Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Perhatihan Nenek


__ADS_3

Anin sedikit merasa terkengkang tetapi ia masih bisa menimati beberapa makanan yang di inginkanya. Setelah puas melihat-lihat pasar malam Anin dan Rafa kembali mobilnya menuju ketempat lain kali ini dia berada di alun-alun di sana mereka pun berwisata kuliner beberapa makanan di jual pedagang kaki lima mereka beli, setelah puas menikmati jajanan di Alun-alun, Rafa mengajak Anin makan di kedai sederhana yang menyajikan menu nasi goreng dan mie goreng, macam- macam varian nasi gorengnya, ada nasi goreng kambing, nasi goreng seafood, nasi goreng ayam panggang. Rafa memilih nasi goreng seafood dimana di dalamnya ada toping kepiting soka, tanpa bertanya pada Anin ia memilih Nasi goreng seafood, dan teh hangat, untung saja Anin jenis orang yang tak pernah pilih-pilih makanan.


Makanan mereka telah siap dan di antar di meja mereka makan dengan lahap dan meminum teh hingga habis. setelah mengisi perut mereka pun pulang ke rumah dengan perut kenyang. Hari semakin larut, Rafa dan Anin masuk kedalam mobilnya, Rafa pun melakukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tak seberapa lama, akhirnya Rafa dan Anin sampai di area parkir Apartemen mereka. mereka pun keluar dari mobil dan berjalan menuju lobby lalu masuk kedalam lift yang membawanya ke apartemen mereka, setelah sampai mereka pun masuk dalam kemudian menutup pintunya,. karena terasa lelah mereka pun langsung tidur di kamar mereka.


Bagitu pula dengan Nara dan Diki yang melakukan perjalanan pulang dari pantai Florida yang di tempuh dua jam perjalanan hingga sampai rumahnya. Setelah sholat magrib mereka langsung melakukan perjalanan menuju ke kediamnya. Sekitar pukul 19.00 mereka berangkat. "Ra, kalau ngantuk tidur aja," Kata Diki pada istrinya itu." Nara yang menatap jalanan menoleh pada suaminya dan berkata," Aku menemani Abang, biar ada temannya terjaga."


"Manis sekali istriku, awas yaa setelah itu tiba-tiba terdengar dengkuranmu, Ra." kata Diki sambil terkekeh.


Ketika adzan isya' terdengar, Diki mencari masjid untuk menunaikan sholat isya' setelah selesai mereka pun melanjutkan berjalanannya.


Waktu pun berjalan dengan cepat namun perjalanan semakin lama karena harus sering berhenti untuk sholat, makan dan mengisi bensin. Suara tape mobil terdengar lagu kesukaan Nara yang diikuti senandung dari bibirnya.


Malam semakin larut, beberapa kali ia menguap masih mempertahankan rasa kantuknya dengan terus menyenandungkan lagu-lagu kesukaannya. Hingga ia tak lagi sanggup menepis rasa kantuknya dan terdengar dengkuran halus dari bibir. dan Diki pun kembali tertawa.


tepat pukul 23.00 Diki sampai di pintu gerbang rumah, ia turun dan membuka pintu gerbang lalu kembali masuk kedalam mengemudikan mobil masuk kedalam garasi, lalu ia membangunkan istri untuk bangun, namun Nara tidak kunjung bangun, ia pun.mengendongnya menuju ke kamar. Lalu ia kembali lagi keluar menutup semua pintu rumahnya lalu.kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya di samping Nara.


Karena begitu lelahnya dengan cepat pun Diki tertidur.

__ADS_1


Hingga adzan subuh berkumandang dan mereka terbangun kemudian melaksanakan sholat subuh berjamaah di rumah bersama istri karena sudah terlambat untuk berjamaah di masjid.


Diki mulai bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


sementara Nara mempersiapkan masakan untuk sarapan pagi. Karena tak ada sesuatu yang bisa di panaskan dan pagi ini pun bangun agak kesiangan maka Nara mempersiapkan mie instan untuk makan pagi mereka.


