
Indra meminta tolong kepada karyawannya untuk membelikan baju ganti buat Rena karena kemarin malam tidak membawa baju ganti.
Masih memeluk tubuh sang istri dan masih mode mencumbunya.
"Bang Rena jadi pengen pipis nih gara mas Rendra. Aduh gimana mau pinter kalau diajak begini terus," kata Rena pada Rendra.
Rendra terkekeh mendengar keluhan Rena. "Hari ini nggak sekolah bang awas ya besok kalau nggak sekolah Aduin ayah,"
"Ya jangan Ren," jawab Rendra
"Kamu kalau abang giniin jangan bilang-bilang sama temanmu juga sama ayah juga," kata Rendra
"Kamu home schooling aja yaa,"kata Rendra
"Kenapa homeschooling,"tanya Rena.
"Ya biar Abang bisa berduan terus sama kamu," kata Rendra pada Rena
"Bang Kenapa ayah nggak nyari Rena biasanya kalau pulang malam atau nginep Ayah pasti telepon," kata Rena
"Ya karena kamu perginya sama Abang jadi ayah nggak bakal nelpon," kata Rendra
"Kenapa sama Bang Rendra nggak dicari?" kata Rena
__ADS_1
"Ya karena Abangkan suamimu Ren.,"kata Rendra pada Rena
"Bang masak enak beginian terus," kata Rena.
"Kan bajunya belum datang Ren sambil nunggu baju datang gini aja dulu ya," kata Rendra
"Abang kalau Rena dibeginiin begitu, bawaannya mau pingsan," kata Rena malu
Rendra terkekeh. "suka."
Hari semakin siang baju yang dipesan pun belum datang memang belum dibelikan atau sengaja tidak dibelikan dulu sama Rendah karena saat ini sang istri kecilnya itu di kerjain habis-habisan bahkan seluruh tubuh yang istri sudah di sapu dengan bibir dan tangannya belum juga puas dia menyerang sang istri beralih bagian bawah lalu bagian atas
Hingga tubuh Rena penuh kiss mark
hari makin siang belum juga memulangkan sang istri ke rumah maupun ke rumah mertuanya.
Rendra pun keluar dari bathub dan memakai bath robe. "Sana ganti baju dulu, nanti kita pulang!" kata Rendra dengan cueknya berganti pakaian di hadapan Rena.
"Ayo ganti pakaianmu cepat kita pulang," kata Rendra.
"Bang Rendra gak keluar Rena malu?" tanya Rena
kenapa malu Ren, semuanya sudah abang lihat dan abang pegang kamu kelamaan Ren, sini abang bantu kamu pakai baju agar cepat selesai," kata Rendra
__ADS_1
"Rena jadi bengong ketika dengan cepat melepaskan bath robe lalu memakaikan semuanya, tak lupa masih sempat menggoda dengan menciumnya dulu yang bawah dan yang atas sambil terkekeh.
Ketika sang istri berteriak atau menarik nafas berat.
"Bang Rendra, Rena lapar nih, Abang gak cari makan kata Rena.
"Sebentar lagi makanan juga di bawah kemari," kata Rendra.
Setelah makan mereka pun keluar dari restoran Rendra dengan motor moge nya Rendra untuk berjalan-jalan. Rendra tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke suatu tempat dimana bisa menikmati pemandangan yang indah. Rendra membawa Rena melihat air terjun di suatu tempat.
Berjalan meleok-leok di antara mobil, Ia pun membawa sang istri berjalan-jalan ketempat yang ia inginkan, kemudian ia sampai di sebuah pegunungan dan di sanalah mereka dapat menikmati air terjun yang indah, tepatnya sedikit sunyi, membuat mereka lebih nyaman dan Rena merasa sangat senang, seolah-olah ini adalah liburan padahal dia lagi sedang bolos sekolah karena ulah sang suami.
