
dua hari mereka berada di villa puncak Bogor dan hari ini mereka memutuskan untuk pulang Jakarta.
mbak Riri sudah menyiapkan makanan istimewa yang biasanya ada di villa ayam bakar dan sayur asem serta sambal terasi udang balado semuanya ada di atas meja.
Setelah menyiapkan itu semua mbak Riri pun pulang ke rumahnya untuk merawat anaknya yang masih kecil cuma Mbak Ririn memang dekat Karena dialah yang bertugas untuk menjaga Villa bersama suaminya.
Rendra dan Rena pun sarapan pagi dengan menu yang di siapkan Mbak Riri, mereka makan dengan sangat lahap dan memang masakannya sangat lezat.
Setelah selesai sarapan mereka pun keluar dari villa dan masuk ke dalam mobilnya lalu berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalan raya menuju kota Jakarta.
Perjalanan selama tiga jam telah ditempuh dan mereka sudah masuk ke dalam pintu gerbang rumah Angga, mobil pun berhenti Mereka pun keluar dari
Mobil.
Terdengar riuh sambutan dari empat Crucil yang menghampiri mereka.
"Om tante mana oleh-olehnya," tanya mereka berempat
"Loh kalian kan nggak pesan jadi ya nggak beli apa-apa," kata Rendra
"Harusnya kalau nggak pesen tetep beli dong Om kita kan pasti nunggu oleh-oleh dari Om sama Tante," protes mereka berempat.
"Minta beli sama ayah dan ibumu sana," kata Rena Sambil tertawa
"Yee Tante pelit," kata mereka.
"Ya biarin saja lebih enak begitu, uang Tante itu nggak kurang buat kalian, di rumah malakin tante di sekolah malakin teman kamu," kata Rena pada mereka
"Kita nggak pernah begitu tante yang ada kita itu dikasih nah kalau dikasih kan nggak boleh nolak salah sendiri mau ngasih kita ya kan, Om Bay," kata Aska.
"Mana kutahu lah," kata Bay
"Hahaha, Betul, Dek," kata Rena pada Bay adik sepupu itu.
"Ah kamu payah masa nggak dukung kita," kata Aska keponakan Nara itu.
__ADS_1
"As, kamu tuh sebenarnya mirip siapa sih Ayahmu itu dulu nggak sebandel kamu," kata Rena pada ponakannya
"Mirip tante lah siapa lagi kalau bukan tante," kata Aska yang membuat empat krucil itu tertawa.
"Eeh, Enaknya, aku nggak kayak kamu ya, As. Aku dulu nggak seperti kamu, awas kamu yaa," kata Rena mau mengejar ke tiga krucil itu.
"Sudah-sudah jangan dikejar nanti kamu capek sendiri anak-anak memang begitu suka godain," kata Rendra
Mereka pun masuk ke dalam rumah terlihat beberapa keluarga berkumpul di sana ada Nara dan Diki, Tante Aila dan Frans, Rafa dan Anin kemudian Bara dan Ratih serta Azizah dan Ammar.
Begitu sampai mereka telah disambut dengan candaan dari Nara," waduh habis makan durian," kata Nara sambil terkekeh
"Emang siapa yang makan durian? di sana juga nggak ada durian," kata Rena
"Hahaha, yang makan durian adalah Rendra," jawab Nara
Semuanya tertawa Rendra pun hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
"Gimana, apa sudah sudah gol kamu? empat tahun baru Gol dia, bola hanya di mainkan di tangan dan di kaki," canda Diki.
"Loh siapa yang ngelarang, ayah cuma bilang jangan sampai hamil dia masih sekolah," kata Angga tertawa.
"Yaa, Ayah curang dulu ngomongnya nggak begitu, tahu begitu sudah aku bawa ke tante Raya," kata Rendra mengeluh.
