
"Nona sudah sampai," kata Arun ketika mobil sudah masuk di halaman Vila. Nara tersadar dari lamunannya ditengoknya di sekelilingnya, "Benar juga sudah sampai," kata Nara menatap Arun dengan tersenyum manis lalu melepaskan sabuk pengaman lalu membuka pintu dan turun dari mobil.
Sementara itu Arun sudah keluar dari tadi dan berjalan menuju bagasi mobil, lalu mengeluarkan koper cucu majikan Ayahnya,
membawa kedalam Vila milik keluarga Burhan.
Dia berjalan sambil menyeret kopernya Nara masuk ke Vila yang di percayakan pada abangnya Bram.
"Dek, sudah datang mana non Nara," tanya Bram.
"Sebenarnya Arun mau ngomong sama mas soal Bapak tapi Arun masih sibuk, nanti aja mas."
"Sudah biarkan bapak Run, bapak ingin dia tetap mengabdi di sana. toh pak Ammar jarang sekali menyuruhnya mengemudi kadang pak Ammar sendiri yang mengemudi, tak menyuruh Bapak, tujuan di sana menemani pak Burhan dan ibu pun sama. kebahagiaan ada di sana Run, aku juga tak bisa gantikan Bapak Run, aku di sini juga pegawai pemerintah.
"Ya, aku tahu mas, ini mas kopernya non Nara. Aku harus segera berangkat takut terlambat."
"Bang Bram kamar Nara di mana?" tanya Nara ketika sudah masuk dalam Vila.
"Terserah non, di atas atau di bawah."
"di bawah aja bang, Kalian cepat berangkat, kalau kalian terlambat Nara nanti di marahi mama loh. Bang Arun tadi gak kebauan kan, Nara belum mandi tadi habis bang Arun harus berangkat pagi jadi Nara gak sempat mandi," katanya nyengir.
"Enggak kok non, saya pamit dulu non," kata Arun berlalu dari tempat itu sambil tersenyum dengan sikap konyol dari Nara
" Ya, sana, bang Bram juga pergi sana nanti terlambat, ada mbak Riri kan?"
"Ada non, saya berangkat dulu kalau perlu apa-apa sama Riri ya non."
"Beres bang," jawabnya sambil masuk ke kamarnya.
Bram pun pergi meninggalkan Vila itu menuju kantor kecamatan di mana ia bekerja.
Di dalam kamar Nara meletakkan kopernya di lantai, lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang.
"Waktunya move on, selamat tinggal patah hati, Selamat tinggal kesedian." teriaknya sambil bangkit dari ranjang lalu menuju kamar mandi dan tak lama terdengar gemericik air di kamar mandi. 30 menit kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bath robe.
__ADS_1
dan handuk kecil membungkus rambutnya.
Ia berganti baju dengan gaya kasual kemeja lengan pendek yang di gulung ke atas dengan bawahan kulot sebatas atas lutut. di keringkan rambutnya, lalu di ikat satu kebelakang, di ambilnya kamera dikalungkan ke lehernya lalu mengambil topi hitamnya.
Ketukan pintu terdengar dari luar Nara pun membuka pintu nampak mbak Riri berdiri di depan pintu," Non sarapannya sudah siap." katanya ketika Nara keluar dari kamar.
"Lauknya apa mbak Riri?" tanya sambil menuju meja makan
"Maaf non, Lauknya sederhana, karena tadi gak sempat ke pasar.
"Kata siapa? ini lebih dari sederhana loh mbak Riri, Saya tuh kangen masakannya mbak Riri.
Urap-urap sayur dengan panggang ayam kampung itu enak sekali." kata sambil menaruh kamera di meja lalu mengambil piring di isinya dengan nasi, urap-urap dan paha ayam panggang. "Ayo mbak Riri temani Nara makan, gak enak makan sendirian."
"Saya sudah non saya tunggu saja ya non."
"Ah mbak Riri gak asik ni, masak Nara makan sendirian, nanti malam makan bersama ya mbak Riri ajak bocil-bocil ke sini biar rameh."
