
Vino yang sudah siap dari tadi, mondar- mandir di ruang tamu, setiap kali melihat jam dinding padahal baru semenit yang lalu dia melihatnya.
kemudian ia duduk di sofa lalu berdiri lagi mondar-mandir lagi hingga Haidar pusing dibuatnya. "Vino tunggu aja! atau kamu ingin ayah mengantarmu kesana?" tanya Haidar pada putranya itu.
"Boleh Yah, tolong aku di Antar ke sana!" pinta Vino.
"Ok! Ayo kita berangkat apa tidak kau telpon dulu agar tidak selisih jalan,"
"Baik, aku telpon dulu ya, Yah," kata Vino
Vino melakukan panggilan telepon pada Angga lalu terlihat berbicara sebentar kemudian mengakhiri panggilan lalu menoleh ke Ayahnya. "Mereka berangkat agak siang Yah, vino di suruh ke sana, Yah," katanya pada ayahnya.
"Baiklah, Ayo berangkat sekarang!" kata Haidar pada anaknya, ia bangkit dari duduknya berjalan mengambil kunci mobil yang ada di meja kamarnya, lalu berjalan keluar menuju garasi yang di ikuti oleh Vino.
Vino menaruh kopernya dalam bagasi mobil, ia membuka pintu garasi sementara Haidar memanasi mesinnya dulu sambil menjalankan keluar dari garasi, Vino menutupnya kembali lalu masuk kedalam mobil yang kemudian berjalan membela jalanan Jakarta.
setengah jam berlalu dan mereka sudah sampai di pelataran halaman rumah Angga lalu mereka keluar dari mobil, lalu masuk kedalam rumah Angga setelah mengucapkan salam pada penghuni rumah, Haidar bercakap-cakap sebentar lalu berpamitan setelah menitipkan putranya pada mereka untuk pergi ke Boston. Haidar sendiri tidak bisa ikut karena dia ada pertemuan dengan kliennya di perusahaannya yang ada di Surabaya untuk beberapa hari.
Haidar keluar dari tempat itu, ia masuk kedalam mobil, lalu berjalan dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.
"Ayah Angga ini kita mau berangkat jam berapa?" tanya Vino
"Sebentar lagi Vin kita akan berangkat, duduk di sana dulu makan apa dulu di sana, Ayah tahu kamu ingin segera sampai tetapi harus bisa menahan diri, yaa," kata Angga
"Ya, Ayah Vino akan belajar tenang," kata nya sambil mencomot bakwan bikinan mbok Darmi
Setelah siap semuanya mereka pun masuk kedalam mobil, Vino dan Rena duduk di bangku belakang, karena bangku tengah untuk kakek Raka dan Nenek Rima.
mobil pun berjalan meninggalkan rumah kediaman Angga menuju rumah Raka, mereka pun sudah siap di depan dan langsung masuk ke dalam kemudian berjalan lagi menuju Bandara, sesampainya di sana mereka langsung masuk ke ruangan pemeriksaan setelah itu masuk ke pesawat dan menempati tempat duduknya masing-masing.
Vino tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya, Rena hanya diam saja ia tak mau Vino berprasangka yang bukan-bukan.
__ADS_1
"Ren, kok diam saja saja sih, bicara dong, ngomong dong," pinta Vino
"Males Kak Vin, ujung-ujungnya nyebelin tahu," jawab Rena.
"Maaf deh, aku 'kan sudah minta maaf Ren," katanya memohon.
"Gak bisa kak, terlalu sakit hati, sudah sana gak usah panggil-panggil namaku," katanya dan Vino hanya bisa diam memandang gadis itu, lalu kembali kembali memfokuskan pandangannya keluar jendela kaca. Namun, ratapannya kosong, tak ingin memikirkan orang yang sudah meninggal, yang dia pikirkan entah bahkan dia sendiri mungkin tidak tahu.
Akhirnya mereka terlelap dan terbangun ketika akan melakukan sholat.
setelah sholat mereka pun terjaga dan rasa kantuk seolah tak menyerang kembali.