"Salah sendiri loh nggak punya inisiatif, kalau punya, lo sudah makan tuh duren dari dulu, " kata Rafa
"Lah saya itu takutkan sama Ayah, kata ayah gak boleh yaa, Ren tunggu Rena lulus kamu kuat apa enggak, yaa, saya bilang kuat wong saya cinta sama dek Rena tapi aslinya yah gak kuat, dua tahun yang lalu, Yah," jawab Rendra.
"Sekarang, 'kan sudah, Ren?" tanya Diki
"Iya, Sudah, kenapa?" tanya Rendra
"Ya, kalau sudah ya berarti rejeki kamu sekarang bukan dua tahun yang lalu?"kata Diki terkekeh.
"Bercandaan kamu itu garing tahu," kata Rendra
__ADS_1
"Aku tahu Ren, kalau orang yang lagi kasmaran itu apa pun, ya di anggap garing, wong yang di ingat cuma istri dan ranjang," kata Diki frontal.
"Nggak gitu, memang candaan kamu benar-benar garing," kata rendra menanggapi gurauan Diki.
Diki tertawa. "Aduh nggak lucu ya, maklumlah, 'kan bukan pelawak," kata Diki terus tertawa.
"Ayo sayang kita ke kamar kita baru sampai dari Bogor mungkin kamu capek," Kata Rendra merayu istrinya Rena.
"Abang di sini aja lah, sama Bang Bara, Bang Diki, Bang Rafa dan Om Frans," kata Rena pada suaminya.
"Loh, mereka semua kan ada istrinya nah kalau kamu ke kamar ya Abang juga ke kamar kalau kamu di sini ya aku di sini," kata Rendra.
"Sudah sana ajak suamimu ke kamar barangkali Rendra capek karena harus nyetir dari Bogor ke sini kan," kata Angga yang terseyum melihat putrinya malu pada saudara.
"Rena dan Rendra pun pergi ke kamar meninggalkan mereka yang sedang berkumpul di rumah Angga, memang dikumpulkan untuk menyambut kedatangan Rena. Namun, agar tidak menyolok Mereka pun seperti sedang bermain di rumah Angga,"
Rendra dan Rena masuk ke dalam kamarnya. Namun, alangkah terkejutnya mereka saat melihat keponakan dan adiknya itu ada di kamar mereka.
"Kalian mau apa ke sini?" tanya Rena.
"Mau tanya sama Om, emang sekarang musim durian om? Tante cari di mana duriannya? Soalnya kami juga pengen makan durian," kata mereka
Seketika itu yang Rendra pun tertawa. "Itu hanya gurauan ayah-ayah kalian saja. Belum ada musim durian jadi sekarang kalian keluar dari kamar tante," kata Rendra.
"Om dan Tante bohong jelas-jelas ayah-ayah kita bilang kalau tante dan om habis makan durian," kata mereka.
"Dik Bay bantu Mas, dong! Ajak Mereka pergi dari kamar Mas agar Mas segera bisa istirahat ini beneran Mas tidak tahu, tanya deh sama ayah kalian karena Mas itu dikasih sama mereka buat makan di sana," kata Rendra pada akhirnya untuk membuat mereka pergi.
"Bener yang Om katakan, tidak sedang berbohong kan?" tanya Azka pada Rendra
"Terus ngapain Om berbohong, Kalau Om tahu tempatnya sekarang juga Om bawa, mana Om, 'kan nggak bawa," kata Rendra pada Aska.
"Ya sudah kami mau tanya sama Ayah," kata Aska sambil mengajak yang lain keluar.
Mereka pun menemui ayah mereka masing-masing yang masih duduk di ruang tengah.
__ADS_1
"Ayah kata Om Rendra ayah tahu tempat penjual durian, katanya om yang beliin durian Ayah, apa itu benar? Aska juga mau dong yah," pinta Aska yang membuat mereka terdiam semua dan Bara jadi bingung menjawab apa, pasalnya sekarang ini lagi tidak musim durian.