
Butuh waktu 23 jam penerbangan untuk sampai Amerika Serikat. Sepajang perjalanannya ia selalu mendekap sang istri, beberapa kali Ratih mengigau dalam tidurnya. Sedih rasa melihat keadaan istri seperti ini, awalnya berharap perjalanan akan menyenangkan ternyata tidak demikian.
Saat ini Bara dan Ratih sudah mendarat di Boston-Logan internasional. Pengelolah Apartemen memberikan fasilitas penjemputan bagi penghuninya, maka Bara dan Ratih pun berada di mobil jemputan ini yang mengantar mereka ke Apartemennya. Setelah sampai Bara dan Ratih berjalan ke lobby untuk mengambil kunci Apartemen, lalu mereka masuk kedalam lift yang membawanya ke lantai delapan kemudian pintunya pun terbuka, mereka keluar dengan berjalan menuju Flat nomer lima. Sampai di depan pintu, Bara menempel Cardlock agar bisa terbuka mereka pun masuk ke dalam Apartemen membawa semua barang bawaannya. Bara menatap wajah istrinya yang pucat. Bara pun berkata dengan lembut, "Sayang, mandi dulu biar segar,"
Ratih mengangguk lalu menyeret 2 koper untuk di bawa masuk ke dalam kamar namun sebuah tangan menahannya, "Bawa satu saja yang punya kamu biar ini nanti aku sendiri yang membawanya."
Ratih kembali mengangguk dan melepas salah satu koper yang di bawanya. kemudian ia berjalan kembali menuju kamar tidur mereka. Ratih membuka kopernya mengambil baju dan handuk untuk dibawa ke kamar mandi.
Di ruang tamu Bara mencoba menelpon Bundanya. Beberapa menit menunggu akhirnya tersabung juga, "Assalamualaikum, Bun."
"Wa'alaikum salam, Bar," terdengar suara dari sebrang, "Sudah sampai sayang, bagaimana keadaan Ratih?"
"Itulah, Bun beberapa mengigau lalu terjaga dan menangis aku rasa dia butuh spikiater." kata Bara sambil duduk di sofa melepaskan lelahnya.
"Ada teman Bunda yang betugas di sana namanya dokter Rendra akan Bunda kirim nomernya padamu, tapi sebelum kau memutuskan untuk membawa Ratih kesana, kau harus rundingkan dulu dengannya, karena mereka yang mengalami faseh ini sangat sulit menerima bahwa ada masalah dalam dirinya. Ketika seseorang menyarankan dia untuk ke psikiater maka dalam pikirannya adalah dia dianggap telah gila, itu yang harus kamu yakinkan pada Ratih agar tidak mempunyai perasaan bahwa dirinya gila. Katakan padanya ketakutan, kecemasan yang berlebihan setelah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, harus membutuhkan penanganan yang serius, itu sebabnya harus ke psikiater."
"Baik, Bun nanti akan Bara rundingkan dengan Ratih."
__ADS_1
"Bar, Bunda jangan sekarang untuk merundingkannya, tunggu 2 atau 3 hari untuk merundingkan ini, selam menunggu Ratih tenang bacakan surat Ar rahman sebelum tidur, Bar."
"Iya, Bun baik, trimakasih, Assalamualaikum."
Bara mematikan sambungan teleponnya.
Ia berjalan menuju kamarnya sambil menyeret kopernya, Dia melihat istrinya duduk di ruang rias, Bara tersenyum melihat sang istri sedang menyisir rambutnya, Bara menghampiri sang istri di peluknya dari belakang, Ratih mendongak ke atas menatap mata suaminya dan tersenyum, "Bagaimana perasaan mu sekarang?" tanya Bara dengan lembut.
"Lebih baik Bang, Abang mandi sana gih, bau asem." kata Ratih
"Mandi dulu Bang baru dapat jatah makan nasi," kata Ratih sambil terkekeh.
"Ya deh gak papa sekarang nasi habis itu tambahannya kamu ya."
