Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Tak Menyangka


__ADS_3

Rika menatap putrinya yang mulai dewasa, hatinya begitu gamang memikirkannya. Sebuah keputusan sulit buatnya.


Ketika dia menyetujui pernikahan siri terhadap putrinya dan menyembunyikan statusnya hingga tamat sekolah SMU adalah sangat sulit.


Membiarkan anaknya berpacaran tentu juga tidak bisa di benarkan olehnya.


Rika memeluk erat, putrinya itu.


"Apa dia baik?" tanya Rika pada putrinya itu.


"Ya, dia sangat baik, Bun. Gak pernah marah pada Rena, walaupun Rena menjengkelkan," jawab Rena pada Bundanya.


"Jika dia Menikahimu apa kau mau?" tanya Rika hati-hati.


Rena melepaskan pelukannya dan menatap sang Bunda. "Benarkah Bunda ingin tahu keinginanku, Bun?"


"Iya, Bunda ingin tahu apa yang ingin kau lakukan?"


"Bun, aku mau jika Ayah dan Bunda, mengijinkan," katanya sambil tersipu.


"Lalu bagaimana sekolahmu?" tanya Rika pada putrinya, jika kau menikah segala urusan mengenai dirimu terlimpah pada suamimu," kata Rika pada putrinya itu.


"Bang Rendra pernah ngomong ke Rena, jika Rena mau bisa home schooling saja, tapi Rena masih ingin belajar bersama teman-teman jadi Rena inginnya sekolah umum saja, dan sanggup untuk menanggung seluruh biaya sekolahku mau itu, home schooling ataukah tidak," jawab Rena.


"Ok! sekarang sudah waktu ashar, mandi dan sholat Ashar. Setelah itu, segera makan, kamu belum makan siang, 'kan?" kata Rika dan Rena pun mengangguk.


kemudian Rika beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar Rena.


Seusai kepergian Bundanya dari kamarnya Ia pun menyeret kakinya menuju ke kamar mandi serasa hatinya dan pikirannya legah ketika telah mengungkapkan apa yang ada di hatinya pada Bundanya.


Ia pun melepas seluruh pakaiannya dan mengguyur tubuhnya mulai dari kepala dengan shower.


Tak seberapa lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan bath robe yang melekat ditubuhnya dan handuk kecil yang membungkus rambutnya berjalan di walk in closet tak lama kemudian dia keluar dengan pakaian santainya.


Sementara itu Rika merasa sudah tidak bisa menunda untuk membahas masalah ini dengan kakek- kakek Rena mendesak sang suami untuk menelpon Raka dan Amran, maka setelah selesai melaksanakan sholat ashar mereka meluncur di tempat yang mereka tentukan.

__ADS_1


Rena keluar dari kamarnya dan duduk di kursi meja makan mulai mengambil nasi sayur dan lauknya lalu mulai menyuapkan makanan di mulutnya.


Rena mengedarkan pandangannya begitu tampak, sepi. Rena menahan keinginan tahuannya untuk bertanya pada bik Darmi sebab bik Darmi pun tidak terlihat di dapur yang satu ruangan meja makan.


Rena pun menyelesaikan makannya lalu mencuci piringnya sendiri, setelah itu mengetuk pintu kamar bik Darmi beberapa kali.


Pintu pun terbuka bik Darmi yang masih mengenakan mukena pun keluar. "Iya ada apa Non?" tanya bik Darmi.


Ayah dan Bunda kemana yaa bik?" tanya Rena.


"Wah itu Bibi enggak tahu Non, mereka sepertinya keluar," jawab Bik Darmi.


"Ya sudah, Bik. Trimakasih," jawab Rena pada Bik Darmi.


Dia kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Rasa bosan, cemas dan gelisah tiba-tiba menyeruak di hatinya.


Entah kenapa tiba-tiba hati terasa hampa saat tidak di lihatnya senyum tulus nan manis dari pria yang bernama Rendra itu.


Cara satu-satunya untuk menghilangkan rasa itu adalah dengan tidur, pikirnya.


