
Tanpa tanya ia mulai berjalan menuju pohon kelengkeng dan mengambil beberapa tangkai buah kelengkeng masak lalu kembali di tempat duduknya dengan buah di tangannya dan meletakannya di atas bangku. Mereka pun menikmatinya sambil melihat beberapa kupu-kupu berterbangan di atas bunga yang bermekaran, tanpa ia sadari tiba-tiba Rena datang mengambil satu tangkai kelengkeng sambil berkata, "Bang Diki, kenapa gak bilang? Ini aku juga mau."
Diki tersenyum dan memberikan tempat duduknya. "Masih mau? Abang, Ambilkan yaa?" Rena pun mengangguk duduk di bangku kayu bersebrangan dengan Nara dan di tengahnya beberapa tangkai Kelengkeng berserakan di kursi depan buah yang lebat di setiap tangkainya. Nara menoleh sambil tersenyum. "Gak tahu datangnya tiba-tiba nongol saja kamu, Ren." Rena terkikik. "Habis di dalam sepi sih, Kak. Semua pada di kamar, terus aku ke seni deh dan ketemu Bang Rafa di sana lagi pacaran dengan kak Anin, jadi aku main ke sini dan ketemu Kak Nara sama Bang Diki lagi makan kelengkeng, kan Rena jadi ingin juga makan." Diki Datang membawa lagi beberapa tangkai buah kelengkeng dan menaruhnya di bangku Nara dan Rena sebagian di taruh di bangku depan Nara dan Rena duduk. Lalu duduk di bangku itu ikut memakan buah yang di petiknya tadi.
Di rumah sakit di ruangannya Aila sudah belajar bangun dan mulai bejalan pelan-pelan ke kamar mandi, nampak dokter Raya dan kakek Imran beserta istrinya duduk di sofa, sedangkan Frans menggamit pinggang Aila kawatir terjatuh. Aila membasuh muka dan menggosok giginya. setelah selesai ia pun bergabung dengan kakek, Nenek dan tante dari Frans.
"Tan, Apa belum boleh aku menjenguk Anakku?"tanya Aila pada tante Raya
Boleh Ai, tapi pakai kursi Roda dulu aja yaa, biar jaitan di perutmu tidak robek," jawab raya.
"Biar ku ambil kursi roda untukmu yaa," kata Frans pada Aila lalu bergegas keluar dari ruang perawatan ia pun menuju kantor untuk mengambil kursi roda.
__ADS_1
Aila duduk di sofa bersama berbincang dengan kakek Imran dan Nenek Surti. Nenek memegang tangan Aila cucu menantunya itu. "Trimakasih telah memberikan cicit yang tampan pada Nenek. Tadi Nenek sudah dan kakek sudah melihatnya."
"Tidak perlu berterima kasih pada Ai. justru Ai minta maaf karena setelah ini, Aila mungkin sulit untuk memberikan cicit lagi buat nenek dan Kakek karena kondisi Aila. Nenek dan kakek tertawa.
"Tidak perlu minta maaf, Lihat tantemu itu dia normal dan subur, begitu pula luky kenapa kenapa sampai sekarang Reno belum juga punya adik karena Allah memberikannya," kata Imran.
Frans masuk ke dalam ruangan Aila sambil membawa kursi roda. "Ai, duduklah akan ku antar kau keruang bayi." Aila duduk lalu dan kemudian Frans mendorong kursi rodanya berjalan keluar mengantarkan Aila bertemu dengan putranya, ia tahu Aila sangat ingin bertemu putranya itu. Mereka sampai di ruangan bayi alangkah senangnya Aila dapat melihat putranya dari jarak dekat. Air matanya mengalir deras, melihat bayi kecil nan mungil di inkubator. Bukan tangis kesedihan namun tangis kebahagiaan. Kehadirannya begitu diinginkannya, mengingat ia sudah tidak lagi sempurna seperti dulu, namun Allah masih memberikan kebahagian di dalam sakitnya yaitu Anak. Frans memeluk Aila dari belakang ia mendongak wajah keatas menatap Frans. Frans tersenyum. "Sudah puas melihat putra kita?"
"Sudahlah Frans kita lupakan itu, yang terpenting putra kita baik-baik saja aku sangat bahagia. ayo kita keluar!"kata Aila. Frans mendorong kursi roda istri keluar dari ruangan bayi. "Apa kau ingin kembali ke kamar ataukah ingin berjalan-jalan di taman?" tanya Frans.
"Aku ingin berjalan di taman Frans, aku bosan di kamar terus," kata Aila pada suami itu.
__ADS_1
Frans mendorong kursi roda istrinya menuju taman setibanya di sana ia berhenti tepat di depan kursi taman yang berjejer di tepi area itu.
Frans menuntun istrinya berjalan ke kursi taman lalu duduk di sana berdua memandang indahnya bunga-bunga taman yang mulai bermekaran, sinar matahari mulai meredup menandakan ia akan pulang keperaduannya dan berganti dengan senja kemudian malam yang disambut temaramnya sinar rembulan.
"Kita meninggalkan mereka di kamar," kata Frans terkekeh, begitu pula Aila. "Kakek-Nenek bersama dengan tante, mungkin saat ini mereka menyusul kita ke ruangan bayi untuk melihat putra kita," kata Aila tanpa melepaskan pandangannya pada bunga-bunga di taman, bukan untuk menikmati tapi pikirannya jauh melayang akan tujuan Frans menikahinya pada saat itu, walaupun kini dia tahu bahwa Frans telah mencintainya, tapi ini harus di tanya 'kannya, sebelum semua menjadi sebuah penyesalan. "Frans, Jika saat ini memang aku belum ada di hatimu, kau boleh melepaskanku, aku tidak apa-apa, Frans," katanya pada suaminya itu. Frans terkejut mendengar apa yang dikatakan Aila. Dia memegang tangan istrinya dan menatap dengan penuh cinta. "Ai, tatap aku!" pintanya pada Aila.
Wanita itu menoleh ke arah Frans sambil tersenyum manis. "Ai, aku mencintaimu tak akan ku lepaskan dirimu sampai kapanpun, sekalipun kau yang memintanya dan andai cintamu yang lebih dulu terkikiskan, aku tak akan pergi, aku akan meraih hatimu kembali, kupenuhi dengan bunga-bunga cinta yang beraneka ragam di hatimu, Ai. Tolong jangan usir aku pergi dari hatimu!" pinta Frans sambil berbisik di telinga Aila.
Aila menitikkan air matanya, Ia terharu dan sangat bahagia, dia sangat tahu bahwa dulu dia mencintai Frans sendirian, tak pernah dilihatnya tatapan cinta di mata teman kecilnya itu.
Frans menghapus Air mata Aila dan tersenyum. "Tetaplah bersamaku Ai, karena hanya engkau yang ada di hatiku dan memenuhi seluruh ruangannya tak tersisa sedikitpun untuk orang lain, hanya Kau, Ai."
__ADS_1
Sementara itu, di kamar perawatan kakek Amran dan istrinya itu mulai gusar menanti cucu serta cucu menantunya itu kembali di kamar mereka. Alih-alih ingin menjenguk malah di tinggal pergi oleh mereka. Raya tertawa melihat pasangan suami-istri yang tak lagi muda itu. "Mereka pacaran, Yah, Bu." Imran tersenyum dengan mata berbinar. "Biarkan saja aku bahagia, Ray. Frans sudah bisa mencintai Aila, hutang budiku pada tuan Raka terbayar lunas dengan cinta Frans pada Aila.