
Jam 6.30 anak-anak sudah berada di sekolah dengan gaya kerennya ke-empat bocah kecil berjalan masuk ke dalam kelasnya
Di pagi hari anak-anak sudah mulai senam pagi dan Bayhas yang memimpin karena mendapat hukuman sang guru
Tanpa ragu dia pun maju ke depan dan mulai memimpin gerakan, dengan lincahnya ia bergerak sesuai irama sampai selesai, Setelah itu dia masuk kedalam kelas dengan gaya cool-nya.
hari ini mereka mulai pelajaran menggambar, dengan diberikan peralatan menggambar mereka mengekpresikan segala imajinasi.
Seorang gadis kecil menghampirinya namanya Unun. "Kak Bay boleh aku duduk di sini?"
"Boleh, lagi pula ini bukan milikku, tapi milik sekolahan ini," katanya tanpa melihat gadis kecil di sampingnya.
"Kata teman-teman berteman dengan kalian syaratnya susah, tetapi aku ingin berteman dengan Kak Bay, boleh?" tanya gadis itu pada Bay ragu-ragu.
"Kau tahu syaratnya berat kenapa masih ingin mencoba?" tanya Bay pada akhirnya menoleh pada gadis kecil itu, dia tertegun melihat kecantikan gadis kecil itu. lalu kembali fokus dengan gambarnya.
"Aku cuma ingin berteman dengan Kak Bay seorang, apa syaratnya?" kata gadis itu kembali.
"Kenapa, kan masih banyak yang bisa kamu jadikan teman, bukan hanya aku," tanya Bayhas
"Nggak tahu, pengin saja untuk jadi teman," jawab gadis kecil itu.
"Lagian sekarangkan kamu sudah teman, dari dulu pun juga sudah jadi teman," katanya sambil melirik gadis itu.
"Iya, tapi kan beda, gak bisa berbincang-bicang dengan Kak Bay, kalau aku minta secara langsung, bisa bicara dengan kak Bay, 'kan?"kata Unun
"Namamu siapa?" tanya Bay pada gadis kecil itu
"Unun, Kak," jawab gadis itu
Bayhas tertawa. "lucu sekali namamu."
"Ok! Aku terima pertemanan ini, tidak ada syarat, cuma jangan cari masalah jika kau sudah berteman dengan ku yang lainnya tidak boleh," kata Bay sambil melirik.
"Baik, terimakasih, kak Bay," ucap gadis kecil itu sambil mencuri ciuman di pipi Bayhas, blush wajah Bay merona lalu melotot ke gadis itu.
"Maaf kelepasan," kata gadis itu sambil terkekeh dan berlari ke tempat duduknya sendiri.
'Dasar! Enak saja ambil pipi, gak bilang-bilang,' batin Bayhas
sementara itu Alvan sedang mengejar Lea. "Lea tunggu aku mau tanya padamu," kata Alvan
"Apa, kamu mau tanya apa?"
"Apa kamu tidak bisa berteman hanya denganku saja?" tanya Alvan pada Lea
Tidak bisa Al, Aku ingin teman dengan semuanya, kalau tidak bisa ya tidak usah, kenapa aku yang pusing?" tanya Lea berlalu meninggalkannya.
Alvan termangu melihat kepergian Lea, dia lalu berjalan di belakang sekolah dan duduk di bangku taman dengan menatap kosong bunga-bunga yang indah.
Seorang gadis duduk di sampingnya sambil membuka bekalnya, mengambil sushi dengan sumpitnya lalu di arahkan ke mulut Alvan. "Sedih juga butuh tenaga, makan dulu mumpung aku bawa banyak dan lagi baik," kata gadis itu
Alvan melahap tanpa melihat gadis yang berada di di sebelahnya, lalu mengunyah makanan itu sambil berkata ini enak lalu menoleh pada gadis yang memberikannya sushi.
__ADS_1
"Reta!" katanya pindah kok ada di sini?" tanya Alvan
"Nggak jadi pindah lihat kamu begini jadi sedih," kata Reta
"Bener, "kan kamu Reta, apa Aku nggak salah lihat nih? Apa Aku lagi tidur," kakak Alvan lagi
'Bener," kata Reta
Alvan menatap gadis kecil lalu mengecup pipi gadis itu, lalu berkata," Iya ini Reta rasanya sama soalnya.
