seperti bersama daddy."


"Kok di samakan dengan daddy sih," katanya gak trima.


"Ra," panggil Diki


"Hemm."


"Aku itu gak bisa berkelahi, Bang. Dan gampang panik, dulu kalau aku panik Tante Ai selalu membentakku agar aku sedikit tenang, Tante itu kalau menghadapi masalah, tenang banget seolah ia tak punya masalah padahal ada, terkesan santai tapi teratasi semuanya, Bang Bara, Bang Rafa dan aku waktu kecil yang menyelesaikan masalah adalah Tante. Waktu kecil kami bertiga itu cengeng, beda dengan Tante, mungkin Tante merasa yang paling tua statusnya membuat ia sangat dewasa, dulu dia gak suka di panggil Tante, karena setiap kami panggil Tante, satu kelas manggil dia Tante," kekeh Nara.


"Kalau kamu, bagaimana kecilnya dulu?" tanya Diki. "Aku tuh cengeng, Bang. Selalu suka ngintilin Tante Ai, tapi ia gak suka. Akhirnya aku selalu di tinggal dan terus nangis deh." katanya sambil tertawa.


"Oh, jadi dari kecil yaa, suka ngintilin orang, makanya sampai sekarang gak bisa hilang, ternyata kebiasaan begitu yaa." Diki tertawa sambil mengacak rambut istrinya.


Mereka berbincang-bincang mesra, hingga terdengar suara Adzan magrib, para pria pun pergi ke masjid sedangkan para wanita sholat berjamaah di musholla rumah mereka, Rika yang menjadi imamnya. Kemudian di lanjutkan dengan membaca Alqur'an bersama hingga waktu isya' dan melaksanakan sholat isya' berjamaah.

__ADS_1


Setelah itu, mereka menyiapkan makan malam bersama, para pria yang baru datang dari masjid pun langsung ke kamar mereka masing-masing berganti pakaian yang lebih santai.


Makanan telah siap, tertata di atas meja, semua orang berkumpul duduk di depan meja dan mulai makan dengan tenang, namun ada yang menarik perhatian mereka. Diki dan Nara, mereka saling suap-suapan, bahkan tak perduli saat menjadi pusat perhatian. Kemudian Raka pun mengikuti jejak Diki dan Nara, begitu pula pasangan Rafa, hingga Angga, Ammar, Izah serta Rika tertawa melihat ulah mereka.


"Ini contoh menumbuhkan cinta dan kasih sayang di setiap waktu agar rumah tangga tetap harmonis, pasangan tua apa lagi, perlu untuk bermanis-manis seperti ini, jangan di kira pasangan muda saja perlu seperti ini," kekeh Raka.


kini pasangan Angga dan Ammar pun melakukan hal yang sama, hingga Izah dan Rika tertawa karena mereka sedang membeo pasangan muda.


...----------------...


Di rumah sakit, di ruangan VIP Frans tengah menyuapi Aila makan. "Sudah Frans aku ngak suka makanan rumah sakit," keluh Aila. Frans menghelah nafas. "kamu baru sadar tadi pagi, jika bukan makanan ini kamu makan apa? setidaknya tunggu besok pagi akan ku belikan bubur atau makanan yang lain, sekarang makan makanan ini setidaknya pikirkan putramu dia butuh asupan ASI jadi tolong makan yang banyak, biar ASI keluar dan di dalamnya ada nutrisi."


Aila hanya mengangguk dan mencoba menikmatinya walaupun rasanya sangat membuatnya tak bisa menelan makanan itu, hingga detik-detik suapan terakhir dia langsung meminta segelas air minum.


Setengah jam kemudian, Frans memberikan obat pada Ai dan memintanya untuk tidur. Frans keluar ruangan Aila duduk di kursi, mengambil sebatang rokok dan menyulutnya lalu menghisap dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, pikirannya sangat kacau sebenarnya, ia sangat takut meninggalkan Aila sendirian, takut Naya mengacau. Perutnya terasa melilit ia sebenarnya ingin keluar mencari sesuatu yang bisa dimakan tanpa di sadari seseorang duduk di sebelahnya dan menaruh dua kotak makanan. "Makanlah, kau pasti lapar dan yang paling bawah punya Aila barangkali di tengah malam ia lapar," kata pria itu yang ternyata Om Luky. Frans menoleh. "Om, tahu saja aku lapar, aku ingin keluar mencari makanan tapi aku takut Naya akan ke sini dan mencelakai Ai."


"Dia sudah kembali ke Paris, tidak perlu cemas, ya sudah Om pulang dulu, Frans mengangguk sambil menguap makanannya. Setelah selesai, ia masuk lalu mengunci pintunya dan meletakan makanan di meja. Di lihatnya istrinya telah tertidur pulas karena pengaruh obat yang di minumnya.


Dia merebahkan tubuhnya di sofa senyum samar tersunging di bibirnya, dalam hatinya berkata bahwa ia tak perlu cemas lagi karena Naya sudah berada di tempat yang semestinya.

__ADS_1


__ADS_2