
Pagi-pagi sudah heboh pasangan Diki dan Nara. Saat dengan antusiasnya Nara menyiapkan banyak makanan untuk di bagikan kepada pasien-pasien kecil di rumah sakit satu kantong plastik besar berisi makanan ringan di letakan di atas meja.
Diki yang melihatnya pun bertanya, "Apa ini, Ra?"tanya Diki pada Nara
"Makanan, Bang. Untuk anak-anak di rumah sakit.
"Makanan apa?"tanya Diki sambil berjalan ke arah meja lalu di bukanya bungkusan plastik besar itu dan di dalamnya banyak makanan ringan, Diki mengeryitkan dahinya lalu menatap Nara masih sibuk dengan tas selempangnya."Ini yang akan kamu bawa?" tanya Diki
"Iya, Bang. Kenapa?" tanya Nara pada Diki yang masih termangu menatap isi dari kantong plastik. Diki menghelah nafas, menutup kantong plastik itu lalu menghampiri dan merangkul bahu istrinya, kemudian ia pun menjelaskan, "Makanan yang kamu bawa ini tidak sehat sayang, kalau orang sehat tidak apa di bawakan makanan seperti itu, Ini sakit loh, tubuh akan sulit menerima kalau sedang sakit, sudah jangan dibawa kamu makan aja sendiri sedikit demi sedikit."
"Eh? Iya, Bang. Lupa kalau yang di kunjungi anak-anak sakit." katanya terkekeh, Diki pun tertawa dengan tingkah konyol Nara.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang." ajak Diki dengan tetap merangkul istrinya dan berjalan keluar rumah, tak lupa Diki mengunci pintu rumahnya ia pun berjalan menuju keluar pagar rumah nya, dari tadi pagi mobilnya sudah di keluarkan di luar pagar rumahnya. maklum mereka hanya berdua, sengaja tidak memperkerjakan satpam dan assisten rumah tangga. Semua mereka kerjakan sendiri, saling berbagi pekerjaan. Diki selalu bertanya pada pada istrinya, apakah dia membutuhkan Asisten rumah tangga. Nara selalu bilang tidak, karena ia ingin berdua dengan suaminya saja. Diki hanya tertawa mendengar jawaban dari istrinya itu.
Diki mengunci pintu pagar rumahnya, lalu masuk dalam mobil, Nara sudah berada di sampingnya, lalu Diki menarik tuasnya dan menjalankan dengan kecepatan sedang. 30 menit kemudian Diki telah sampai di area parkir rumah sakit.
Mereka keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki rumah sakit menuju kamar rawat Felisah.
"Assalamualaikum, Feli," Sapa Nara dan Dokter Diki.
"Wa'alaikumsalam, Kak Nara. Feli kangen, " teriak gadis kecil itu.
"Bagaimana, apa masih ada keluhan?" tanya Dokter Diki pada Felisah pasiennya.
__ADS_1
"Ada, katanya, Pak Dokter mau ngajak kak Nara kemari kalau Feli sudah sembuh, kok kenapa baru sekarang bawa kak Naranya, Dok?"
Dokter Diki tersenyum dan mengelus rambut pasiennya," Sekarang kan kak Nara sudah di sini." gadis itu mengangguk lalu Nara mendekati gadis kecil itu dan tersenyum."Maaf ya, Kak Nara baru bisa ke sini soalnya kemarin masih sibuk dan Felisahkan, harus istirahat dulu biar badannya kuat nanti kalau belum kuat, Kak Nara ganggu, jadi di marahi Pak Dokter, kenapa di marahi karena Felisah butuh istirahat."
"Hi..hi..hi.. Habis Felisah kangen sama Kak Nara."
"Ya, kan sekarang ketemu dengan kak Nara, gimana? Apa Feli senang?" tanya Nara.
"Seneng banget Feli ketemu sama kak Nara."
"Maaf ya, tadi gak bawa oleh-oleh.
Nah sekarang Feli tidurnya,"kata Nara pada Feli. Feli pun mengangguk.
