
Ammar dan Azizah sampai rumah sudah mendekati waktu magrib, karena menemani suaminya menemui kliennya.
Begitu masuk rumah terasa sepi, mungkin papa dan mama ada di kamar itu pikirnya.
Izah menaiki tangga menuju lantai atas di rumahnya bersama suaminya. di liriknya kamar Nara masih tertutup. Memang ada perubahan perilaku sejak 4 hari yang lalu. Gadis itu begitu tertutup, Izah menghelah nafas panjang.
"Ada apa, kenapa berhenti?" tanya Amar sambil mengikuti sorot mata Izah.
"Nanti saja mam, pada waktu makan malam, dan enggak usah tanya dulu kita lihat dulu apa maunya nanti."
Ammar menggandeng tangan istrinya dan memasuki kamarnya.
Waktu maghrib telah tiba, seluruh anggota rumah itu melaksanakan sholat magrib berjamaah di mushola rumah. Setelah sholat magrib, Izah dan amar mencium punggung tangan Rina dan Burhan lalu Izah mencium punggung tangan suaminya. Nara pun demikian mencium punggung tangan nenek, kakek, Ayah dan ibunya.
"Ra, habis ini bantu mama dan omah siapkan makan malam, jangan hanya di kamar saja."
"Baik mam."
Omah, mama dan Nara menyiapkan makan malam setelah itu mereka makan dengan tenang di selah makan malam Nara membuka suara," Ma, aku ingin ke vila puncak untuk 2 Minggu."
"Kenapa mendadak keputusannya apa kamu punya masalah?"
"Enggak ma, cuma lagi penat aja ma, ingin healing aja."
"Ok! nanti biar di antar Arun, kata bang jun putranya itu lagi ada kegiatan di Bogor jadi sekalian aja berangkat dengannya. Kapan mau berangkat?"
"Besok ma,"
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan sebelum berangkat dengan mama?"
"Enggak ma."
__ADS_1
"Ok! mama cuma mau bilang Aila adalah tante mu meski usianya sama dengan kamu, mama harap kau menghargai hati tante mu Ra. Persaudaraan lebih penting dari sekedar hati yang tak terbalas."
"Maksudnya ma Nara gak ngerti."
"Kamu ngerti Ra, apa maksud mama."
"Ya ma, Nara ngerti."
Setelah percakapan dengan mamanya Nara pun menyelesaikan makan malamnya lalu setelah selesai ia membantu mamanya membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah itu kembali ke kamarnya. Dengan langkah gontai ia menaiki tangga menuju kamarnya, membuka pintu lalu menutupnya kembali di hempaskan tubuh di Atas ranjang.
Menatap langit-langit kamarnya, tak ada yang menarik dari hubungan dia dan tantenya Aila.
Tantenya seolah memasang dinding tembok yang tinggi itu menurutnya, tapi tidak dengan Aila tantenya. Tantenya tak pernah marah jika dia di bully karenanya. Namun semenjak bertemu Frans tantenya begitu jauh dari jangkauannya."Nara kamu pulang sama daddy mu, aku masih ada perlu." sambil tersenyum berlari ke kebun sekolah. Di pejamkan matanya.
Nara tersenyum," Aku yang berubah tante bukan kau, aku berubah padamu saat aku pun suka dengan sahabat kecil itu tante seolah kau lah penghambat aku untuk bisa mendekati Frans."
...****...
Diki melajukan mobilnya di rumah kakaknya, di sebuah rumah besar yang terhubung dengan tempat usaha kakak Iparnya.
Diki Seorang dokter spesialis jantung yang baru menyelesaikan studi di Surabaya itu di pindah tugaskan ke Jakarta, hari ini begitu dia sampai di Surabaya menghubungi teman-teman SMUnya untuk berkumpul. Dia sengaja melakukan perjalanan darat dengan mobilnya, sekalian singgah di tempat yang dia inginkan.
Saat berkumpul dengan temannya itulah hatinya berbunga namun layu seketika.
Tiba di rumah kakaknya dia langsung keluar dari mobil yang terparkir tepat di halaman rumah itu. langkah kakinya melangkah lebar melintasi halaman rumah menuju ke rumah besar yang tampak lengang, Dia menekan bel berulang hingga pintu pun terbuka seorang muncul dengan tampang marah, namun seketika mata membola lebar dan senyum lebar menghiasi wajahnya lelaki yang di hadapannya itu mengucap salam lalu tertawa, wanita itu pun menjawab salam sambil memukul gemas lelaki yang di hadapannya.
"Kebiasaan dari kecil gak ilang-ilang mainin bel, naik pesawat jam berapa baru sampai jam segini?"
Aku lewat darat berangkat jam 4 pagi kemarin malam sampai, nginep di hotel dulu mau mampir ke rumah mas Yudi, gak enak sudah malam. Dan ini tadi kumpul sama teman-teman dulu. Gue kayak penjahat di interogasi di depan pintu." katanya terkekeh
"Ehh? mbak sampai lupa , ayo masuk." kata wanita itu.
__ADS_1
namun sebelum masuk rumah nampak mobil masuk dari pintu depan dan parkir di sebelah mobilnya Diki, tak lama kemudian seorang lelaki yang perawakan hampir sama dengan Diki keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat sambil menyunggingkan senyumnya." Baru datang dek, kok gak di ajak masuk sih Yun." katanya sambil menepuk bahu adiknya.
"Baru saja aku mau masuk sama mbak Yuna, mas Yudi datang."
Mereka pun masuk kedalam," Taruh dulu koper mu di di kamar dulu, bersih-bersih dulu sana." kata Yudi pada adiknya. Diki menggangguk lalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Yuna menyiapkan makanan di meja makan, Yudi menghampiri istri dan memeluknya dari belakang," Aryan gak telpon."
"Enggak semenjak dia dapat beasiswa Harvard University, tak pernah telpon kalau kita gak telpon dulu katanya sibuk."
Yudi melepas pelukannya ketika terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.
"Kenapa di lepas aku gak akan keberatan jadi saksi kemesraan kalian berdua." kata Diki sambil terkekeh setelah sampai di meja makan.
"aku gak tega sama jomblo akut." kata Yudi menimpali adiknya.
Diki pun di sebelah Yudi mengambil piring lalu mengambil nasi dan lauknya. Dia menyuapkan makanannya setelah berdoa terlebih dulu." Aku kemari cuma numpang makan dan tidur, besok aku ke puncak mumpung belum bertugas, hotel mahal kalau di sini gratis." katanya sambil terkekeh. Yudi tertawa sambil meninju Adiknya. Mereka pun makan dengan tenang.
...****...
Ditempat lain di rumah Imran dimeja makan saat makan malam bersama. Raya dan Luki berkunjung ke rumah orang tua bersama Reno putranya. Di kesempatan itu di gunakan Raya untuk menyampaikan jadwal pemeriksaan Aila.
"Ai, dua hari lagi jadwal mu periksa ya, Frans kamu temani Aila ya periksa ya.
"Ya jelas lah tante masak tega biarkan Aila pergi sendiri dan hadapi pemeriksaan sendiri."
Kata Frans sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya."
Reno menjebikan mulutnya." Kemarin siapa yang tegah bikin kak Ai pergi? Ayo." kata Reno sambil menyipitkan matanya.
"Kak Frans gak tahu Ren, gak kenal nanti kak Frans tanyakan sama kak Ai," katanya pura-pura gak tahu.
__ADS_1
"Yeh, ngeles dia pa."