
Bara terkekeh dan langsung membawa box kayu ke kamar tamu sendiri, Rika mengikuti dari belakang, setelah sampai di letakan dekat ranjang.
Rika menyerahkan bayi mungil itu ke Ratih, untuk disusui. Dia membatu sang menantu agar si bayi bisa langsung dari sumbernya, setelah keyang diletakkan bayi itu ke box.
"Bun kemana Rena, kok gak kelihatan," tanya Bara pada Bundanya itu.
"Ia masih tidur, seperti kemarin di pesawat ia gak bisa tidur," jawab Rika
"Biarkan saja, Bi. Kasian kalau dibangunkan, nanti saja kalau dia sudah bangun baru di kasih tahu," saran Ratih pada suaminya itu.
"Oh iya, Bar. Kamu pesan nasi dan kue antar ke rumah yatim piatu Tuan Abraham.
"Baik, Sekarang Bun?" tanyanya
"Tidak tahun depan," kata Rika sambil pergi keluar dari kamar mereka.
Bara terkekeh, ia mengambil handphone dan mulai menekan nomer dan memesan makanan pada rumah makan langganannya yang terbilang enak setelah itu menoleh pada sang istri yang mulai tertidur karena kelelahan, ia menghampiri putranya yang tengah tertidur pulas.
Bara keluar dari kamarnya bergabung dengan kakek dan neneknya. Raka melambaikan dan Bara menghampiri sang kakek, begitu dekat ia sang kakek memeluknya erat. "Selamat yaa, kamu sudah jadi Ayah sekarang harus lebih dewasa yaa, saling membantu dalam mengurus anak," nasehat kakek.
"Tentu Kek, trimakasih," ucapnya.
Waktu berjalan begitu cepat beberapa teman, sahabat, dan kerabat mengucapkan selamat pada Bara, kegembiraan mewarnai seluruh keluarga.
__ADS_1
Rena yang sudah bangun segera ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian kemudian keluar kamar dan duduk di depan meja makan. "Bun kemana kak Ratih kok gak kelihatan sih?" tanyanya sambil mengisi piring dengan nasi dan lauk dan sayur.
Mereka ada di kamar tamu," kata Rika sambil tersenyum.
"Mereka? ada Bang bara juga? Kenapa sudah suang masih tidur?" tanya Rena beruntun. Rika tertawa kamu sendiri kenapa bangun siang?" tanyanya pada Rena.
"Itu karena kemarin aku gak bisa tidur," jawabnya sambil menyuapkan makanan di mulutnya.
"Emang kamar Bang Bara kenapa, Bun?" tanyanya kembali pada Bundanya.
"Matras masih kotor, karena kena darah habis melahirkan," jawab Rika.
"Emang siapa yang melahirkan, Bun?" tanyanya sambil terus menyuapkan makanan di mulutnya. Namun, tiba-tiba dia berhenti saat ingat sesuatu. "Apa Kak Ratih melahirkan?" tanya Rena pada Bundanya dan Rika hanya menggangguk. "Apa di sini?" tanyanya kembali dengan penuh penasaran. Lagi-lagi Rika mengangguk. Rena terseyum sambil berdiri dan akan meninggalkan tempat duduknya, tetapi suara sang bunda mencegahnya. "Habiskan makan mu dulu kakakmu dan putranya tidak kemana-mana," perintahnya penuh dengan penekanan.
Rena pun kembali makan dengan tenang sambil memendam rasa penasaran di hatinya. Setelah selesai ia segera berdiri dan berlari menuju kamar tamu untuk melihat keponakan yang baru di lahirkan.
Rena membuka pintu secara perlahan, terlihat sang kakak ipar masih tertidur, karena tak ingin membangunkan Ratih, ia pun mengendap-endap masuk keruangan itu.
Rena berjalan perlahan menuju box tempat tidur sang bayi, berdiri dan melihat sang ponakan yang masih terpejam matanya, sesekali menggeliat begitu lucu dipandangan Rena.
"Hello, ini unti Rena maaf baru menyambutmu, karena kemarin unti tidak bisa tidur.
