Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Percobaan Penculikan


__ADS_3

Bara dan Ratih telah bersiap diri untuk pergi ke Amerika Serikat untuk mendampingi Bara kuliah di sana juga menghindari dari kejahatan Cinta ibu tiri Ratih, juga termasuk adik tiri dari almarhum ibu kandung Ratih.Semua telah di siapkan Visa dan Paspor Ratih pun sudah jadi.


Koper-koper telah di masukan bagasi mobil. Angga sendiri yang mengantarkannya. Mereka berpamitan pada Rika diciumlah punggung tangan Rika


"Bar, kalau sudah sampai jangan lupa telpon ya." pesan Rika pada putranya.


"Iya, Bun pasti begitu sampai Apartement langsung telpon, Bunda."


"Rat, jangan pergi kemana-mana sewaktu kamu ada Bandara.Tunggu sampai tiba di sana jangan sampai ada kesempatan orang lain itu itu melukai kalian."


"Sudah ni, ayo cepat berangkat, nanti terlambat loh."


"Bun, kita berangkat ya," kata Bara dan Ratih serempak.


"Bun, Ayah berangkat ya." pamit Angga pada istrinya.


Mereka pun masuk mobil dan meninggalkan rumah kediaman Angga membela jalanan ibu kota menuju Bandara.


"Kalian pakai maskernya kalau sudah sampai Bandara, keselamatan kalian lebih penting, jadi untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak di inginkan." kata Angga sambil fokus dengan kemudi.


"Iya, Yah."


Mobil Angga pun berhenti di tempat parkir Bandara. Mereka pun turun dan mereka menuju penerbangan internasional.


Dalam perjalanan menuju ke pesawatnya tiba-tiba ada orang yang menabrak mereka, lalu tangan Ratih di cengkram seseorang, kemudian menyeret Ratih pergi dari tempat itu. Bara melihatnya dan berusaha menyusul pria itu, namun tak menemukan. Bara terus mencari di mana pria tersebut berada, hingga dia menemukan jejak beberapa barang-barang tercecer di jalan.


Bara dan Angga menelusuri jejak itu, hingga nampak dari kejauhan Ratih yang sedang duduk di tanah kelihatan ketakutan. Sementara itu, Ayah Haidar berdiri menghunus belati, di depan orang yang telah terkapar bersimbah darah.


Bara berlari lalu memeluk Ratih sambil bertanya, "Apa yang terjadi?"


"Aku yang menikamnya Bara, Aku!" katanya sambil menangis memeluk Bara.


"Bawa pergi dia Bara! Ayah yang menikamnya.Tolong Bar jangan kau tunda lagi, pergi!" katanya sambil menyorot matanya.

__ADS_1


"Pergi lah Bara! sebelum orang berdatangan, biar ayah yang mengurus Pak Haidar."


Bara pun pergi dengan menuntun istrinya sambil berbisik, "Rat, jangan sia-sia kan pengorbanan ayahmu, biar Ayah Angga yang mengurusnya."


Mereka pun pergi dari tempat itu. Sedangkan Angga sibuk melakukan panggilan.Tampak Angga berbicara sebentar lalu mendekati Pak Haidar.


"Kita akan menunggu Aiko kemari," kata Angga sambil menatap Pak Haidar dengan tatapan tak terbaca.


Tak lama kemudian mobil ambulance datang, seseorang turun dan berjalan kearah mereka. Orang itu yang ternyata bernama Aiko berbicara pada mereka, sementara itu, anak buahnya sudah mengangkut pria yang terluka.


"Paman Haidar taruh pisau itu di sini, akan ku urus semuanya, kalian pergi saja," katanya sambil menyodorkan kantong plastik hitam yang terbuka, lalu Haidar menaruh pisau kedalam kantong itu dan Aiko pun masuk kedalam mobil ambulance, setelah anak buah membereskan semuanya, kemudian mereka pergi.


"Mari kita pulang, Pak," katanya sambil menuntun Pak Haidar masuk kedalam mobil dan mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, Bara sudah berada dalam pesawat. Duduk bersama istri yang tak berhenti menangis. Bara menasehati istrinya "Ratih percayalah tak akan terjadi apa-apa, berdoalah saja supaya orang yang tertusuk itu bisa diselamatkan." Ratih mengangguk dan memeluk lelaki yang menjadi suaminya itu. Pesawat pun lepas landas, meninggalkan Bandara Sukarno-Hatta.


