Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Menyambut Baby Ehan Qamar


__ADS_3

Rendra berjalan menuju area parkir dengan menggeret koper milik Rafa lalu memasukan ke dalam bagasi, lalu ia masuk duduk di belakang kemudi, dan Rena duduk disebelah Rendra, daddy dan Rafa duduk di bangku belakang sedangkan Anin dan Mama Izah di bangku tengah, tak lama kemudian mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang menuju kediaman kakek Burhan.


"Kak, Ren. Nanti masih menginap di rumah, 'kan?" tanya Rafa pada Rendra.


"Iya, kenapa?" tanya balik Rendra sambil focus mengemudi.


"Mau ngobrol sama Abanglah, apa lagi kalau bukan itu," katanya sedikit mengeraskan suaranya karena mereka saling berjauhan.


Setengah jam perjalanan mereka sampai di rumah, Rendra keluar dan membuka pintu bagasi lalu mengeluarkan koper milik Rafa dan membawa kedalam. Rena, Izah dan Anin keluar di susul oleh Ammar dan Rafa.


Sang Nenek menyambut dengan antusiasnya, dia langsung mengambil Ehan dari gendongan Izah. Diki sang adik ipar menyambut dengan pelukan. "Selamat Mas Rafa."


Begitu pula dengan Vino memeluk Rafa dan mengucapkan selamat pada Rafa.


Lalu mereka masuk kedalam rumah, dan berjalan menuju ke kamar Rafa dan Baby Ehan yang saling bersebelahan.


Burhan begitu bahagia, kakek tua yang masih gagah itu memandang dengan kagum pahatan wajah Ehan yang begitu tampan.


Baby boy yang memejamkan mata sejak dari perjalanan hingga sampai rumah itu ditaruh dalam box bayi.


Burhan masih setia berada di depan box bayi. memandang sang cicit yang tertidur lelap.


Anin dituntun naik ke ranjang duduk bersandar di sana, ditebarkan pandangannya ke arah seluruh ruangan kamar Rafa.


Baru pertama iya masuk dan tinggal di rumah ini juga di kamar ini. Selama ini dia tinggal di apartemen tak sekalipun berkunjung ke rumah orang tua Rafa ataupun kakeknya karena Rafa sendiri juga tidak pernah mengajaknya untuk berkunjung di rumah ini, entahlah kenapa pria itu lebih suka tinggal di apartemen, pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di rumah ini adalah hari ini disambut dengan kehangatan yang sangat indah, hatinya mengharu biru seolah Ia mendapatkan keluarga yang baru, yang tidak pernah ia rasakan. Tak pernah sekalipun ia melihat ayah kandungnya, selama ini ia selalu bersama dengan ibunya sang Ibu tidak pernah bercerita apapun tentang sang ayah. Saat sepeninggal Ibunya Ia pun mencari sesuatu di lemari ibunya dan menemukan sebuah foto yang tersimpan rapi di sana seorang boleh keturunan Amerika yang wajahnya hampir mirip dengannya. pria yang menyebabkannya lahir di dunia itu tidak pernah sama sekali muncul di hadapannya, dari mulai dia kecil hingga dewasa dan saat dia menikah dengan Rafa.

__ADS_1


Dulu sebelum ibunya meninggal dunia mengatakan bahwasanya tidak perlu mencari ayahnya ketika akan menikah karena nasapnya berada pada ibunya. Itu sebabnya dia tidak berani untuk mengenal lelaki dan menjalin hubungan serius karena ia takut menjadi cemoohan ketika pria itu tahu bahwa dia lahir di luar pernikahan dan bernasab pada ibunya sampai peristiwa itu terjadi dan Rafa mengambil kehormatannya. Rasanya itu baru kemarin terjadi,


saat kepercayaan pada dirinya pun hilang serasa ingin mati saja, dia sendirian menelan luka waktu itu Karena dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, tak dia kira Akhirnya pria yang menodainya dan menudunya menjevaknya itu bertanggung jawab pada dirinya.


Anin menghelah nafas panjang,


"Ada apa? Kenapa?" tanya suami pada Anin.


"Dia tersenyum, "Tidak apa-apa, Pi, hanya merasa punya keluarga saja," katanya pada Rafa.


