Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Congrats!!! You're Going To Be Grandparents


__ADS_3

Malam ini keluarga Nantha dan Nada berkumpul di sebuah restoran yang sudah di reservasi oleh Nantha sebelumnya. Para orang tua bingung dengan tingkah anak-anaknya yang tidak biasanya membuat acara dadakan seperti ini.


"Tumben ngajak makan diluar, Nan Nad?" tanya Mama Iren.


"Kenapa nggak di rumah aja?" lanjutnya.


"Iya tadi papi kamu sampek ngebatalin pertemuannya sama klien malam ini karna kalian ngajakin dinner." sahut Mami Nimas.


"Hehehe sekali-sekali mih. Klien kan bisa besok. Kumpul kayak gini kan nggak tiap hari." balas Nada.


"Pengen ngumpul aja, mah. Kita kan udah lumayan lama nggak makan di luar." lanjut Nada membalas ucapan Mama Iren dan di angguki oleh Nantha.


"Maafin Nantha dan Nada ya pi, karna dinner malam ini papi sampek ngebatalin pertemuan sama klien." ujar Nantha meminta maaf pada Papi Hardi setelah mendengar ucapan dari Mami Nimas.


"Udah santai aja, Nan. Papi udah reschedule buat besok." balas Papi Hardi menenangkan menantunya, karna ia tahu menantunya itu pasti merasa tidak enak padanya.


"Jadi ada apa, kalian tumben-tumbenan ajak kami dinner kayak gini." Papa Bian yang sedari tadi menyimak, kini ikur berujar.


"Kita ada kabar bahagia buat kalian." ujar Nantha.


"Kabar bahagia?" ucap para orang tua hampir bersamaan.


"Coba tolong Papa mama, papi mami buka amplop yang ada di depan kalian." ujar Nantha, sedangkan Nada hanya diam dan menurut apa kata suaminya, karna kejutan ini pun juga ide sang suami.


"Aduh apa sih kalian bikin orang tua deg deg an aja." ujar Mama Iren di angguki oleh Mami Nimas.


Nantha dan Nada tersenyum mendengar omelan Mama Iren, "Kita hitung ya." ujar Nantha dengan menggenggam tangan Nada sebagai kode untuk ajakan menghitung bersama.


"1...2...3.."



Setelah hitungan ketiga, para orang tua dengan seksama memperhatikab amplop yang di buka oleh Mami Nimas. Setelah melihat isi dari amplop tersebut, mereka sangat terkejut dan terharu.


"I-ini beneran?" tanya Mami Nimas.


"Nada sayang?" sahut Mama Iren.


"Iya mi, ma.." jawab Nada disertai anggukan dan senyum haru.


"Aaaaa mami seneng banget.." ujar Mami Nimas berdiri dari duduknya dan menciumi pipi Nada.


"Mama juga.." ujar Mama Iren menyusul Mami Nimas.


"Selamat ya Nan, nggak lama lagi kamu bakal jadi seorang ayah." ujar Papi Hardi dengan menepuk bahu Nantha.

__ADS_1


"Makasih, pih.." balas Nantha tersenyum bangga.


"Selamat ya sayang, kamu akan jadi seorang ibu. Pesan papi, kamu harus jadi wanita yang lebih dewasa." ujar Papi dengan mencium kening Nada.


"Siap papihh.." balas Nada.


"Selamat boy, ternyata anak papa bener-bener jantan." ujar Papa Bian dengan disertai ledekan seperti biasa.


"Ck, papah jangan mulai deh.." decak Nantha membuat Papa Bian terkekeh.


"Selamat sayang. Papa pesan, kamu jangan capek-capek, kalo pengen apa bilang suami kamu. Kalo dia nggak mau nurutin bilang ke papa." ujar Papa Bian mengelus kepala Nada sayang.


"Makasih pah... tapi Nantha siaga banget kok pah, hehehe.." balas Nada dengan kekehannya.


"Tuh, denger sendiri kan pah." ujar Nantha dengan bangga, merasa di bela.


"Heee udah-udah jangan ribut mulu. Ayok makan, kasian tuh cucu di dalem nanti kelaperan." ujar Mama Iren menghentikan keributan tiada ujung antara anak dan ayah tersebut.


"Nah ide bagus." sahut Mami Nimas.


Setelah makan malam, mereka pu. keluar dari resti dan pulang ke rumah masing-masing. Hari ini cukup melegakan untuk mereka berdua karna sudah mengumumkan kehamilan mereka di depan para orang tua. Selanjutnya mereka akan memberitahu sahabat mereka masing-masing.