...****...


Angga sudah sampai di kediamannya. mobilnya berbelok masuk kedalam Halaman rumah besar itu, tak lama kemudian Angga keluar dengan menuntun Pak Haidar, masuk kedalam rumahnya. Angga mempersilakan Pak Haidar untuk duduk lalu memanggil Bik Darsih, untuk membuatkan minuman.


Angga mulai curiga bahwa pak Haidar mengalami shock, setelah kejadian tadi, sampai pak Haidar jadi seperti ini.


Angga menelpon istrinya, menceritakan tentang pak Haidar, Rika berjanji akan segera pulang untuk memeriksa pak Haidar.


"Pak baiknya istirahat saja dulu," kata Angga menatap dengan rasa sedih.


"Saya tidak apa-apa, Pak saya masih merasa lemas saja, percayalah Pak.


"Syukurlah, Pak saya senang mendengarnya.Tapi alangkah baiknya bapak istirahat saja dulu. Ini pak minumlah bik Darsih telah membuatkan untuk anda." kata Angga sambil duduk di sofa berhadapan dengan Pak Haidar


"Iya, Pak terimakasih." jawab pak Haidar dengan sopan


Hari sudah semakin terang untuk berangkat ke kantor sekarang. Angga memutuskan untuk tinggal di rumah menanti perkembangan keadaan Pak Haidar paska kejadian itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mobil masuk dan berhenti di halaman rumah. Rika keluar dari dalam mobil berjalan masuk kedalam rumahnya setelah mengucapkan salam.


Rika berjalan menghampiri suaminya, "ada apa sebenarnya? tolong ceritakan padaku." Lalu Angga menceritakan apa yang dilihatnya.


"Duduk Bun, dari tadi berdiri aja sih." katanya sambil menarik tangan Rika sehingga dia terduduk di sofa.


"Cek, Bunda itu kawatir terjadi apa-apa."


"Mereka tetap berangkat ke Amerika Serikat agar mereka aman,Bun. Mereka tak akan aman jika mereka masih di sini. Itu pun permintaan Pak Haidar."


'"Syukurlah, Yah kalau begitu, Bunda kawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan terjadi."


"Ya sudah Bunda istirahat saja sana," perintah Angga.


Namun sebelum Rika berdiri dari duduknya terlihat pak Haidar keluar dari kamarnya dan tersenyum pada Rika.


"Duduk sini Pak," pinta Rika pada Haidar, Dia pun duduk di depan Rika dan Angga


"Begini Pak, Ratih itu kan juga anak menantu kami segala apapun yang terjadi pada mereka kami juga harus tahu, jadi tolong ceritakan apa yang terjadi pada Ratih dan Bapak."


"Bu Rika, laki-laki yang terluka itu akan melecehkan putriku, aku tadinya akan memukul tengkuknya, Ratih sudah membenamkan belati itu ke perut orang tersebut. Aku tak tahu Ratih mendapatkan belati dari mana, aku tak ingin Ratih menjadi tertuduh jadi lebih baik saya yang mengantikannya."


"Bapak tidak usah kawatir orang itu tidak terluka para tusukan itu tidak fatal insyaallah tak akan terjadi sesuatu yang membuat anda menjadi tertuduh. Aiko akan menangani orang itu, terus sekarang mau kemana?"


"Saya mau pulang kerumah kontrakan kasihan Vino kalau dia pulang ke rumah gak ads orang."


"Ya sudah biar mas Angga yang mengantarkan anda," kata Rika sambil menoleh suaminya.


",Gak usah, Bu, Pak saya naik taksi saja."


"Ok! saya pesankan Pak." jawab Rika.


Melihat keadaan Pak Haidar baik-baik saja Rika pun memesan taksi online untuk Pak Haidar, sebelum Pak Haidar berpamitan pulang Rika berpesan padanya jika terjadi sesuatu, misalnya resah, gelisa dan susah tidur karena kejadian tadi maka dia menyuruh Pak Haidar untuk menelponnya.

__ADS_1


"Rika pun memesan taksi dan pak Haidar pun pulang ke rumahnya.


Pak Haidar pun sampai di rumah kontrakannya, dia langsung masuk kedalam kamar saat ini dia begitu pasrah atas kehidupannya.


__ADS_2