Rena bangun dari ranjangnya mengambil air wudhu lalu sholat magrib sendiri di kamar karena dia tidak melihat orang tuanya sudah pulang dari menghadiri pertemuan apa dia sendiri tidak tahu.


Di sebuah restoran dan di ruang privasi


mereka melakukan pembahasan soal ini.Hingga di putuskan suatu keputusan yang sangat berat menurut dia namun di rasa ini keputusan yang sangat baik menurut mereka dari pada sang cucu terjerumus kedalam pergaulan bebas yang saat ini sungguh memperhatinkan.


Cukup lama mereka diskusi di sana hingga waktu Maghrib tiba mereka pun keluar dari sana mencari masjid terdekat dengan restoran itu.


Setelah melaksanakan sholat magrib mereka masuk kedalam mobilnya masing-masing dan pulang ke kediamannya mereka.


Saat Adzan isya' berkumandang mereka baru sampai di rumah dan langsung menuju mushola rumahnya mereka pun sholat jamaah bersama keluarga dan pekerja di rumah itu.


Setelah selesai, mereka pun pergi ke kamar mereka masing-masing, tak ada makan malam, karena baru saja mengisi perutnya di restoran tadi. Rika berpesan pada Bik Darmi untuk menyimpan makanan di kulkas agar bisa di hangatkan ke esokan harinya.


Angga masuk ke dalam ruang kerja lalu menghubungi adiknya untuk membahas acara besok pagi dan meminta adiknya menghubungi Rendra untuk mempersiapkan segalanya besok.

__ADS_1


Setelah menghubungi adiknya ia pun kembali ke kamarnya.


...----------------...


Dirumahnya sendiri terlihat Rendra begitu sangat gelisah, pertemuannya dengan Ayah Rena meninggalkan kegelisahan yang luar biasa, bahkan ia tidak tahu hubungannya dengan Rena akan berlanjut atau tidak esok hari.


Di dalam ruangan tamu dia berjalan mondar-mandir lalu duduk kembali.


Sang ibu hanya menggelengkan kepalanya putranya gelisah.


Tak lama kemudian terdengar deringan telpon membuatnya mencari di mana handphone-nya berada,


Matanya mencari disudut ruangan hingga pandangannya tertumpu pada handphone yang ada di sofa ujung sana, segera dengan cepat menerima panggilan itu.


"Assalammualaikum, dadd," jawabnya setelah tahu siapa yang menelponnya.


"Wa'alaikumsalam, Ren siapkan semua yang di butuhkan untuk lamaran besok jam 9.00 pagi," perintah Ammar pada anak angkatnya.


"Apa, Dad? Secepat ini?" tanyanya shock seolah tak percaya dengan apa yang didengarkannya.


"Tidak mau? Apa kamu nunggu empat tahun kedepan?" tanya Ammar melalui telpon selulernya.


"Mau Dad, tapi apa saja yang harus kupersiapkan? Mana Mama, Dad?" tanya Rendra dengan suara yang bergetar tak sanggup menutupi rasa gugupnya.


Tak lama kemudian suara Izah terdengar menjelaskan apa saja yang perlu dia persiapkan. "Kamu belanja aja di butik langganan Mama, kamu kesana saja sudah Mama kontak pemiliknya, dan kamu tinggal kesana saja," kata Izah pada Anak angkatnya itu.


Trimakasih, Dad, Mam. Aku sayang kalian, Assalamualaikum." Dia menutup sambungan teleponnya dengan hati gembira.


"ibu-ibu Aku punya kabar baik besok kita harus pergi ke rumahnya Tuan Angga untuk melamar putrinya," kata Rendra sambil mencium dan memeluk ibunya


"Apa beliau tidak keberatan kau menikah siri dengan putrinya?" tanya ibunya. "Tidak Bu mungkin karena aku adalah anak angkat dari Daddy dan mama jadi mereka menyetujuinya, kalau nikah negara tidak mungkin Ibu karena Rena masih kecil," kata Rendra


"Apa kau tidak bisa menunggu 4 tahun lagi Ren? tanyanya pada Rendra


Kenapa Ibu berkata begitu," tanya Rendra sambil melepaskan pelukannya pada ibunya.

__ADS_1


__ADS_2