Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Pendekatan Pelan-Pelan


__ADS_3

Nara pun membuka pintu kamar mandi terlihat Diki berdiri membelakangi pintu, Nara melewati Diki dengan langkah pelan. Ia terkejut saat tangannya di tarik dengan cepat, tangan kiri Diki menggamit pinggang lalu memeluk erat dan melepaskan cengkramannya dari tangan Nara.


Tatapannya menyapu seluruh tubuh Nara, sambil ujung jarinya menyentuh wajah turun perlahan ke leher terus kebawa menyusuri tubuh Nara hingga Nara lupa bernafas, "Abang minta hak abang sekarang Ra, pakai mukena dan tunggu abang," kata Diki sambil melepaskan pelukannya dan masuk kedalam kamar mandi.


Diki masuk kedalam kamar mandi, senyuman tersungging di bibirnya, tak lama kemudian terdengar kucuran air yang mengalir. Sepuluh menit kemudian ia pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sebatas pinggang dan lututnya.


Menoleh sebentar pada istri kecilnya, Kembali tersenyum ada kesenangan tersendiri baginya untuk bisa menggoda sang istri.


Diki mengambil sarung dan baju koko yang sudah di siapkan oleh mertuanya di kamar ini. Setelah mengenakan baju koko dan sarung ia berjalan mengambil shaf di depan Nara.


Mereka melakukan sholat sunah berjamaah setelah selesai Diki memutar duduknya menghadap ke Nara, menangkup wajah istrinya lalu mendoakan sang istri, mengecup keningnya kemudian dengan perlahan ia melepaskan mukena Nara.


Dari Ia menunggu suaminya selesai mandi sampai sekarang jantungnya berdetak kencang, bahkan sekarang semakin kencang, ketakutan dan kawatir membuat tubuhnya membeku.


Mukena itu pun terlepas dari tubuh Nara. Diki menatap tubuh yang berbalut lingerie dengan tatapan berkabut, kemudian mengalikan tatapannya pada istrinya yang terlihat resah.


"Kamu kenapa Ra? tegang amat." katanya sambil terkekeh, gairahnya tiba-tiba hilang saat melihat keresahan wajah istrinya. Terpaksa ia harus mengunakan trik menggiring bola ke gawang, apa boleh buat ia menikahi gadis yang baru lulus SMU.


"Nara takut sama abang." jawabnya sambil tertawa melepas ketegangannya.


"Kenapa takut, sini gak usah takut, kita cuma duduk saja dan berbincang-bincang."kata Diki sambil mengajaknya duduk di bibir ranjang.


"Benar bang?" tanya Nara sambil menatap Diki dengan tatapan puppy eyesnya.


"Hem."


"Coba deh ceritakan sama abang, gimana kamu waktu masih SMU?" tanya Diki sambil tangan kanannya menggenggam jemari tangan Nara yang terasa dingin.


"Gak ada yang istimewa sih bang, berangkat sekolah diantar, pulang di jemput. Pernah sih diundang ulta teman di Club."


"Boleh sama daddy?


"Enggak bang, malah di marahi sama daddy."


Diki mengajaknya berbicara apapun, kadang memujinya sambil sedikit memberikan rasa nyaman dan sensasi menyenangkan hingga bisa mengajak sang istri bertualang bersamanya dengan alunan nafas dan detak jantung saling berirama membuat hanyut suasana, ruangan itu semakin panas dengan segala petualangan mereka. Suara detik jam yang berjalan tak mampu membuat mereka terusik.


Satu jam membuat Diki begitu bahagia dikecupnya kening istrinya lalu berbaring di sampingnya. Diki memiringkan tubuhnya menatap sang istri, disibak rambutnya, di belainya wajah yang cantik itu dan di peluknya hingga ia terlelap dalam kelelahan.


...****...


Suara Adzan membangunkan tidur Diki, ia menatap sebentar wanita yang tidur dalam pelukannya.

__ADS_1


Ia duduk lalu menurunkan kakinya, berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak lama kemudian ia keluar dengan berbalut handuk sebatas pinggang.


Diki berjalan menuju lemari untuk mengambil baju koko dan sarung lalu mengenakannya.


