
Pagi hari keluarga sudah berkumpul di rumah sakit. Ingin menjemput Bayhas
para tetua ada di dalam ruangan.
"Frans, Aila, kalian mau pulang ke mana? tanya Raka pada anak dan anak menantunya.
"Kalau aku terserah Frans si Dad, di rumah kakek atau di rumah Dad gak papa," kata Aila pada Raka
"Kalau saya memutuskan untuk tinggal di rumah kakek Imran apa tidak apa-apa, Dad?" tanya Frans pada Raka.
"Tidak apa-apa senyaman kalian saja Daddy tidak apa-apa Imran juga orang tua kalian, nanti kalau Daddy kangen bisa berkunjung di sana, selama Bayhas belum kuat fisiknya, jangan di ajak berpergian," kata Raka menasehati keduanya.
Setelah membereskan administrasi merekapun memutuskan untuk segera pulang ke rumah Imran. Frans dan Aila berada di mobil Luky bersama kakek dan nenek.Sementara itu, yang lainnya ada di belakang mobil Frans.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai ke rumah Imran.
Imran menunjukkan kamar bayi yang akan di tempat Bayhas. Tempat yang begitu cantik dan elegan, warna tembok perpaduan dari putih dan biru dengan box bayi yang berwarna biru dan putih
Aila melatakan baby Bayhas.
Kapan kalian aqiqoan? tanya Raka pada mereka.
"Besok mungkin, Dad. karena sekarang sudah satu Minggu, dan harusnya sekarang, karena baru datang belum ada Persiapan, Dad."
"Besok ya, Frans. Mar, tolong di atur yaa," katanya pada Ammar.
__ADS_1
Di sana di sambut dengan makanan sederhana menggugah selera, mereka di persilakan untuk sarapan.
Mereka makan dengan sangat lahap dengan lauk yang sederhana. "Makanan begini ini yang paling enak menurutku, bahkan kalau aku di suruh milih makanan lain aku tetap akan memilih makanan ini, karena sangat lezat dan bergizi.
setelah makan mereka bercengkrama dan bergurau, mereka akhirnya pulang melanjutkan aktivitasnya hari ini.
Raka dan Imran masih berbincang-bincang dengan hangatnya.
Bayhas tidur dengan lelapnya walaupun rumah ramai tak mengusik tidursang bayi. Aila memeluk Daddy dengan erat, Daddy gak usah pulang aja menginap di sini yaa, apa gak ingin gendong Yhas," tanya Aila pada Daddynya.
"Ya jelas mau dong tapi dia loh tidur seperti ia suka dengan suasana rumah ini." kata Raka pada besannya.
"Ah, bisa aja pak Rak ini, rumah ini jauh dari rumah Bapak," kata imran tak ingin di puji.
Hari semakin siang Raka pun pamit pada besannya itu."
Ailah menghampiri Ayahnya lalu memeluknya, Dad, Aila masih kangen sama daddy, kenapa gak nunggu dia bangun Dad."
Raka terkekeh melihat Aila yang masih manja padanya. "Kamu itu sekarang bukan anak kecil lagi, kamu sudah punya anak Ai harus lebih dewasa lagi."
"Yah kan memang masih anak-anak pada waktu kita menikah, jadi wajar Aila itu masih manja pada Daddy." kata Aila.
"Yah- ya Daddy menikahkanmu masih kecil tapi sekarang kamu bahagiakan dan yang paling penting kamu sembuh dari sakitmu," kata Raka sambil mencium kening putrinya itu. Lalu Aila memeluk Rima. "Berbaktilah pada suami mu Ai karena wanita itu surganya adalah suaminya itu," kata Rima pada putrinya itu. Setelah di rasa cukup Raka dan Rima berpamitan pulang ke rumahnya.
Setelah semua pulang penghuni rumah tinggal berlima saja. Imran sedang berada dikamar Yhass, menatap bayi mungil yang lucu itu. Matanya berkaca-kaca, paduan wajah yang khas antara Aila dan Frans. Frans menghampiri Kakeknya, di tatapnya wajah kakeknya. "Bagaimana dengan perasaanmu Frans siapa yang tinggal dan siapa yang keluar?" tanya Imran.