Tetapi tidak untuk sekarang ataupun besok, karna besok Devan akan terbang ke Kanada untuk memantau perkembangan anak perusahaan Pradana Group yang baru di dirikan disana, serta mengunjungi orang tua Devan yang kebetulan juga tinggal disana. Nantha akan menunggu kepulangan Devan. Selain itu Nada juga masih menunggu kepulangan sahabatnya Shena yang baru bisa ambil cuti minggu depan.


Keduanya tidak sabar melihat reaksi serta ekspresi para sahabat mereka setelah tahu bahwa sahabatnya itu akan memiliki seorang anak.


Sesampainya di rumah, Nada segera turun dari mobil, sebelumnya ia telah melepas high heelsnya, karna kakinya yang sudah sangat pegal. Nantha yang melihat itu meminta Nada memakainya lagi.


"Pegel, Nan....."ujar Nada manja.


"Pakai aja dulu. Bentar, aku mau turun. Kamu tunggu sini." perintah Nantha.


"Ck, apa sih maksudnya. Udah pegel-pegel gini malah suruh pake lagi." decak Nada sedikit kesal.


"Ap-a... Loh, Nan kok aku di-"


"Kaki kamu capek buat jalan ke dalem. Jalannya pake kaki aku aja." ujar Nantha yang sudah menggendong istrinya.


"Nan.. turunin ah." ujar Nada.


"Diem. Kebiasaan bawel." sahut Nantha.


"Kamu tuh yang kebiasaan maksa-maksa." ujar Nada dengan memanyunkan bibirnya kesal.


"Cup." kecupan Nantha membuat Nada kaget.

__ADS_1


"Mau lagi?" ujar Nantha


"Makin manyun makin pengen aku lahap." lanjutnya sekeitka membuat Nada terkesiap dan membungkam bibirnya.


Terkadang Nada memang masih terkesan malu dengan perlakuan Nantha yang sebenarnya sudah sering mereka lakukan.


Nantha langsung membawa Nada naik ke lantai dua dan menuju ke kamar mereka. Sesampainya di kamar, ia menurunkan istrinya dan melepaskan high heels yang tadinya sempat di pakai lagi oleh Nada, karna perintahnya yang tidak bisa di bantah.


"Nan, aku bisa lepas sendiri. Nggak sopan tau kalo istri kayak gini." ujar Nada merasa tidak enak.


"Sayang, ini kan aku sendiri yang mau. Lagian kamu itu selalu protes aja kalo aku ngelakuin hal-hal kayak gini ke kamu. Kamu seharusnya tuh seneng, suami kamu ternyata bisa romantis juga." jelas Nantha, membuat Nada enggan untuk hanya menyahut ucapannya, karna hasilnya Nada sudah tahu akan seperti apa, alhasil ia hanya meng-iyakan ucapan Nantha.


"Hmmmmm iyaaaaa.." balas Nada.


"Nggak ikhlas gitu jawabnya." ujar Nantha.


"Iya suamiku sayang." Nada yang menyadari ucapannya segera menutup mulutnya.


"Nah gitu dong, sekali-kali kamu juga harus romantis manggil aku 'Sayang', jangan 'Nan..Nan..Nan'. Itu baru nggak sopan." ujar Nantha yang entah mengapa rasanya akhir-akhir ini Nantha lebih bawel dan cerewet dari dirinya.


"Hah?"


"Pokoknya sekarang harus manggil 'Sayang'." ujar Nantha penuh paksaan.


"Harus banget?" tanya Nada.


"Wajib."


"Tapi-"


"Nggak ada tapi-tapian. Ayo coba." ujar Nantha.


"Sss-sayang.."


"Oke masih butuh proses. Di biasakan ya, sayang.." ujarnya dengan mengelus pipi Nada. Mendengar isrrinya memanggilnya 'Sayang', membuat Nantha senang bukan main.


"Iyaa."


"Yaudah, aku bersih-bersih dulu habis itu mau bikinin susu buat kamu." ujar Nantha.


"Iyaa.."


Setelah Nantha keluar dari kamar mandi dan keluar kamar untuk ke dapur, giliran Nada yang masuk kamar mandi untuk bersih-bersih.


Setelah semua selesai dan Nada juga sudah meminum susu. Kini keduanya bersiap untuk istirahat dan tidur menjemput mimpi indah mereka, tak lupa saling berpelukan agar mimpinya semakin indah.

__ADS_1


"Nice dream, sayang. Love you." ucapan salam Nantha kepada Nada sebelum benar-benar terlelap.


"Too, sayang." balas Nada, namun ia langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Nantha. Membuat Nantha terkekeh dengan tingkah istrinya yang malu-malu menggemaskan.


__ADS_2