"Benar loh besok antar Rena sekolah," kata Rena
"Iya, sayang," kata Rendra
Mereka pun bermain air di air terjun saling bersenda gurau menikmati indah dengan pasangan kekasih yang halal.
Mereka pun duduk bebatuan di antara air terjun yang mengalir, saling berpelukan menikmati indahnya alam bersama sang istri tercinta lalu berburu kuliner, di tempat itu banyak jajanan dari yang tradisional maupun yang kue-kue pada umumnya.
Berjalan berdua antara bebatuan sungai saling bergandengan dan berlari di atas rerumputan, menikmati sejuk angin sepoi-sepoi membelai tubuh, sang kekasih, di dekap manja, alunan gemericik air, memberikan kenyamanan tersendiri, saat tubuh Kokoh memeluk erat tanpa terlepas.
Rendra menatap tubuh kecil itu, yang bermain di bawah air terjun tertawa menatapnya, membuat hatinya bahagia, hari ini dia ingin memanjakan Rena di alam yang indah. Lalu mereka berjalan kaki bukit yang indah, dengan panorama alam yang menyejukkan hati, membuat kita semakin terlena dengan keindahan alam yang ada, Rendra duduk di rumputan lalu berbaring di sana, menikmati awan yang indah, ditariknya tangan sang istri hingga menabrak tubuhnya yang kekar, lalu dipeluknya sang istri mengajaknya berbaring di atas rerumputan, memandang langit yang cerah, menikmati harumnya tubuh kekasih, yang berada dalam pelukannya.
__ADS_1
Cinta antara mereka berdua begitu menggebu berlarian seperti air yang mengalir, seirama hati yang sedang bahagia. Suatu yang tak ternilai yang dia miliki adalah sang istri tercinta, merupakan anugerah terindah yang diberikan kepada Allah, apa yang ada saat ini harus tetap melangkah takkan peduli. Baginya Rena seorang, bibir tipis sang istri menjadikan dahaganya setiap hari, tatkala mengiginkan hangatnya nafas, ingin berbagi satu sama yang lain, memberikan kehangatan lewat sentuhan indah bibir dan jemari hangat membelai tubuh yang yang indah.
Layak perbukitan dengan ceruk indah mewarnainya, Rendra dengan memeluk tubuh kecil yang indah mulai membelai setiap detik nafas nafas Cinta, mewarnai sudut-sudut hati, memberikan kenyamanan, membuat tak mampu beranjak dari pelukan, ingin selalu berada di dalam dekapan tanpa jeda waktu yang membuat rindu, menghirup nafas membaur setiap saat, tatkala hati bergejolak Rindu menahan hasrat tak terkendalikan, tanpa mau bicara hanya sentuhan isyarat nada, yang mampu menjangkau hati lebih dalam, hingga dahaga terpuaskan, dengan air cinta yang mengalir tak putus di ujungnya, membuat rindu tak pernah habis, walau telah diberikan setiap saat, setiap waktu, detakan nadi mengukir lembut hasrat yang selalu tumbuh dengan luapan emosi cinta yang tak terbendung, bagai aliran sungai yang mengalir dari perbukitan, turun melintasi debaran jantung, membuat irama yang indah di setiap emosi cinta, menginginkan balasan dari sang kekasih, yang tak berhenti memberikan keindahan tiap detik dan nafas yang selalu mengalir di dalam tubuh, hingga tak sanggup berpaling dari indahnya nuansa hati, yang memberi kesejukan setiap saat, menginginkan keindahan yang tak pernah pudar walau diterpa panas, air, angin membelai tubuh dalam luapan kebahagiaan yang tak pernah berhenti, selalu ditumbuhkan setiap waktu, tak peduli hingga senja mulai menghilang dari tatapan mata serta sentuhan jiwa membuat kita merasa selalu bahagia, tanpa ada rasa sedih yang mengusik setiap kerinduan, yang mengalir indah di hati, tanpa bisa dicegah dengan sebuah kata-kata yang mungkin tak bermakna.