__ADS_1
"Betul katamu, Kek. Nama Aila yang tersimpan sejak dulu, hanya Aila," kata Frans menatap wajah putranya.
"Tahukah kamu bahwa sejak dulu Kakek berharap Aila yang menjadi cucu menantu Kakek, setiap kali melihat kalian bercanda dan belajar bersama Kakek selalu berharap Aila selalu berada di sini walaupun itu harapan yang terlalu tinggi karena status sosial begitu berbeda, walau pak Raka tak pernah berfikir begitu." kata Imran.
"Trimakasih Kek, telah merawat hingga sebesar ini dan selalu menasehatiku," kata Frans. Mata Imran berbinar saat menangkap gerakan halus dari sang bayi dan matanya mulai terbuka tidak menangis tapi tersenyum dengan sangat manisnya. "Uluh-uluh cicit Kakek sudah bangun," katanya sambil meraih bayi mungil itu dan membawa kegendongannya. "Kamu apa gak lapar, tadi ada kakek Raka dan nenek Rima kenapa gak bangun, sekarang mereka sudah pulang," kata Imran mengajak cicitnya berbicara. Tiba-tiba tercium aroma menyengat, lalu Imran terkekeh.
"Hai, kamu pup, yaa?"
Di baringkannya Bayhas di tempat tidur yang di alasi dengan karpet anti air lalu melepas popok bayi itu di bersikan dengan tisu basah. "Frans ambilkan air hangat di baskom yaa," pintanya pada Frans. Frans keluar dari kemudian kembali lagi dengan membawa sebaskom air hangat dan waslap. Setelah dibersihkan di gantinya dengan popok yang baru. Frans mengambil popok yang kotor juga baskom air hangat lalu di cucinya di dalam kamar mandi serta membuang airnya kemudian dibawa keluar. Di luar kamar ia berpapasan dengan Aila. "Lagi pup, Yhas?" tanyanya dan Frans mengangguk sambil terus berjalan kearah belakang untuk menjemur popok bayi dan waslap yang telah bersih.
Aila masuk ke dalam kamar melihat Kakek Imran menimang Yhas, dia tersenyum. "Baru pup dia, Kek?" tanya Aila pada Kakek Imran.
"Iya, lihat! Sekarang tidur lagi dia," kata Imran terkekeh.
"Di sini gak rewel dia, Kek. Kemarin malam aduh, Ampuh deh kek sampai Ai gal bisa tidur," keluh Aila pada Imran.
"Kalau kamu ngantuk tidur saja Ai, nanti kalau Yhas lapar pakai botol saja gak papa, ada persediaan ASI, 'kan?" tanya Imran.
"Ada Kek, benar nih gak papa Ai tidur, Kek?"tanya Ai kembali untuk memastikan. Imran mengangguk. Aila pun pergi ke kamar sebelah dan merebahkan tubuhnya di sana dan sekejap saja sudah terlelap. Frans kembali masuk kedalam kamar putranya mata mencari sesuatu. "Aila mana Kek?"
"Kakek suruh tidur kasian dia kurang tidur semalam, kamu sebagai suami harus siap bantu dia untuk jaga anakmu jika nanti istrimu tidur gantikan tugasnya, ganti popoknya saat Yhas buang air kecil maupun Air besar, beri Asi di botol jika ada persediaan di lemari pendingin, tugasnya merawat anak dan membesarkan itu tanggung jawab bersama Frans," kata Kakek Imran.
"Iya, Kek," jawab Frans sambil mengangguk. "Frans anakmu kelihatannya lapar, ambilkan ASi dan hangatkan dengan merendam air panas dan taruh di botol," kata Imran lagi
Frans pun pergi melaksanakan apa yang di pinta Kakeknya lalu kembali lagi membawa sebotol ASI hangat.
__ADS_1