Nara dan Diki keluar dari ruang perawatan Felisa berjalan menuju ruang kerja Diki. Mereka berjalan sambil bercanda. Nampak dari kejauhan seorang wanita menunggu di depan pintu kantornya. setelah begitu dekat ia tersenyum pada mereka.
"Dokter Anita, ada perlu apa di sini? tanya Dokter Diki.
"Maaf aku perlu berbicara dengan istrimu," kata Dokter Nara.
"Buat apa? Kau bisa'kan bicara di sini?!
tanya Dokter Diki dengan sedikit meninggi. Nara menyentuh tangan suaminya.
__ADS_1
"Bang, tidak apa-apa aku akan bicara dengan Dokter Anita, terkadang perempuan memang ingin bicara dari hati-hati entah itu kawan atau pun lawan,"kata Nara pada suaminya.
"Tapi, Ra?" gumam Diki menatap cemas pada istrinya. Dokter Anita tertawa. "Jangan kawatir aku tidak akan mengajaknya di ring tinju." kata Dokter Anita pada Dokter Diki. Nara pun tertawa." Mungkin kak Anita mau ngajak aku main tebak kata." katanya sambil mengerlingkan matanya pada suaminya. Anita pun tertawa mendengar candaan Nara.
"Ayo, kak kita bicara dimana nih enaknya?" tanya Nara pada Dokter Anita.
"Di sana ada sebuah kafe, kita ke.sana saja."ajak Anita pada Nara.
"Baiklah, Ayo,"jawab Nara sambil mengikuti langkah kaki Dokter Anita. Mereka berjalan keluar rumah sakit dan berjalan di sebuah kafe yang letaknya searea rumah sakit. Mereka duduk di kursi yang menghadap taman mini di depan kafe.
"Ok! Dokter Anita mau bicara apa denganku? Akan aku dengarkan." kata Nara pada Dokter Anita dengan tersenyum.
"Setelah melihat interaksi, antara kamu dan Diki, aku baru sadar bahwa yang pernah terjalin antara aku dan Diki tidaklah begitu kuat. Usiaku diatasnya dua tahun. Aku wanita yang terbiasa hidup bebas, sejak orang tuaku bercerai, bahkan aku tak percaya lagi dengan cinta saat bertemu dengannya. bayangkan, Ra. Aku bebas dia tak mau menyentuhku dan menginginkan ikatan pernikahan baru melakukan itu. Namun ia baru bisa menikahi setelah lulus dari spealisnya. Alhasil aku selingkuh, tak kukira ia memergokiku dan pergi. Aku menyusulnya kemari ku pikir aku bisa memperbaiki hubunganku dengannya ternyata tidak. Dan kamu adalah sosok yang komplit buat Diki, dan aku kalah, maaf telah menyakiti hati mu waktu itu."
Nara menghelah nafas panjang dan berkata," Kak Anita, ini bukan masalah kalah atau menang, akan tetapi ini kita berjodoh atau tidak, sekuat apapun cinta yang belum halal jika tidak berjodoh pasti lepas. Aku sudah memaafkan kakak, bukan karena kakak kalah ataukah menang tapi memang harus memaafkan bukan, tidak ada yang salah pada orang jatuh cinta lalu mencintai, yang salah adalah memupuk cinta, pada orang yang haram untuk sekedar difikirkan. Aku tahu bagaimana susahnya menghapus orang yang melekat di hati kita, namun kenyataannya kita harus melepaskan bukan, karena akan melukai hati semakin dalam dan dalam. Aku berdoa kakak menemukan sosok yang lebih baik segalanya dari kak Diki karena ...."
"Karena apa dek Nara?"
"Karena saya dia suamiku," katanya sambil tertawa. Dokter Anita memutar matanya jengah.
"Kenapa? Kak garing ya."
"Iya, sudah kau jemur beberapa bulan? hingga lelucon mu itu tak mampu membuatku tertawa." kata Anita menimpali Nara. Dan mereka tertawa bersama.
__ADS_1
"Aku dengar kakak mengadopsi bayi laki-laki yang mengalami penyakit jantung bawaan, apa benar itu?" tanya Nara pada Dokter Anita.
"Iya kau benar, apa Diki yang bercerita?" tanya dokter Anita dan Nara hanya mengangguk