Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Kegelisahan Nada


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Nantha segera turun mobil dengan kembali menggendong Nada untuk menuju ke ruangan dokter kandungan, dan tak perlu lagi menunggu karna memang rumah sakit ini adalah milik keluarga besar Nantha. Mereka di antar oleh salah satu perawat yang memang bertugas untuk membantu dokter kandungan dan menunggu kedatangan Nada. Saat tiba di depan ruangan Nada minta di turunkan namun Nantha tidak menanggapinya. Akhirnya mereka pun masuk, Nada malu di perlakuan Nantha yang menurutnya berlebihan.


Dokter kandungan bernama Arumi yang di perkirakan usianya memasuki awal empat puluhan itu hanya mengulum senyum melihat tingkah pasiennya yang mesra dan romantis itu, lebih tepatnya suami pasien yang terlihat posesif sehingga melakukan hal tersebut.


"Bisa kita mulai pemeriksaannya nyonya Nada?" tanya dr. Arumi.


"Mari dok.. Nan turunin ih." ucap Nada minta di turunkan oleh Nantha.


"Sekalian ke brankar sayang." balas Nantha sambil berjalan ke arah brankar, dan Nada hanya bisa pasrah.


"Silahkan di priksa dengan teliti istri saya dok." ucap Nantha.


"Baik, tuan."


Nantha memperhatikan layar monitor dengan serius dan teliti seolah-olah dia paham bahasa medis di dalam monitor tersebut.


Terlihat dokter menghela nafas setelah selesai memeriksa Nada, kemudian perawat membersihkan bekas gel di perut Nada dan merapikan bajunya kembali.


Nada yang melihat ekspresi dokter Arumi setelah memeriksanya, merasa cemas dan khawatir akan hal yang tidak di inginkan terjadi. Melihat itu, Nantha yang setia berada di samping istrinya mengusap lembut lengan sang istri untuk memberikan ketenangan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Saya tunggu di ruang sebelah untuk membicarakan kondisi kehamilan nyonya Nada saat ini." ucap dr. Arumi lalu berjalan ke ruangan sebelah untuk menyiapkan resep serta hasil periksa.


"Nan.." panggil Nada lirih.


"Sssttt sayang tenang yaa, kamu jangan berpikiran aneh-aneh. Semua akan baik-baik saja. Junior pasti baik-baik saja di dalam sini. Okey..?" jelas Nantha menenangkan istrinya.


"Apapun yang terjadi ada aku disini, jangan takut." lanjutnya.


Setelah menenangkan pikirannya, Nada pun turun dari brankar dengan di bantu Nantha, kemudian berjalan ke ruang sebelah untuk menemui dr. Arumi.


"Bagaimana dok kondisi kehamilan istri saya?" tanya Nantha to the point.


"Maaf sebelumnya nyonya Nada tenang dulu, hal ini jangan terlalu membebani pikiran anda, akan lebih berbahaya jika anda terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak." jelas dr. Arumi yang melihat raut kekhawatiran menantu dari pemilik rumah sakit itu.


"Kondisi bu Nada baik-baik saja...hanya saja ada beberapa hal yang harus di perhatikan terkait aktivitas anda dan suami." lanjut dr. Arumi.


"Maaf sebelumnya apa nyonya Nada dan tuan Nantha sering melakukannya?" tanya sang dokter.


Nantha dan Nada yang paham maksud dr. Arumi hanya bisa menganggukan kepala.


Melihat itu dr. Arumi hanya tersenyum.

__ADS_1


"Saya paham yang kalian rasakan, hal itu memang tidak bisa di hindari dalam hubungan suami istri. Namun alangkah baiknya jangan sering melakukannya, mengingat ini kehamilan pertama nyonya Nada dan baru memasuki trimester kedua, jadi masih terbilang rentan."


"Selain itu juga nyonya Nada tidak boleh terlalu kelelahan entah itu dalam aktivitas apapun, karna itu juga dapat menekan kondisi kandungannya." dr. Arumi menjelaskan dengan panjang lebar serta mudah di pahami pasiennya.


Nantha langsung ingat bagaimana pergumulannya dengan Nada semalam hingga tembus dini hari, yang sudah jelas hal itu membuat istrinya kelelahan. Ia merutuki kebodohannya yang tidak dapat menahan hasratnya, seakan lupa bahwa istrinya tengah mengandung juniornya.


