Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Kencan Rafa dan Anin


__ADS_3

Setelah makan dan membayar semua makanan yang di pesannya Diki dan Nara kembali menikmati deburan air yang datang silih berganti menerjang kaki mereka sambil menunggu senja datang mengantikan sang surya.


Berjalan bergandengan tangan dan bersendagurau memberikan kehangatan tawa dan senyum serta mengukir kisah yang mungkin hanya bisa di ingat dikemudian hari, tak mungkin bisa mengulangnya kembali.


Namun, akan menambah kisah yang lebih menarik dan berkesan di hati mereka berdua. Adzan Ashar berkumandang, mereka menunaikan shalat ashar berjamaah di masjid dekat area pantai tersebut.


Setelah itu mereka kembali ke pantai untuk menikmati sunset. Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang di perjalanan mereka berhenti di masjid untuk melaksanakan sholat magrib setelah itu mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah mereka.


...----------------...


Di kediaman Raka, Rafa dan Anin pun berpamitan pulang ke apartemen mereka, di saat matahari sudah mau tenggelam, sementara Angga dan Ammar memutuskan untuk tinggal menemani sang Ayah, esok harinya baru kembali sekalian langsung berangkat kerja.


Rafa menggamit pinggang san istri, membukakan pintu mobil lalu memasangkan sabuk pengaman, setelah itu menutupnya, kemudian ia berjalan memutar dan masuk di sisi pintu lain dan duduk dibelakang kemudi, memasang sabuk pengamannya lalu menarik tuas dan menjalankannya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah kakeknya.


"Mau lansung pulang apa kita jalan-jalan dulu?" tanya Rafa pada istrinya.


"Jalan-jalan kemana?"tanya Anin.


"Kemana saja terserah kamu, aku akan jadi sopir yang setia mengantar kemana pun yang kau mau," katanya masih fokus dengan kemudinya.


"Tanggung, Fa. Sudah mau magrib, lagian kamu kalau mau ngajak keluar kenapa gak dari tadi, dek Nara saja sudah berangkat jam 10.00 tadi pagi.


Rafa terkekeh. "Lagian kalau memang kamu ingin kita keluar dari tadi pagi kenapa gak bilang?" protesnya


Anin mendengus dan menatap tajam pada suaminya itu yang sekarang super mesum itu. "Gimana aku mau bilang kamu aja tidak berhenti di atas ku," kata sambil mencebikan bibirnya.


Rafa tertawa dengan keras. "Tapi kamu kan suka sih Nin sampai tidak berhenti mendes@h."

__ADS_1


Semburat merah di wajah Anin sekilas terlihat dan buru-buru dia membuang mukanya dan melihat keluar di kaca jendela. "Benar nih gak mau kemana-mana? Kalau mau kita cari masjid dan sholat di sana, kemudian terserah Mama deh mau kemana." kata Rafa masih fokus dengan kemudinya.


Anin langsung menoleh dan menatap ke arah suaminya itu, Rafa hanya mengulas senyum di bibirnya. "Papa, panggil Papa, Mam. Sudah saatnya kita mengubah panggilan kita 'kan." Anin tersenyum.


"Ah, iya kamu betul ... Pa," jawab Anin ragu-ragu.


"Apa Mama mau makan sesuatu, sambil menunggu waktu Magrib?"


"Boleh tidak beli cilok?" tanyanya pada Rafa, pria itu menggeleng. "Jangan Cilok, Mam. Gak baik buat anak kita," katanya tenang.


"Kalau gak boleh kenapa nanya?" sarkas Anin.


Rafa kembali terkekeh sambil tangannya menyentuh perut buncit istrinya. "Dek dari tadi Mama marahin Papa melulu, Mama kalau mau makan bakso saja deh, tapi jangan pedas-pedas yaa, apa sekarang kita cari penjual bakso?" kata Rafa pada Anin


"Di depan kampus kita itu loh, Pa. Baksonya enak." jawab Anin dengan wajah ceria.


