
*Kriiiiiiingggg* suara alarm weker di kamar berbunyi, Anin mengerjapkan matanya serasa tubuhnya begitu berat, mencoba membuka matanya.
Dia melihat tangan Rafa melingkar di perutnya, Anin dengan pelan-pelan memindahkan tangan Rafa dari perutnya, namun tangan itu justru semakin erat dan malah semakin mengukungnya.
Anin melebarkan matanya terkejut ternyata Rafa sudah bangun dari tadi, menatap dengan tatapan mendambah, Masih jam 3.00 aku ingin melakukannya An," katanya sambil tangannya sibuk melucuti semua pakaian Anin.
Tak butuh waktu lama mereka pun larut dalam kegiatan panas yang menyenangkan hingga kepuasan keduanya terpenuhi.
Rafa menatap Anin yang terlihat kelelahan, disekahnya keringat di kening istrinya," Maaf membuat mu takut, masih sakit pergelangan kakinya?" tanyanya pada Anin, Anin menggangguk.
"Sekarang sakitnya bertambah, itu juga sakit," kata Annin sambil mengerucutkan bibirnya.
Rafa mengecup sekilas.
" Itu tandanya minta di ulang sekali lagi," katanya sambil tergelak. Anin memukul dada Rafa yang masih mengukungnya.
"Emm...tapi mau subuh Fa."
"Memang siapa yang mau nambah sekarang?" katanya sambil tertawa
"Kau menyebalkan." kata Anin sambil memunggunginya.
Rafa memeluk tubuh polos itu dari belakang mengecup bahu polos itu sambil berbisik "Benarkah aku menyebalkan."
"Hem." jawab Anin memejamkan matanya menahan rasa yang diciptakan oleh Rafa.
Tiba-tiba Rafa melepaskan pelukannya dan beranjak pergi.
Anin terkejut sepontan berbalik "Apa kau marah Fa?"
Namun lebih terkejut lagi dia setelah tahu Rafa masih duduk di bibir ranjang dengan derai tawanya, setelah bisa menggoda istrinya.
Rafa menoleh sesaat terlihat semburat merah di wajah Anin.
Rafa tersenyum," Nanti di lanjut lagi sudah mau subuh."
Anin memukul punggung Rafa," Kok kesannya aku yang minta sih Fa."
"Kan emang lo yang minta," kata Rafa menyeringai, sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Enggak!" Kata Anin jengkel.
"Kalau lo ngak minta gue paksa lo agar minta," katanya sambil tertawa mengambil handuk lalu di lilit kan ke pinggang dan berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
terdengar pintu tertutup dan diikuti gemiricik air di dalam kamar mandi.
15 menit kemudian Rafa keluar dengan berbalut handuk sebatas pinggangnya dengan rambut yang masih basah.
Dia mengambil baju koko dan sarung dari lemari.
"Nin, ayo bangun mandi dulu sana sudah ku siapkan air hangat dengan aroma terapi, berendam sebentar agar badan kamu segar, aku ke masjid dulu."
"Hem," Anin tak bergeming."
"Hai siput, cepat bangun!" Perintah Rafa lagi sambil menarik selimut hingga terlepas dari tubuh Anin membuat wanita itu kelabakan mencari penutup tubuhnya sementara itu Rafa sudah berjalan keluar dari kamar sambil tertawa.
Masih terdengar tawanya di telinga Anin membuat wanita itu tersenyum," baru kali ini ku dengar tawa mu Fa."
Anin melangkah ke kamar mandi dengan bath robenya. Di dalam bathtub sudah terdapat air hangat ia pun berendam di dalamnya.30 menit dia berada di dalam kamar mandi setelah berendam dia pun mandi suci, lalu keluar dari kamar mandi dengan bath robe dan handuk kecil di atas rambutnya.
Anin pun segera berganti pakaian dan mengenakan mukena melakukan sholat subuh sendiri, setelah selesai ia berganti yang di sukai Rafa.
