
masih di rumah sakit..
imma hanya berbaring lemah di kamarnya, dia di temani nenek dan ibunya.
ayah imma pulang dulu, karena harus menemani adik" imma.
ibu dan nenek imma sedang berbincang, tiba" dokter datang untuk melihat kondisi imma.
setelah selesai memeriksa, dokter pun mengajak ibunya imma ngobrol dan sesudah itu dokter keluar.
selang beberapa menit, ada suara ketukan pintu.
ibunya imma langsung melihat siapa yang mengetuk pintu.
"eh a Raka, masuk a! " terdengar suara ibu imma menyuruh Raka masuk.
lalu ibu imma mengajak ibunya untuk keluar kamar. .
sebelum nenek ke luar, Raka terlebih dahulu bersalaman sambil mencium tangan neneknya imam.
sang nenek pun tersenyum, dan menepuk pundak Raka.
Raka langsung menghampiri imma yang dari memejamkan mata, di lihatnya wajah imma, semakin ia melihat imma, semakin berdegup kencang jantung Raka.
"apakah aku mulai menyukainya? " , ucap Raka dalam hati...
ingin Rasanya Raka mengusap kening imma,
"astaghfirullah, apa-apaan ini, kenapa saya berpikiran seperti itu? " Raka memarahi dirinya sendiri.
Raka pun meletakan kresek putih di laci dekat ranjang imma, lalu imma mulai membuka matanya.
imma : eh a Raka (sambil berusaha bangun)
Raka : sudah tiduran saja teh, teteh kan lagi sakit.
gimana sekarang keadaannya?
imma : alhamdulillah a, sekarang sudah gak terlalu pusing.
Raka : syukurlah teh, jangan banyak gerak dulu ya.
imma mengangguk..
imma : oya, kenapa aa gak berangkat kuliah?
Raka : besok saja teh, tadi sudah izin ke temen.
imma : loh kenapa izin? aa kan gak apa"..
__ADS_1
Raka : sebelum melihat keadaan teteh, saya belum bisa tenang. saya kan berangkat kuliah pake motor, kalo di jalan saya mikirin teteh nanti saya bawa motor gak konsen, bisa bisa saya nabrak, mati deeh..
(sambil memiringkan kepalanya)
imma : ish apa sih yang aa bicarakan, aa gak boleh ngomong gitu, saya gak suka. kalo aa ngomong gitu lagi, saya gak mau temenan sama aa. (sambil cemberut)
Raka yang melihat imma cemberut, mencoba menghiburnya. karena Raka paling tidak mau, kalo imma sedih.
Raka : maaf teh maaf, saya cuma becanda. maafin ya?
imma : gak, mati di pakai becandaan. gak lucu tauu...
Raka : iya teh, saya salah.. maafkan saya ya, kalo teteh gak maafin saya, nanti saya bisa mati beneran lohh..
imma : tuh kan, aa bahas lagi soal mati. pokoknya aa gak boleh mati, saya gak mau kehilangan orang seperti aa. aa orang yang peduli setelah orang tua saya. jangan pernah ninggalin saya a ( sambil meneteskan air mata)
Raka yang melihat imma menangis, langsung mengusap air mata imma dengan tangannya.
Raka : jangan menangis teh, insya Allah selama saya masih hidup, saya tidak akan meninggalkan teteh.
imma : mungkin selama aa belum menikah, karena kalo aa sudah menikah, mana mingkin aa ngurusin saya. (sambil sedikit tersenyum )
Raka : insya Allah aa akan mencari wanita yang bisa nerima teteh juga, karena teteh sudah saya anggap sebagai adik saya. jadi calon istri saya harus mengenal teteh juga.
imma : tapi saya juga mengerti a, saya minta aa jaga saya sebelum aa nikah saja. sesudah nikah, kewajiban aa menjaga istri aa.
Raka terdiam mendengar pernyataan imma, karena dalam hati kecil Raka, dia tidak mau jauh dari imma.
"maaf nona imma, waktunya makan dan minum obat " kata perawat itu.
"iya , terima kasih " jawab imma..
perawat itu pergi meninggalkan ruangan imma..
Raka pun keluar untuk melihat ibu dan neneknya imma, tapi dia tidak menemukan mereka.
Raka pun kembali lagi,
Raka : teh, ibu dan nenek teteh gak ada.
imma : gpp a, saya makan sendiri saja. (sambil mencoba bangkit) .
Raka pun membantu imma, dan membantu memberi mangkuk isi bubur ke imma.
tapi sepertinya imma kesusahan, karena tangan kanannya di infus.
Raka : sini teh saya suapin, tangan kanan teteh kan di infus..
imma : gpp a, pakai tangan kiri saja.
__ADS_1
Raka : sudah jangan keras kepala, kalo teteh menganggap saya kakak, sudah jangan ngeyel. (sambil membawa mangkuk dari tangan kiri imma)
imma hanya tersenyum..
Raka menyuapi imma dengan sangat hati-hati..
tanpa mereka ketahui, ternyata nenek dan ibunya melihat mereka dari kaca pintu kamar.
neneknya terlihat senang, melihat kebersamaan mereka.
"andai saja teh imma punya calon suami sebaik ank Raka, nenek pasti tenang nyi " , celetuk nenek imma kepada ibunya imma.
"iya mak, tapi tidak mungkin. nak Raka anak orang kaya, sedangkan kita orang biasa, orang tua nak Raka mana mungkin setuju. lagian pasti nak Raka sudah punya calon istri. mana mungkin kan cwo sebaik dan setampan nak Raka tidak punya pacar", jawab ibunya imma
"tapi hati emak mengatakan, kalo nak Raka menyukai teh imma, coba nyai lihat perlakuan dia ke neng imma, sangat lembut dan penuh perhatian".. nenek imma mulai memperhatikan.
"kita do'akan yang terbaik untuk mereka mak " , pembicaraan mereka selesai dengan mendo'akan imma dan Raka.
sesudah selesai menyuapi imma, Raka pergi ke mushola rumah sakit dan melaksanakan sholat.
sesudah sholat, Raka mendo'akan kesembuhan imma.
pas mau keluar, Raka melihat nenek Imma duduk di belakang Raka, Raka pun menghampiri neneknya imma.
Raka : nenek sudah sholat?
neneknya imma : panggil saja emak , nak... sambil tersenyum
Raka : oya mak, mari ke kamar teh imma bareng saya.
(sambil menyodorkan tangan)
neneknya imma : nanti dulu nak, emak mau bicara sama kamu.
Raka : iya mak, soal apa? (sambil menyilangkan kaki)
neneknya imma : nak Raka sudah mempunyai pacar?
Raka sedikit kaget dengan pertanyaan neneknya imma.
Raka : kebetulan sekarang saya tidak punya pacar mak, cuman lagi deket saja. itu pun sebatas teman.
neneknya imma : syukurlah, emak jadi bisa menitipkan imma, tolong jangan bikin cucu nenek menangis ya nak. (sambil memegang tangan Raka)
Raka : insya Allah mak, saya akan jaga teh imma sekemampuan saya. (membalas pegangn neneknya imma)
neneknya imma : saya berharap, imma mendapatkan suami sebaik nak Raka.
Raka mengaminkan do'a neneknya imma, dan tersenyum.
__ADS_1
entah kenapa hati Raka bahagia mendengar perkataan neneknya imma.
padahal mustahil bagi Raka, karena hubungan dia dengan imma hanya sebatas sahabat.