"Trimakasih, telah menikahiku, andai kau tak menikahiku saat itu, mungkin aku tak akan menikah seumur hidupku dan akan tenggelam lebih dalam lumpur dosa karena menganggap telah sia-sia menjaga suatu yang berharga dari diriku." kata Anin sambil tersenyum


"Jika itu terjadi aku yang paling bersalah, Nin," Rafa menatap sang istri dengan sendu.


"Tapi aku heran kenapa kau tidak hamil pada waktu Nin, padahal aku melakukannya berkali-kali denganmu dalam ketidaksadaraanku," kata Rafa pada Anin.


Sepulang dari hotel aku ke apotik membeli obat kon tra sep si dan lansung meminumnya, dua hari aku mengurung dalam kamarku hingga tak punya uang untuk makan dan tak ada makanan apapun di rumah. Temanku pemilik club memintaku menyanyi lagi, sampai kau datang menyeretku pergi dari sana.


"Maaf, waktu itu aku merasa tak sekuat ibuku, itu sebabnya aku tak siap hamil di luar nikah," kata Anin.


Rafa terseyum. "Tidak apa, justru aku yang harus meminta maaf padamu, tapi kalau itu tidak terjadi sampai sekarang mungkin kita akan saling bermusuhan, tidak akan jadi Ehan."


Anin tertawa memukul tangan suaminya itu. Rafa pun tergelak. "Kamu cantik sekali, An."


"Jangan mesra-mesraan dulu, nanti khilaf." Suara Azizah mengejutkan mereka, dia masuk dengan membawa makan siang untuk Anin.

__ADS_1


"Siapa sih, Ma. Kami cuma bersenda gurau," kata Rafa pada mamanya.


"Sama saja, awalnya begitu, akhirnya mana Mama tahu," kelakarnya.


"Itu kan Mama sama Daddy, bukan aku," timpal Rafa sambil mengulum senyum samar.


"Ehh, kamu yaa," protes Izah jengkel.


"Buktinya Nara, 'kan Mam? Dia cuma selisih setahun denganku," katanya sambil tertawa.


"Tahu ah!" jawab Izah sambil mengangkat bahunya lalu ia kembali berpesan, "Jangan kau biarkan istrimu naik turun tangga, kau yang harus mengantarkan makanan pagi, siang dan malam, contohlah adik iparmu, Diki! Dia selalu yang mengantarkan makanan di kamar kecuali kalau Nara ingin makan bersama."


Rafa mengangguk dan Izah pun keluar dari kamar putranya itu.


Rafa berjalan menuju meja dan mengambil piring yang berisi nasi dan lauknya, lalu duduk di bibir ranjang kemudian menyuapkannya kepada istrinya.


"Makan yang banyak Mi, biar asinya lancar! perintah Rafa pada Istrinya. Anin melihat nasi yang begitu banyaknya berada di piringnya. "Bang itu banyak sekali gak mungkin aku bisa menghabiskannya, coba lihat tubuh ku sudah bengkak, Pi," kata Anin.


"Kata siapa bengkak? Cuma sedikit berisi saja, jangan kawatir, Mi. Papi malah senang Mami itu tambah bohai," canda Rafa sambil tertawa.


Anin mengerucutkan bibirnya, dia pasra saja seandainya perutnya bengah karena kekenyangan. Rafa gak akan berhenti menyuapinya jika makanan yang ada di piring itu habis. Anin menatap tajam ke Rafa dan tidak membuka mulutnya lagi pasalnya ia sudah sangat kekenyangan.


Rafa pun tertawa. "Baiklah, kalau tidak habis juga, tidak apa-apa aku tidak akan memaksa Mami untuk menghabiskan," katanya lalu menyuapkannya dalam mulutnya sendiri hingga habis.


Rafa memberikan segelas air minum untuk Anin. "Jangan di habiskan, sayang. Sisakan untukku juga," katanya membuat Anin menghentikan minumnya.

__ADS_1


"Tapi ini bekas aku loh, Pi," kata Anin.


"Gak apa-apa aku minum dari gelasmu, toh kamu pun minum dari gelas ku," katanya pada Anin.


__ADS_2