Dia melihat kulkas hanya ada telur dua butir. termenung beberapa saat melihat isi kulkas kosong.
Rafa yang baru pulang dari masjid langsung ke kamar dan tak menemukan, Rafa berganti pakaian yang lebih santai kaos oblong dengan celana pendek Cargo.
Dia keluar dari kamar berjalan ke dapur. Dia melihat Anin berdiri di depan kulkas yang pintunya terbuka.
"Kenapa, hem?"
Anin menoleh, "Gak ada bahan makanan Fa."
"Tapi masih ada makanan nin."
"Mana?" gak ada Fa.
"Kamu, makan kamu dulu, baru makan yang lain," katanya sambil mengendong Anin dan masuk ke dalam kamarnya.
Hampir 2 jam berbagai pelu akhirnya Rafa terpuaskan, Dia mencium kening Anin, "trimakasih siput," katanya sambil terkekeh.
"Lo gak ada romantis-romantisnya Fa," keluh Anin.
"Gimana bisa gue romantis sama lo? lo hadir tiba-tiba dalam hidup gue, dan dalam situasi yang benar-benar salah."
"Saat aku melihat bercak darah di sprai itu, ku yakin kamu gadis baik-baik tapi kenapa kamu tersesat di tempat yang tidak baik. Aku marah kenapa aku bisa bersama mu dalam keadaan benar-benar buruk, padahal tidak ada minuman berakohol."
"Mungkin mbak Clara kasih sesuatu di minuman mu. malam itu kau benar-benar menakutkan Fa."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Hem, Bukti nyata bajuku robek dan tak berbentuk."
"Maaf, untuk waktu itu, dan maaf meragukan mu."
"Hem."
"Lo tahu nin saat itu gue takut lo hamil, gue bingung bagaimana bicara dengan bokap dan nyokap, lo gak masuk kuliah 2 hari. gue cari di mana-mana tapi gue malah menemukanmu masih bekerja di sana."
Tadi malam kemarahan ku memuncak karena kamu tak patuh pada ku, hanya denda 50 juta saja kau nekat masih bekerja di sana, apa kau lupa aku bisa membayarnya, bahkan lebih dari itu aku sanggup membayarnya."
"Maaf, ku kira aku tak pantas untuk membicarakan itu dengan mu karena kamu tak mencintaiku."
"Kau tinggal bilang, Fa aku tak bisa berhenti harus membayar denda 50 juta.
maka saat itu akan ku bereskan dan aku tak perlu melihat mu dengan pakaian seperti itu dipandangi beberapa Pria, kau tahu nin harga diri ku saat itu terluka."
"Maaf Fa."
Rafa bangun dari ranjangnya duduk di bibir ranjang sambil mengetik sesuatu di hpnya."
"Aku mandi dulu sebentar ya, sudah ku pesankan makanan mungkin 15 menit lagi pesanan datang."
Rafa pun mandi dengan cepat 10 menit ia pun keluar dari kamar mandi. lalu mengenakan pakaian yang tadi yang baru di pakainya beberapa menit.
"Nin, mandi! habis itu kita makan, pakai pakaian yang kau mau."
"Benarkah aku tidak perlu berpakaian seperti tadi?"
"Malam saja," katanya sambil terkekeh
"Sama saja ternyata." katanya sambil beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi.
I5 menit dia keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaos oblong dan celana panjang bahan kaos yang agak longgar, berjalan menuju dapur, Ia melihat Rafa sudah duduk di mini bar.
"Nin Kemarilah duduk di sini." katanya sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya.
Anin tersipu, hatinya menghangat. Ia pun duduk di sebelah Rafa.
"Makanlah, aku takut kamu pingsan lagi karena tak kuberi makan." katanya sambil tersenyum dan meletakan box berisi makanan di depan Anin.
"Setelah ini kita akan belanja, kalau boleh tahu kau bisa masak apa saja sih? jangan sup lagi ya aku bosan."
__ADS_1