Merekapun keluar dari mobil dan masuk kedalam kemudian mencari tempat duduk yang kosong, Rafa memesan dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh.


Mereka pun makan dengan tenang sesekali Rafa menatap sang istri lalu tersenyum. "Kenapa lihat-lihat? sudah sana makan saja sana!"kata Anin tanpa menoleh suaminya itu. Rafa tersenyum.


"Semenjak kamu hamil bawaannya jutek melulu sih, Mam?" tanyanya pada Anin.


"Kamu dulu itu seperti apa?" tanyanya pada Rafa.


"Ya, kan dulu, Mam. Sekarang, 'kan bedah, paling sayang sama Mama," sahutnya sambil tertawa


"Papa, itu gak pantes nggombal," sarkasnya dan Rafa pun hanya tersenyum. "Ooh, Mama sukanya to thepoint yaa?" tanya Rafa dengan seyuman menyeringai.

__ADS_1


"Glek!"


Anin menelan salivanya, hawa panas seolah menerpa wajahnya. "Yaa, bukan begitu, Pa. terlihat aneh aja jauh dari biasanya," katanya pelan.


"Itu karena Papa lagi ingin didik Mama, biar jadi istri yang baik buat Papa, gak keluyuran di Club," kata Rafa santai.


Tanpa terasa makanan mereka telah habis dan terdengar Adzan magrib, membuat mereka segera membayar makanan mereka lalu pergi ke masjid guna untuk menunaikan kewajiban ibadah sholat magrib. Setelah selesai Rafa pun menjalankan mobilnya ke pasar malam.


Di sana Rafa manjakan Anin dengan berbagai macam makanan kaki lima sayangnya hanya makanan tertentu yang diperbolehkan dibeli.


Anin sedikit merasa terkengkang tetapi ia masih bisa menimati beberapa makanan yang diinginkanya.


Mereka pun puas melihat-lihat pasar malam lalu Anin dan Rafa kembali melajukan mobilnya menuju ketempat lain, kali ini dia berada di alun-alun di sana mereka pun berwisata kuliner beberapa makanan di jual pedagang kaki lima mereka membelinya.


Setelah menikmati jajanan di Alun-alun, Rafa mengajak Anin makan di kedai sederhana yang menyajikan menu nasi goreng dan mie goreng, macam- macam varian nasi gorengnya, ada nasi goreng kambing, nasi goreng seafood, nasi goreng ayam panggang.


Rafa memilih nasi goreng seafood dimana di dalamnya ada toping kepiting soka, tanpa bertanya pada Anin ia memilih Nasi goreng seafood, dan teh hangat, untung saja Anin jenis orang yang tak pernah pilih-pilih makanan.


Makanan mereka telah siap dan di antar di meja mereka makan dengan lahap dan meminum teh hingga habis. setelah mengisi perut mereka pun pulang ke rumah dengan perut kenyang.


Hari semakin larut, Rafa dan Anin masuk kedalam mobilnya, Rafa pun melakukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tak seberapa lama, akhirnya Rafa dan Anin sampai di area parkir Apartemen.


Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan menuju lobby lalu masuk kedalam lift yang membawanya ke apartemen mereka, setelah sampai mereka pun masuk dalam kemudian menutup pintunya,. karena terasa lelah mereka pun langsung tidur di kamar mereka. Malam merayap perlahan menemani insan yang telah terlelap dalam kepenatan. membawa mimpi-mimpi indah, untuk dikemas keesokan harinya.


Suara jangkrik bersenandung memberikan kemeriahan dan warna tersendiri digelapnya malam tak sanggup membuat dua insan membuka mata sekedar menikmati hembusan angin malam.


Rafa dan Anin tidur saling berpelukan memberikan kehangatan satu dengan yang lainnya.

__ADS_1


Waktu terus berjalan seiring suara nafas dan detak jantung, membawa mereka ke dua mimpi yang sebentar mereka singgahi.


__ADS_2