
Nurul menatap sang putra dengan tatapan sendu tak sanggup mematahkan kebahagian putra semata wayangnya itu, tapi dia harus ungkapkan ini untuk menghilangkan rasa cemasnya di hatinya.
"Ibu rasanya tidak enak pada beliau, kita ini orang biasa, takutnya beliau tidak percaya padamu kalau kau bisa bertanggung jawab terhadap putrinya."
Rendra mengajak duduk sang ibu, di ruang tengah di kursi depan meja makan, menggenggam tangan Ibunya dan menatapnya penuh cinta. "Ibu, tidak perlu kawatir beliau sangat baik, dan Rendra juga berjanji pada beliaunya untuk tidak meminta hak dulu pada Rena sampai gadis itu lulus sekolah SMU, tujuan Rendra menikahinya agar bisa melindungi gadis itu dari hal-hal yang tidak baik dengan status sebagai suaminya, dan bisa memeluknya saat dia resa, gelisah maupun sedih."
"Ibu tahu bukan hanya itu yang kau pikirkan," kata bu Nurul sambil memukul kepala putranya itu.
"Aduuh, Kenapa Ibu jadi mirip Mama, suka pukul kepala," kata Rendra mengadu sambil mengusap rambut di kepalanya.
Ibunya tertawa. "Ya, sudah siapkan hantaran sekarang dengan sebaik-baiknya jangan membuat kita malu."
"Baik, Bu. Ren sayang Ibu," kata Rendra pada ibunya lalu berlari keluar menuju garasinya dan membuka pintunya.
Kemudian masuk ke dalam mobilnya mengeluarkan mobil itu dari dalam garasinya, waktu akan keluar untuk menutup pintu garasi sang ibu mencegahnya. "Sudah biar ibu yang menutup garasi dan pintu gerbangnya."
"Trimakasih Bu," kata Rendra pada ibu lalu melaju dengan. kecepatan sedang membelah jalanan.
Tak lama kemudian Rendra sampai di butik yang di maksud oleh Mamanya.
Di di sambut dengan sangat ramah.
lalu pelayan membawanya ke sebuah ruangan yang mempertemukan dirinya dengan pemilik butik dan juga salon kecantikan itu.
"Nyonya,Tuan Rendra sudah datang," kata pelayan itu pada majikannya.
"Suruh dia masuk," perintah terdengar dari dalam.
"Silakan masuk Tuan!" pinta pelayan itu.
__ADS_1
Rendra masuk di ruangan itu didalam menampakkan seorang yang duduk di meja kerja, dengan ramah mempersilakan dia untuk duduk, di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Dia pun berdiri menghampiri Rendra sambil mengulurkan tangannya dan berkata kenalkan namaku Yuna kakak ipar dari Diki Kamu kenal kan dia?" tanya wanita itu
"Anda?" tanya Rendra hampir tak percaya.
Wanita itu tertawa, jangan heran aku dan Izah bersahabat sejak kami SMA, semua pakaian dari keluarga itu, aku yang mengaturnya dan jika ada event-event penting, aku juga yang selalu dipanggilnya, aku juga tidak percaya ketika Dicky ternyata menyukai anak sahabatku," katanya sambil terkekeh.
"Aku mengerti sekarang kenapa aku disuruh kemari, untuk memastikan Apakah pilihan Anda sesuai dengan pilihanku," kata Rendra.
"Ya betul apa yang kau katakan, semuanya sudah aku siapkan, silakan kau periksa semua, ukuran baju yang ada di keluarga itu aku yang pegang," kata Yuna sambil menunjukan pakaian, yang sudah dipersiapkan untuk Rena. Dari baju luar hingga yang paling privasi.
Ketika dia melihat pakaian yang paling privasi dia sedikit terkejut lalu tertawa. "Mbak Yun, jangan yang ini coba carikan biasa saja karena pernikahan kita, tidak seperti pada umumnya, kalau dia memakai ini pasti aku bisa gila," katanya sambil terkekeh.