Ia menghampiri istrinya untuk membangunkannya,"Nara bangun, sholat subuh yuk."


"Hem, jam berapa?" tanyanya dengan suara seraknya sambil mengerjapkan matanya.


"Sudah subuh sayang." jawab Diki sambil menepuk pipi istrinya.


"Boleh nanti gak bang? mata gak bisa di bukak ni," katanya pelan lalu terdengar suara dengkuran halus kembali.


Diki menghembuskan nafasnya perlahan sambil menggelengkan kepalanya.


Ia kembali ke kamar mandi mengambil air wudhu. Ia pun keluar dan mulai sholat subuh sendiri, setelah selesai ia pun membangunkan sang istri lagi namun tak ada reaksi malah memeluk bantal yang di raih asal di depannya.


Selimut terlepas dari tubuhnya, membuat posisi tidur yang lucu membuat dia kembali terkekeh.


Diki berjalan kembali ke kamar mandi menyiapkan air hangat yang di berikan aromaterapi, ia pun keluar kembali berjalan menghampiri Nara yang tertidur pulas, di gendongnya dan dibawanya ke kamar mandi lalu di masukan tubuh Nara


kedalam bathub berisi air hangat.


Diki pun tertawa," habis kamu di bangunkan dengan lembut gak malah bangun tapi tidur lagi.


"Tapi itu kan karena abang Nara sampai gak bisa bangun."


"Kamu tadi malam nikmati juga kan kok protes sama abang sih."


"Iya."


"Abang kasih tahu kalau pingin bisa bangun subuh kamu harus terbiasa, nanti deh abang ajak lagi biar terbiasa, sudah mandi dulu aja, jangan lama-lama subuh sudah hampir habis."


"Iya bang."


tak lama kemudian ia pun keluar dengan handuk sebatas dada, ia pun keluar dan berjalan ke lemari pakaian lalu membukanya, Ia menghelah nafas panjang melihat baju itu.


"Ra, sampai kapan kamu berdiri di situ?" tanya Diki yang sedang rebahan di atas ranjang


"Abang, kenapa sih mama kasih baju-baju ginian doang."

__ADS_1


"Lah mana abang tahu Ra? coba tanya mama."


"Mana bawa hp aku bang?"


"Nanti pakai hp abang, sudah cepat pakai yang itu dulu Ra."


"Aku tuh malu sama abang."


"Saat ini kamu juga sama Ra, sudah pakai yang ada aja dulu, abang gak lihat Ra." kata Diki sambil mengerakan tubuhnya memunggungi Nara."


"Bohong, tadi malam abang juga sama katanya gak lihat tapi tetap lihat."


"Ra!!"


"Iya, bang."


Nara pun memakai baju yang disiapkan mamanya dengan berat hati, lalu ia mengenakan mukenanya dan menunaikan solat subuh setelah selesai solat subuh ia pun enggan melepas mukenanya.


Diki yang pura-pura tidur membuka matanya dan menoleh ke arah istrinya yang masih duduk di sajadahnya tidak melakukan apa-apa itu.


"Ra, sudah selesai sholatnya?"


"Sudah bang."


"Kenapa gak di lepas mukenanya."


"Cek, pakai nanya pula abang ni."


Diki tertawa ia bangun dan beranjak turun dari ranjang menghampiri istrinya lalu duduk di bawah di samping istri sambil memeluknya," Apa gak gerah nih pakai mukena begini terus?"


"Ya gerah bang."


"Makanya di lepas aja, yang lihat kan cuma abang."


"Iya sih tapi kan Nara masih malu."


"Abang kasih tahu ni Ra, kamu kalau pakai pakaian begitu gak papa Ra justru itu pahala, sudah lepas dulu mukenanya sini biar gak gerah."


"Iya."


Ia pun melepas mukenanya, lalu melipatnya dengan rapi.

__ADS_1


Trimakasih telah berkunjung dan membaca karya saya, dukungan anda sangat berarti buat saya, selalu dukung saya dengan memberi Like dan koment agar lebih semangat lagi untuk update dan sehat selalu serta di berikan kelancaran rizki bagi anda semua.


__ADS_2