Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Pemeriksaan.


__ADS_3

Didalam kamar Aila berjalan mondar-mandir ada ketakutan dalam dirinya, semalam pun dia tidur larut malam karena tak bisa tidur memikirkan pemeriksaan hari ini.


Tadi dia pamit pada Frans untuk berganti pakaian setelah berganti pakaian tak kunjung keluar dari kamar entah semakin dekat waktu pemeriksaan rasa takut semakin mendera.


Frans yang sudah luar rumah menunggu dengan menaiki kuda besinya heran Aila tak kunjung kembali, merasa curiga sekaligus kawatir takut terjadi apa-apa pada Aila.


Frans turun dari motornya berjalan masuk rumahnya kembali menuju kamarnya.


di putarnya gagang pintu ternyata tak terkunci.


Membuka pintu kamar, ketika telah terbuka dia melihat Aila berjalan mondar-mandir ke kiri dan ke kanan Frans menghela nafas ia masuk dalam kamar dan menyentuh bahu Aila, "Ai, ngapain lo mondar-mandir di situ?"


Ai menoleh, ada raut kecemasan di wajahnya,"Frans, aku takut apa bisa kita menunda pemeriksaannya.?


"Kau harus menunda berapa lama Ai? sekarang atau besok kekawatiran mu akan tetap sama, lebih cepat lebih baik Ai, aku ingin kau segera sehat, Ayolah Ai, akan ku temani saat pemeriksaan nanti."


Aila mengangguk dan mereka pun keluar kamar.


Mereka berjalan beriringan Frans mengengam erat tangan Aila menguatkan hati dan tekat istrinya itu.


Begitu sampai di luar Frans segera menaiki motornya di ikuti Aila yang duduk di belakangnya.


Motor pun melaju dengan kecepatan sedang, diraihnya tangan Aila di lingkarkanya di perutnya.


Tangan satunya memegang kedua tangan Aila yang telah melingkar di perutnya dan tangan satunya memegang kemudi motornya.


Aila pun merasa mulai nyaman rasa takut dan kawatir sedikit menghilang di rapatkan tubuhnya dan dieratkannya pegangan tangannya.


Roda motor terus bergerak hingga mendekati rumah sakit yang ditujunya membuat rasa takut dan kawatir yang semula telah hilang menyerang kembali di hatinya, keringat dingin mulai mengucur di sela-sela tangan dan jemarinya.


Motor pun berhenti tepat di area parkir rumah sakit. Dengan rasa gamang ia pun turun dari motor milik Frans, yang telah berhenti cukup lama. Frans mencoba memahami perasaan istri menunggunya benar-benar siap turun dari motornya.


Setelah Aila turun ia pun turun mejagang motornya lalu meraih kembali tangan istri yang mulai dingin.


Beberapa saat Aila ragu untuk berjalan, Frans menatap Aila sambil tersenyum menyakinkan tak akan terjadi apa-apa.

__ADS_1


Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit melewati lobby rumah sakit menyusuri lorong-lorong yang panjang detak jantung semakin berdegup kencang ketika sudah hampir dekat dengan ruangan tante Raya.


Ketika sudah sampai dekat pintu ruangan dokter Raya seorang suster menginformasikan bahwa dokter Raya telah menunggunya.


Mereka pun masuk di ruangan tersebut, dokter Raya tersenyum ketika melihat mereka muncul di balik pintu yang terbuka," Duduk Ai, Frans!" Perintahnya.


Bagaimana sudah siap?" tanyanya sambil memegang tangan Aila yang bertumpu di meja.


"Harus siapkan tan, sekalipun belum." katanya dengan raut muka penuh kecemasan.


"Frans akan mendampingi mu Ai, ayo keranjang lepaskan dulu bawahannya!"


Aila menuruti apa yang di perintahkan dokter Raya. berbaring dengan menekuk kedua kakinya dalam posisi di lebarkan Frans duduk di sampingnya membungkuk dan memeluknya dibenamkannya wajah Aila di dadanya," Rileks Ai."