Yuna pun tertawa. "Baiklah carilah Apa yang kau mau ada di situ," kata Yuna. Maka Rendra pun memasuki ruangan dan memilih pakaian yang benar-benar cocok untuk Rena.
"Sekarang kita akan melihat pakaian pengantin untukmu juga untuk Rena," kata Yuna sambil meperlihatkan berbagai macam baju pengantin dan dia memilih sebuah baju pengantin yang sederhana tapi sangat elegan. "Aku memilih yang ini kak Yuna," jawab Rendra.
"Ok bagaimana dengan jasnya apa kau suka?" tanya Yuna,
"Ya, kak Yuna," katanya sambil mengangguk.
"Ok! Semua akan ku ke kemas dan kirimkan ke ... aku lupa kemana akan ku kirim ini?" tanya Yuna
"Sebentar Kak ... ehh, aku lupa kalau Kakak umurnya sama dengan Mama? boleh ku panggil Tante saja?" tanya Rendra dengan terkekeh.
"Terserah, kau boleh panggil Tante, maupun Kakak seperti Nara juga.
"Aku lebih baik panggil Tante, gak enak aku sama suami Tante," katanya terkekeh.
__ADS_1
"Kamu yaa," kata Yuna tertawa. Rendra menghubungi mama angkatnya berbicara agak lama kemudian dia pun menyudahi panggilan.
"Tante kirim ke rumah mama Izah karena berangkatnya dari sana," kata Rendra sambil menyerahkan kartu goldnya
Setelah melakukan pembayaran Rendra izin pada Yuna untuk melanjutkan menyiapkan acara besok pagi. "Sudah ya Tante, Aku mau lanjut untuk cari cincin apa Tante punya rekomendasi toko perhiasan yang bagus?" tanya Rendra
Ada aku hubungi dulu orangnya ya, nanti biar kasih share lock ke kamu dan aku minta nomor telepon kamu biar langsung share lokasi telepon kamu aja bukan ke telepon tante," kata Yuna
"Oke, Tan aku tunggu nih," kata Redra sambil duduk di sofa.
Oke, sebentar ya tante telpon orangnya dulu," jawab Yuna.
Terlihat Yuna sedang berbicara dengan seseorang lalu Yuna pun meminta nomor telepon Rendra setelah itu, terdengar bunyi notifikasi di handphone Rendra terlihat nomor baru dan Sherlock dari toko perhiasan terbesar dan terbagus.
"Sudah tante orangnya sudah share ke aku aku berangkat dulu ya terima kasih banyak sudah bantu aku," kata Rendra "Oke dengan senang hati aku membantumu karena kau adalah anak angkat sahabatku, kalau bukan aku tak mau membantumu," katanya sambil tertawa
Rendra pun terkekeh mendengar jawaban Yuna
Ya, betul tante jika aku bukan anak angkat Mama Izah, kau pasti menolakku dan bilang pergi," katanya sambil berlari keluar dari rumah mode Yuna
Awas yaa, kamu. Beraninya mengolok-ngolok tante," kata Yuna Sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku jadi tahu kenapa Rena menyukaimu ternyata kamu kocak juga batin Yuna.
Rendra keluar dari rumah mode Yuna masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya memecah kesunyian malam, menuju ke toko perhiasan terbesar di kota ini. Setengah jam kemudian, dia sudah sampai di pertokoan itu, memarkirkan mobilnya di area parkir dan berjalan masuk ke dalam toko perhiasan itu.
Dia disambut dengan pelayanan yang sangat baik dipanggilkan oleh pemiliknya langsung, dia pun bertemu dengan seseorang laki-laki yang bertulang lembek dan berjalan dengan gemulai menghampirinya, "Aduh ganteng, mau cari cincin pernikahan yaa, ayo kita carikan! Ini banyak sekali modelnya, you boleh pesan atau boleh pilih apa? Apa yang kamu suka nanti kita kasih potongan harga deh buat kamu yang tampan ini," kata pemilik perhiasan yang dipanggil dengan Yani.
Rendra pun terkejut kemudian terseyum lalu mengatakan keinginannya pada pemilik toko.
__ADS_1