Diki pun keluar dari kamar menuju meja makan. "Maaf yaa, Bang. Adanya hanya ini," kata Nara sambil tersenyum.


"Gak papa, kemarin 'kan memang kita menginap di rumah kakek."kata Diki sambil menyuap mie kuah dengan degan telor mata sapi.


Setelah sarapan pagi Diki pun berpamitan pada istrinya berangkat ke rumah sakit.


Di rumah sakit, di ruangan VIP Dokter Raya sudah berjalan di ruangan itu dengan membawa dua rantang piknik berisi masakan mertuanya untuk Aila dan Frans. Dia mengetuk pintu yang sudah terbuka membuat Frans menoleh kearah pintu. "Masuk, Tan. Bawah apa?" tanya Frans pada sang Tante.


"Ini titipan dari Nenek kalian untuk sarapan, pagi-pagi sekali ayah sudah menelponku untuk mampir kerumahnya, membawa masakan yang telah di persiapkan Ibu, beliau juga berpesan pada kalian tidak usah membeli makanan, karena setiap paginya tantemu ini akan membawakannya untuk kalian dan khusus Aila," katanya sambil terkekeh.


"Memangnya Nenek masak apa sih, Tan?"

__ADS_1


"Lihat sendiri, Frans dan Aila wajib makan, ya sudah Tante tinggal dulu."


"Iya, terimakasih yaa, Tan," ucap Frans sambil membuka rantang tersebut, dan ternyata isinya adalah pepes ikan gabus. "Ai, kemarilah Nenek membuat masakan khusus buatmu walaupun aku boleh memakannya," kekeh Frans


Aila berjalan menuju sofa lalu duduk di sebelah Frans sambil melihat apa yang dibawa tante Raya untuk dirinya.


"Wou, dari kemarin ini aku menginginkannya sekarang jadi kenyataan," katanya sambil mengambil makanannya yang telah disiapkan Frans dan memakan dengan lahap. setelah nasi di piring tandas Aila pun mengambil lagi satu bungkus dan memakannya tanpa nasi. Frans tersenyum. "Makanlah, kalau perlu habiskan tidak apa-apa, karena ini memang untukmu."


"Ahh, kau ini memangnya aku bisa menghabiskan makanan sebanyak itu."


Frans tertawa. "Tidak sekaligus, 'kan kamu harus memakannya, Ai? Biasanya ibu yang menyusui itu cepat lapar, jadi di saat, kamu lapar harus makan agar nutrisi untuk anak kita terpenuhi."


"Ya, aku mengerti," kata Aila.


"Itu sebabnya nenek membuat dan membawakannya banyak agar kamu segera pulih juga, jika mau masakan lain bilang saja akan kuberi tahu biar Nenek bisa membuatnya lagi, toh ikan juga tidak beli di pasar," kata Frans sambil terkekeh." Aila hanya tersenyum saja.


Setelah sarapan Aila dan Frans mengunjungi putranya lagi di ruang bayi, ia melihat Bayhas terlihat sudah lebih gemuk dari pada kemarin, mereka berharap untuk bisa membawanya pulang segera, agar lebih leluasa merawatnya.

__ADS_1


Setiap kali datang keruangan ini Frans merekam perkembangan anaknya serta mengirimkan kepada Bara dan Ratih. Setiap kali Aila berada di ruangan ini hatinya begitu menghangat. Kehadiran baby Bayhas sangatlah membuat hatinya bahagia, pernikahan tiba-tiba dengan orang yang begitu dekat dalam hidupnya sejak ia berusia enam tahun. Segala masalah yang dihadapinya selama ini serasa tak berarti ketika kebahagiaan datang menjelma dalam kehidupan kita, hanya menjadi cerita sedih sebagai obrolan ringan disaat dengan pasangan tercinta. Frans memeluk Aila sambil membisikkan kata indah-indah untuknya. "Ai, aku tidak bisa berjanji untuk tidak membuatmu menangis, namun aku hanya selalu berusaha membuatmu tersenyum dan tertawa, menghapus air mata sedih, maupun bahagiamu, mengenggam jemarimu apapun yang akan terjadi hari ini dan esok hari."


__ADS_2