"Ih, kamu genit ah, Al," protes Reta.
"Biarin aku kangen tahu, seminggu loh Ret, kamu gak masuk," kata Alvan
"Iya, dan sudah ada gantinya," kata Reta menyuapkan sushi di mulutnya setelah memberikan suapannya ke Alvan.
"Ehh, Enggak lah, yang aku cium cuma pipi kamu habis gemes sih lihat pipi gemul begitu," kata Alvan.
"Kamu muji apa menghina Al?" tanya Reta.
Al terkekeh. "Dua-duanya."
"Ya, sudah aku pergi, yaa, Al," ancam Reta.
"Ehh, jangan dong, Ret," cegah Al sambil memegang pergelangan tangan Reta.
"Habis kamu nyebelin tahu," protes Reta.
"Ya, Maaf tapi bener aku suka sama pipi kamu," kata Al pada Reta.
"Masak kamu gak kangen aku, Ret?" tanya Al
"Enggak ngapain kangen kamu yang lagi sedih, karena di tolak cewek," katanya ketus
"Mana ada Al di tolak cewek, yang ada cewek nolak Al," jawabnya sambil tertawa.
"Sama saja itu namanya," protes Reta sambil tertawa.
"Yang penting kamu gak nolak aku," kata Al pada Reta.
"Emang kamu minta, Al?" tanya Reta.
"Minta apa?" tanya Al gak ngerti.
"Minta Sushi?" kata Reta
"Kamu yang kasih, tapi aku suka," kata Al sambil tersenyum
Reta tertawa. "Habis deh, gak ada air minum Al," kata Reta
"Sebentar, kamu di sini dulu aku mau beli, awas yaa! Jangan kemana-mana!" teriak Al
Tak lama kemudian Al kembali dengan dua botol air mineral, dibukanya tutupnya dan di berikan pada Reta.
__ADS_1
"Ini minumlah!" pinta Al sambil menyodorkan botol air meneral
Reta mengambilnya dan meminumnya sampai tandas.
"Lagi?" tawarnya pada Reta.
Reta menggeleng sambil tertawa.
Sementara itu terlihat gadis kecil menghampiri Ehan.
"Kak Ehan, sendirian?" tanya Lea.
"Hem," jawab Ehan malas, entah mengapa ketika Lea sudah Al dia jadi tidak punya semangat untuk melanjutkan niatnya pada Lea.
"Mau ditemani Lea?" tanya Lea pada Ehan
"Ngak usah kamu lebih baik pergi saja," kata Ehan.
"Benar, nih padahal sekarang kan kak Ehan sama Lea," kata Lea.
"Aku, sudah tidak berminat, pergilah atau aku yang pergi," kata Ehan.
Lea menelan salivanya sendiri lalu pergi meninggalkan Ehan sendirian.
Tak lama kemudian terdengar suara sesuatu terjatuh dan jeritan mengadu.
"Aduh!" teriak gadis kecil tepat di kakinya dan Ehan menoleh.
"Kamu kenapa?" tanyanya Ehan pada gadis itu.
"Jatuh, apa kakak tidak lihat aku jatuh," kata gadis kecil itu
Ehan tertawa. "Maksudku kenapa jatuh?" tanya Ehan pada gadis itu.
"Ini tali sepatuku di ikat jadi satu," kata gadis kecil itu
Ehan berjongkok mengurai tali sepatu gadis itu, setelah itu dia menalikannya.
"Apa kau tidak bisa menalikan tali sepatumu sendiri?" tanyanya pada gadis kecil itu.
Gadis itu menggeleng, lalu tertawa.
"Apa tidak ditalikan sama mamamu?"
"Aku tidak punya Mama, tadi Papa buru-buru jadi tidak sempat menalikan sepatuku," kata gadis itu.
"Sudah selesai, namamu siapa?" tanya Ehan pada gadis kecil itu
Gadis kecil itu tertawa. "Rui."
"Nama yang cantik, kau juga harus belajar menali sepatumu sendiri," kata Ehan pada Rui
"Trimakasih, kak Ehan," kata Rui sambil mencium pipi Ehan lalu berlari sambil tertawa.
__ADS_1
"Maaf, jangan marah!" teriak Rui
Ehan hanya tersenyum menatap kepergian Rui.