Nara makan dengan lahap, ia mengambil tempe goreng, dan memakannya, "mbak tempe di sini itu enak, Nara baru bisa nikmati kalau bang Arun ke sana bawa tempe."
"Bener ya mbak Riri."
"Iya, non." jawab Riri.
"Itu perkebunan teh kan milik teman kakek ya mbak Riri."
"Benar non."
"Jarang ke sini ya mbak orangnya."
"Biasanya tuan Aiko yang ke sini sama bu Anjani kadang-kadang bu Amel sama suaminya, satu minggu yang lalu datang sama kakek non."
"Oh, mbak Nara sudah selesai ni mbak enak banget masakan mbak, Nara mau keluar dulu ya mbak mumpung masih pagi nih," kata sambil meminum segelas air yang telah di sediakan oleh mbak Riri. lalu berjalan keluar Vila dengan kamera yang tergantung di lehernya topi bertengger di kepalanya.
Selain Nara ada seorang lelaki yang membawa hatinya pergi ke puncak ia menyewa sebuah Vila di puncak selama 1 Minggu lebih, lelaki itu adalah Diki seorang dokter spesialis Jantung yang menikmati cutinya selama 1 Minggu lebih di Vila puncak.
__ADS_1
Mobil berhenti di depan halaman sebuah villa yang Megah dengan bangunan artistik, dia memang tertarik dengan Vila ini karena konon katanya keamanannya terjamin dan di kendalikan teknologi IT yang tinggi. Dia mendapat referensi dari temannya, ini adalah Vila terbaik, Pemilik Vila juga mempunyai kebun teh yang sangat luas, di Vila ini mendapat teh terbaik secara gratis ketika menginap di Vila ini.
Diki menyeret kopernya masuk kedalam Vila. ia memilih kamar lantai atas, diletakkan kopernya di lantai lalu ke kamar berganti pakaian dengan kaos berkrah dengan celana pendek selutut. setelah itu ia keluar dari Vila bermaksud untuk berjalan-jalan di sekitar kebun teh. Dia membawa kamera dengan mengalungkan di lehernya.
Di pinggir jalan menuju perkebunan ada beberapa orang berjualan.
Diki berjalan di jalan setapak antara tanaman teh. mengambil kamera yang tergantung di lehernya dan mulai mengambil gambar yang di inginkan.
Begitu pula Nara, Ia ingin mengambil gambar sungai ada di dataran tinggi tak jauh perkebunan teh.
Nara mulai fokus mengambil gambar dengan langkah mundur mencari posisi gambar terbaik. Hingga sampai batas dataran tinggi menjorok ke bawah.posisi lahan yang merupakan terassiring membuatnya jatuh terpeleset dan terpelating kebelakang lalu meluncurkan kebawah menabrak Diki dari belakang yang sedang fokus memotret beberapa pekerja memetik teh, Diki terpenting kebelakang terkena sundulan keras kepala Nara, hingga menimpah tubuh Nara.
"Aduh!" Teriak mereka bersamaan, Diki baru menyadari posisi tubuhnya yang berlawanan arah. Sepersekian detik dia terpaku, lalu berusaha berdiri tak urung pantatnya menyapu wajah Nara.
"Ah, om jorok sekali, kena mukaku tahu."
"Jorok gimana coba? saya harus bagaimana untuk bangun di atas tubuh mu. Justru saya yang rugi ini saya kena muka kamu itu."
"Nara juga gak mau jatuh om."
"Om-om memangnya aku nikah sama tante mu."
Nara terkekeh," Jelas gak mungkin om, tanteku sudah menikah 4 hari yang lalu om terlambat."
"Tante mu perawan tua?"
Nara terkekeh kembali," lebih mudah dari om dan seusia dengan ku."
"Jangan panggil om, aku bukan om mu."
"Om ku lebih mudah dari om." kata Nara
"Serah." kata Diki meninggalkan Nara
"Om, tolong Nara gak bisa jalan."
__ADS_1