"Ayolah Rena, berbicaralah denganku rasanya seperti kita tak saling kenal satu sama yang lainnya."
"Aku lagi malas, Kak Vin. Tidurlah saja, mungkin jika kau tidur akan bertemu dengan Gloriamu itu," katanya tanpa menoleh pada vino.
"Andai bisa begitu, aku akan tidur sepanjang hari, untuk menjelajahi mimpi agar bertemu dengannya, sayangnya itu tidak terjadi padaku," katanya sambil terkekeh.
Vino terkekeh dalam duka hatinya," Mampir ke mimpi saja tidak mau, sungguh malangnya nasibku," katanya sambil melirik Rena.
Rena tertawa. "Kak Vin, maafkan aku, andai aku tahu sebelumnya dia telah mengidap kangker darah stadium empat, akan kuberikan surat itu padamu, dan kau bisa menemaninya saat dia akan pergi. Di detik-detik dia menghembuskan nafasnya, ia mengirim video padaku serta berpesan untuk memberikan surat itu, setelah dua minggu hari dimana dia berpulang pada illahi. Aku belum memberikan padamu karena saat itu kau marah, apapun kukatakan padamu tak akan membuatmu percaya jika kau sedang marah," kata gadis itu sambil menyipitkan matanya.
"Ya kau benar, Ren. Maafkan aku," katanya tulus.
"Nanti setelah sampai di Bandara Logan, akan ku kirimkan vidio itu padamu," katanya sambil menoleh dan tersenyum.
"Trimakasih adikku yang manis," katanya sambil mengacak-acak rambut Rena,"
"Kalau ada maunya saja begitu, kalau enggak pasti aku di hina dan dicaci-maki," kata Rena sembari mengerucutkan bibirnya.
"Mana? Aku gak pernah begitu," jawab Vino sambil menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Kemarin, siapa yang marah, nuduh aku, kalau aku suka Kakak," katanya lalu memalingkan muka memandang ke arah lain. 'Padahal iya Kak Vin, andai kau bukan adik dari kakak iparku, mungkin sudah ku balut hatimu yang terluka itu dengan cintaku,' sambungnya dalam hati.
"Ok! Aku salah, maaf," katanya pada Rena
"Hanya begitu sajakah, permintaan maafmu?" tanyanya pada Vino
"Ok! Kau minta apa, akan ku turuti?" katanya sambil tersenyum.
"Janji yaa, Kak Vin? Jangan ketawa, yaa!" katanya memastikan.
"Ha ha ha, tidak akan," kata Vino sambil tertawa
"Tidak akan apa? Kakak sudah tertawa," kata sambil membuang mukanya.
"Aku tertawa karena kamu lucu bukan karena permintaanmu," jelas Vino pada Rena.
"Baiklah adikku yang cantik, katakan apa yang kau inginkan!"perintahnya
"Makan malam romantis dan ang--" Kalimat Rena terputus karena Vino tertawa dengan keras.
"Tuh, 'kan, Kak Vino tertawa," katanya dengan menghembus nafas kasar karena marah.
"Ya-yaa, baiklah, lanjutkanlah! aku hanya terkejut, apa adikku ini menyukai seseorang pria yang aku tidak tahu?" katanya sambil tersenyum setelah ia menghentikan tawanya, karena ia tahu Rena sedang marah.
"Baiklah akan ku ulangi dan jangan tertawa!" katanya sambil menatap tajam.
"Makan malam romantis, anggap saja aku adalah kekasihmu di ruangan privasi, lalu nyanyikan lagu cinta dengan petikan gitarmu dan kita berdansa di sana, setelah itu pulang," katanya dengan tatapan datar menyembunyikan perasaannya yang dalam.
"Baiklah adikku, sayang. Kita agendakan yaa, sepulang dari Boston." katanya sambil tersenyum, dan Rena menarik nafas dan menghembuskan sangat perlahan seolah ia ingin tak ada yang tahu kegundahan hatinya.
Perjalanan masih sangat panjang, dan Rena ingin sekali bisa tidur lagi agar tidak merasa waktu semakin panjang.
__ADS_1
'