Tak seberapa lama Bara selesai mandi ia pun berganti pakaian rumahan lalu berjalan menghampiri Ratih yang duduk di sofa, "Ayo apa kita makan di luar atau kita belanja di supermarket bawah?"
"Makan di luar dulu baru kita belanja ya Bang." kata Ratih sambil tersenyum.
__ADS_1
Mereka pun keluar untuk mencari makanan, mereka pun berjalan menuju lift masuk kedalamnya dan pintu tertutup. Beberapa menit kemudian mereka telah berada dilantai dasar, di area gedung Apartemen terdapat beberapa tempat fasilitas umum.
Mereka pun berjalan mencari makanan, mereka pun masuk kedalam rumah makan, lalu duduk dan memesan makanan, pelayan itu mengantarkan makanannya kemeja mereka. Bara dan Ratih mulai memakan makanannya. Setelah selesai mereka pun n masuk ke supermarket market membeli barang-barang yang dibutuhkan, Bara mendorong troli sementara Ratih mengambil barang-barang yang di butuhkan. setelah selesai belanja dan membayar belanjaan itu mereka pun kembali ke Apartemennya.
Mereka berjalan menuju lobby lalu masuk kedalam lift yang membawanya ke lantai delapan, setelah sampai pintu pun terbuka mereka keluar dan berjalan menuju flatnya menempelkan Cardlock dan pintu pun terbuka. Sepanjang perjalanan perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali. Ratih menata belanjaannya di kulkas. Bara menunggu waktu yang tepat dia merasa tidak bisa menundanya, ia menunggu dengan duduk di kursi minibar yang ada di dekat dapur sambil mengamati Ratih yang sedang menata belanjaannya di sana.
Tak seberapa lama akhirnya Ratih sudah selesai kegiatan dapurnya di berdiri dan berjalan ke mini bar di mana Bara berada. Ratih pun duduk di sebelah Bara tersenyum sangat manis namun terkesan di paksakan," Bang Bara kenapa lihat Ratih terus?" tanya pada Bara yang dari tadi melihatnya.
Bara tertawa dan menjawab sambil menarik tangan Ratih seolah tanda bahwa ia harus mengikutinya, Ratih pun pasrah akhirnya bangkit berdiri dan mengikuti Bara, "Jelas yang ku lihat itu istriku, kalau istri orang lain bakal kena tonjok, lagian istriku sangat cantik, ngapain melirik istri orang, aku mau menunjukkan padamu tempat yang indah Indah di Apartemen ini."
Bara mengajak Ratih masuk ke kamar mereka berjalan di sudut ruangan terdapat tangga yang menghubungkan ke atas, mereka pun menaiki tangga menuju ke arah atas. ketika Ratih sampai di sana begitu takjub, ada taman kecil yang tertata begitu indahnya dengan bangku-bangku tamannya yang indah, di mengajak duduk di bangku. beberapa saat terdiam akhirnya Bara pun memulai percakapannya, "Rat, aku ingin tanya pada mu, jika bunga-bunga itu layu siapa yang akan menyiraminya?" tanyanya sambil membawa tangan Ratih kedalam genggamannya,
"Ya si pemilik bunga itu." jawab Ratih.
'Jika bangku ini patah siapa yang akan memperbaiki bangku ini?" tanya Bara pada Ratih.
"Ya tentu tukang kayu," jawabnya pada Bara sambil terkekeh," kamu tanya aku seperti bertanya dengan anak TK saja." Bara pun tertawa, "Aku bertanya padamu tentang siapa yang layak memperbaiki atau siapa yang harus mengobati sesuai dengan ke profesionalnya Rat, aku sangat tahu kemarin itu adalah hari yang berat untuk mu, jiwa terluka, emosimu tidak terkendalikan, kekawatiran dan ketakutan menguasai hatimu jika bunda ada di sini mungkin akan muda untuk mu, sayangnya bunda tidak ada di sini, maka yang akan membuatmu lebih tenang adalah orang lain yang seprofesi bunda, maukah kau jika kita ke psikiater?" tanya Bara pada Ratih, Ratih pun mengangguk tanda setuju.
__ADS_1