Dokter Raya menunggu beberapa saat dan meminta Frans untuk memberikan relaksasi ketika di rasa sudah siap dokter Raya memasukan alat USG transvaginal di area pribadi, alat itu bergerak maju mendeteksi keadaan rahim, tangan dokter Raya yang memegang alat itu bergerak ke kiri dan ke kanan sambil matanya menatap monitor pendeteksi.


Kaki Aila mulai gemetar menahan nyeri di sekitar area intimnya, hingga beberapa saat kemudian pemeriksaan selesai, Aila di suru berbaring dan beristirahat sebentar." Frans ke sini naik apa?" tanya Raya pada keponakan.


"Naik motor tan," kata Frans


Frans pun terdiam dan memandang istri yang mulai sedikit tenang.


"Nanti Frans naik taksi saja, tan biar motor Frans di sini nanti Frans ambil. Gimana hasilnya tante?"


"Nanti tante jelaskan di rumah


Setelah cukup nyaman Aila bangun dari tempat tidur dan memakai bawahannya kembali.


dengan langkah yang sedikit pelan Aila berjalan keluar ruangan dengan Frans


Dengan merangkul punggung Aila Frans berjalan menyamakan langkahnya sambil tangan satunya memegang hp memesan taxi.


"Frans aku sendiri di dalam taxi gak papa kamu ikuti aja taxi dari belakang dengan motor mu."


"Hem, kau tak papa?"

__ADS_1


Aila menggangguk dengan sangat mantap menegaskan dia baik-baik saja.


Taksi pun datang Frans membukakan pintu untuk Aila dan memastikan istrinya nyaman lalu menutup pintu mobil taxi itu.


Frans berjalan kearah motornya menaikinya dan mulai menjalankan motornya mengikuti taxi yang sudah berjalan di depannya.


Taxi berjalan dengan kecepatan sedang, membelah jalanan hingga akhirnya sampai di rumah kediaman kakek Frans.


Taxi pun berhenti tepat di depan rumah itu bersamaan dengan motor Frans. Frans berhenti tepat di belakang taxi Frans mejagang motornya dan turun dari motornya berjalan menuju taxi membukakan pintu untuk Aila lalu membayar ongkosnya, taxi itu pun kembali berjalan meninggalkan rumah itu.


"Apa bisa berjalan sendiri?" tanyanya pada Aila. Aila mengangguk dan berjalan perlahan masuk kedalam rumah itu. Frans menaiki motornya dan menjalankan dengan pelan masuk ke garasi kemudian ia turun dan menjagangnya kembali.


Frans berjalan dengan langkah lebar menyusul istrinya ke kamar mereka.


Di bukanya pintu kamarnya, di lihatnya istrinya telah terlelap, mungkin ia lelah dengan melewati hari ini yang mungkin juga membawa ketegangan tersendiri pada Aila.


Frans keluar dari kamar berjalan menuju taman belakang, tampak sang kakek tengah duduk di taman dengan sang nenek didepannya ada sepiring pisang goreng dan segelas kopi yang masih mengepulkan asap di bibir gelas.


Frans menyapa mereka sambil mencium punggung tangan mereka," Kalian disini rupanya makanya kok sepi rumah."


"Bagaimana dengan Pemeriksaan Aila?"


"Tante belum menjelaskan kek, nanti katanya waktu di rumah, mungkin saja menunggu Aila tenang dulu kek." kata Frans duduk di sebelah neneknya merangkul wanita yang sudah tak mudah lagi itu sambil mengambil pisang goreng hangat dan memakannya perlahan.


" Istrimu mana leh?"


"Tidur nek, tak biarin saja kasihan sehari ini tadi sudah sangat tegang."


"Kenapa tak di temani?"


"Mau kencan dengan cinta pertama ku nenekku yang cantik." kata Frans sambil mencium pipi keriput wanita itu.


Beberapa saat suasana hening tanpa ada perbincangan dan dengan pikiran mereka masing-masing.


Trimakasih telah berkunjung dan membaca karya saya, dukungan anda sangat berarti buat saya, selalu dukung saya dengan memberi Like dan koment agar lebih semangat lagi untuk update dan sehat selalu saya doakan untuk anda semua.

__ADS_1


__ADS_2