"Baik dok, kami akan lebih berhati-hati dan akan menguranginya." balas Nantha.


"Baik, sudah cukup itu saja yang saya jelaskan, ini juga sudah saya tuliskan resepnya silahkan di urus, dan jangan lupa untuk rutin konsumsi vitaminnya, serta hindari makanan yang kurang sehat." lagi ujar dr. Arumi menjelaskan.


"Baik terimakasih dok, kalo gitu kami permisi." ujar Nantha.


"Mari dok, terimakasih" lanjut Nada berpamitan.


"Sama-sama..silahkan.."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menyelesaikan urusannya di rumah sakit, kini Nantha dan Nada sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.


Hening tidak ada percakapan di dalamnya karna memang saat ini Nada sedang tidur. Nantha memintanya untuk tidur karna sedari tadi Nada mengeluh sedikit pusing.


Nantha meraih tangan cantik sang istri, di usap lembut dan sesekali di ciumi sambil mengucap kata 'maaf'.


Sesampainya di rumah, Nantha langsung keluar mobil, memutarinya lalu membuka pintu mobil untuk Nada, setelah itu menggendong Nada untuk masuk ke dalam rumah. Ia tidak akan tega membangunkan Nada, apalagi dengan kondisi Nada saat ini.


Saat memasuki rumah, Nantha di kagetkan dengan keberadaan mama Iren di ruang keluarga. Melihat raut wajah mama Iren yang tidak biasa, membuat perasaan Nantha menjadi tidak tenang


"Nada kenapa Nant?" tanya mama Iren.


"Tidur ma.." balas Nantha.


"Perasaan gue jadi nggak enak gini. Alamat di omelin nih pasti. Ck.." gumam Nantha dalam hati.


"Mama dari kapan datengnya? Barusan apa dari tadi? Mama sendirian aja?" tanya Nantha tidak sabaran.


"Bawa istri kamu ke kamar dulu, biar nyaman tidurnya. Setelah itu turun, mama mau ngomong penting." ucap mama Iren tegas.


Nantha bergegas membawa istrinya ke kamar agar bisa tidur dengan nyaman.


Sesampainya di kamar, Nantha menurunkan istrinya pelan-pelan, kemudian menyelimutinya dan mengecup keningnya lama.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak sayang.."


Selanjutnya Nantha kembali turun untuk menemui sang mama yang telah menunggu.


"Ada apa ma?"


"Kamu apain istri kamu sampe kayak gitu?" mama Iren langsung menodong Nantha tanpa basa-basi terlebih dulu.


"Apain gimana sih ma, emangnya Nantha kdrt apa." balas Nantha sekenanya.


"Bisa di bilang kayak gitu." balas mama Iren juga sekenanya.


"YaAllah.. ma sama anak sendiri ini ma."


"Emangnya Nantha suami apaan kdrt sama istri. Nggak ada di kamus Nantha ma." jelas Nantha dengan pembelaan dirinya.


"Terus kenapa istri kamu bisa kayak gitu?" tanya mama Iren.


"Pasti kecapekan kan gara-gara kamu gempur terus." lanjutnya.


Deg..


"Mama tau dari mana?" batin Nantha.


"Mama tau dari dr. Arumi" ucap mama Iren seolah tahu isi hati anaknya.


"Tadinya mama cuma mau liat anak perempuan mama."


" Eh pas mama tanya ke bibi, ternyata istri kamu lagi di rumah sakit buat ngecek kondisinya karna ada sesuatu."


"Yaudah mama langsung aja telpon dr. Arumi." jelas mama Iren.


"Kamu itu lupa apa gimana sih, masa nggak bisa nahan." lanjutnya lagi.


"Nantha khilaf ma. Ya mama pasti paham lah apa yang di rasain papa" jawab Nantha menundukan kepalanya.


"Eh kenapa jadi bawa-bawa papa kamu. Yang mama bilangin itu kamu bukan papa. Kebiasaan deh kalo di bilangin ngejawab mulu. Awas aja kalo sampe anak mama kenapa-napa." lagi, mama Iren mengomeli Nantha.


"Aku juga anak mama kali." ujar Nantha berharap ada keadilan untuknya.


"Terima aja nasib kamu setelah mama punya Nada sebagai anak menantu kesayangan mama." balas mama Iren sekenanya, membuat Nantha hanya bisa menghela napas pasrah.

__ADS_1


__ADS_2