Bayi itu menggeliat kembali dan tersenyum membuatnya ingin menggendong apa daya ia tidak berani menggendong bayi alhasil ia hanya bisa melihatnya saja.
__ADS_1
Rena menatap sang bayi penuh kekaguman, wajah perpaduan dari kakaknya Bara dan Ratih iparnya membuat ponakannya itu terlihat sangat tampan.
Terdengar suara pintu terbuka sang kakak masuk dengan membawa obat-obatan untuk sang kakak ipar, Rena menoleh dan tersenyum pada Bara. "Selamat Abangku sayang, Anda sudah tua," katanya sambil terkikik lirih. Bara menghampiri sang adik mengunyel-nguyel rambut lurus adiknya hingga berantakan. "Trimakasih adikku yang cantik dan manja, Abang relah di sebut tua untuk mendapatkan si tampan ini," katanya terkekeh melihat bibir manyun adiknya karena ia berhasil membuat rambut sang adik menjadi berantakan dengan rasa dongkol Rena pun memperbaiki tatanan rambutnya dengan jemari tangannya lalu memukul punggung sang kakak yang tengah memunggunginya.
Bara tertawa keras membuat istrinya terbangun, tatapan mata Ratih tertuju pada Rena, dengan suara seraknya ia pun menyapa sang adik ipar. "Sudah bangun, Dek." Rena dan Bara tertawa mendengar pertanyaan yang janggal.
"Kak Ratih juga baru bangun," kata Rena terkikik. Ratih terseyum menyadari pertanyaannya yang lucu.
Bara menghampiri sang istri. "Makan yaa, aku ambilkan." Ratih mengangguk. Bara keluar dari kamar dan tak lama kemudian masuk kembali dengan membawa sepiring nasi beserta lauk pauknya juga segelas air putih. diletakkan air minum Ratih di atas meja, lalu ia menyuapi sang istri, sambil menatap lekat wanita yang baru saja berjuang melahirkan putranya itu. Rena yang melihat kemesraan kakaknya pun tertawa sambil berkelakar, "Aku keluar deh gak sanggup lihat kalian membucin, hatiku patah berserakan seperti parsel yang susah ditata kembali." Rena berlalu dari kamar kakaknya dengan derai tawa yang masih terdengar oleh mereka.
Rena berjalan ke apartemen sebelah, dan masuk tanpa ucapan salam matanya melengok ke sana ke mari mencari sesuatu. Di ruangan tengah yang luas dan terhampar karpet bulu itu terlihat sang kakek tengah duduk bersandar pada dinding ruang itu sambil menikmati kue brownies buatan sang bunda. Dia menghampiri sang kakek serta duduk di sebelahnya sambil menyomot sepotong bronis dan memakannya dengan perlahan sambil bertanya, "Kok gak lihat kak Vino kek kemana?"
Raka menatap cucunya itu lalu terkekeh.
"Sudah keluar dari tadi pagi, kamu ketinggalan banyak, dasar gadis molor!" umpat sang kakek masih dengan deraian tawanya.
Rena mengerucutkan bibirnya lalu merebahkan tubuhnya di hamparan karpet dengan kepala di pangkuan kakeknya. "Aku kemarin itu gak bisa tidur, Kek. Alhasil aku pun gak bisa membuka mataku saat selepas subuh," katanya sambil terkekeh.
sang kakek membelai rambut cucunya dan berkata, "Doakanlah kakekmu sehat, hingga dapat melihatmu menikah mengandeng tanganmu untuk kuberikan cucu menantuku, tak sabar rasanya menunggu empat sampai lima tahun kedepan."
Rena terseyum. "Kakekku akan sehat-sehat saja, akan selalu tampak muda di mataku dan tertampan di dunia."
Raka tertawa, sambil menatap sendu sang cucu. "Hanya engkau yang kakek tunggu semoga saja Allah memberikan usia yang panjang yang bermanfaat dan bisa melihatmu menikah, jika tidak kau harus selalu bahagia."
__ADS_1
"Kakek jangan bicara begitu, aku jadi sedih, hari ini hari bahagia karena kakek mendapatkan dua cicit laki-laki, dan tinggal menunggu kak Anin akan memberikanmu cicit perempuan apakah laki-laki."