
Anin tersenyum dan memberikan gelas berisi air putih yang tinggal separuh itu lalu Rafa meminumnya hingga habis. Setelah itu meletakkannya dalam baki membawahnya keluar dari kamarnya dan membawahnya ke dapur kemudian menaruhnya dalam tempat cucian piring.
Rafa berjalan melewati meja makan tidak menemukan Rendra, lalu berjalan ke kamar tamu pun sepi, lalu dia kebelakang mencari ke kebun belakang, tak menemukan sosok kakak angkatnya itu.
Dia pun kembali masuk melewati meja makan dan saat berpapasan dengan mama yang berbincang-bincang dengan nenek Rina.
"Ma, Bang Rendra kemana?" tanya Rafa pada mamanya.
"Keluar dengan Rena," jawab Izah pada putranya.
Rafa duduk di samping mama, sambil mengambil kue brownies yang masih hangat. "Kak Rendra suka sama Rena, Ma?" tanya Rafa pada mamanya.
"Kamu itu sebenarnya panggil Mbak loh sama Rena," kata Izah pada putranya.
"Dianya nggak mau mah daripada dia nangis mending panggil nama saja. Mama itu bagaimana sih aku tanyanya Apa jawabnya apa," kata Rafa
Azizah tertawa. "Iya dia suka sama Rena tapi bagaimana lagi dia masih kecil."
Rafa tertawa. "Masak sih, Ma. Kalau benar begitu dia bakal nunggu lama antara empat hingga lima tahunan," sahut Rafa.
Bagaimana lagi dia itu sudah sangat bucin sama Rena," kata Izah.
"Senengnya kalau dibucini dari awal, dulu mama lama sekali nunggu Daddymu bucin sama Mama.
Ammar yang kebetulan lewat saat itu pun menghampiri Istrinya dan merangkulnya dari belakang lalu mencium wanita paruh baya yang setia mendampinginya dari kecil hingga sekarang.
"Kan sudah bucin, Ma," kata Ammar pada Izah.
"Iya, lama seperti putramu itu, untung Anin itu penurut, kalau gak sudah lari dari dulu dia," kata Izah.
"Lalu kenapa Mama gak lari dari Daddy?" tanya Rafa dengan mencebikan bibirnya.
"Kalau lari ya gak lahir kamu Fa," jawab Izah sedikit jengkel.
Ammar tertawa mendengar perdebatan anaknya dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Istrimu dengan siapa Fa? Jangan di tinggal sendirian! Kalau anakmu bangun siapa yang bantu babysiter juga belum dapat," kata Ammar pada putra
"Bilang saja Daddy mau ngusir Rafa karena mau duduk dekat Mama, Ni Rafa kasih tempat duduknya," kata Rafa sambil beranjak tempat duduknya Ammar tertawa mengacak rambut putranya itu.
"Daddy, aku bukan anak kecil lagi aku ini sudah dewasa, dan sudah menikah," protesnya kesal sambil berjalan meninggalkan mereka.
Ammar, Rina dan Izah tertawa melihat putranya marah itu.
...----------------...
Di jalanan ibu kota Rendra menjalankan mogenya dengan kecepatan sedang meleok-leok diantara mobil-mobil yang berjalan di jalan raya.
Dia mengarahkan mogenya ke arah rumah Rena sedangkan Vino sudah pulang di antar oleh bang Juned pasalnya besok dia akan berangkat sekolah.
Tidak butuh banyak waktu untuk sampai ke rumah Rena, setelah sampai di rumah itu di sambut oleh sekuriti yang usia sudah sekitaran 40 tahunan yang bernama Pak Sobar yang langsung membuka pintu gerbang rumahnya.
"Loh Non pulang duluan apa?" tanya Pak Sobar.
"Sama siapa, Non? Saya kira sama Mas Vino," tegurnya pada majikannya.
Rendra memarkirkan mogenya lalu berjalan menghampiri pak Sobar dan menyalaminya. "Kenalkan Pak, saya Rendra."
"Saya Pak Sobar, Den." Pak Sobar menyambut tangan Rendra.
"Jangan panggil Den, Pak panggil Rendra saja," pinta Rendra pada pak Sobar.
"Gak enak kalau langsung panggil nama saja, saya panggil Mas Rendra saja yaa," jawab pak Sobar ramah.
"Terserah Bapak saja, enaknya bagaimana karena saya juga bukan anak orang berada, Pak. Hanya saja Pak Ammar baik membantu biaya sekolah saya hingga saya bisa berdiri di kaki sendiri, Ibu saya Janda," jelas Rendra.
"Wah, Mas Rendra ini hebat. Sudah berdikari sendiri, pasti Mas Rendra anaknya pinter, jadi Pak Ammar senang membantu Mas Rendra. Tuan Angga ini juga baik Mas, tidak ada gajih sekuriti dan sopir sebesar yang saya terima, saya bersyukur bisa bekerja di sini, orangnya baik sekali," jelas Pak Sobar.
"Bapak sudah lama kerja di sini?" tanya Rendra pada lelaki paruh baya.
"Sudah lama Mas, 15 tahun, kerja di sini harus bisa belah diri, Mas. Saya langsung di tes sama Pak Aiko, untungnya yaa, Mas. waktu muda itu saya ikut bela diri apapun, jadi saya bisa di terima di sini," jelas Pak Sobar.
__ADS_1
Percakapan terhenti saat Rena berteriak meminta Rendra untuk masuk ke rumah.
Bang renda masuk panggil penak Rendra pun menoleh lalu berpamitan pada Pak sobar sebentar ya Pak saya dipanggil Rena untuk masuk ke rumah. iya iya iya monggo kata Pak sabar mempersilahkan. Hendra pun berjalan menuju masuk ke dalam rumah henna. "Sudah selesai," tanyanya pada Rena. "Belum, Bang Ren, masuk dulu makan apa situ, jangan di luar kata Rena membuat Rendra pun terkekeh.
Seorang wanita yang berusia sekitar 50 tahunan keluar sambil membawa pagi berisi minuman dan makanan ringan yang ditaruhnya di meja sambil berkata oh ini toh pacarnya Mbak Rena. Hendra pun tersenyum. "Bukan pacar Bi tapi calon suami."
Bi darmi tertawa. "Wah ini harus izin sama Tuan Angga."
Rencana juga begitu Bi karena saya juga tidak mau sembunyi-sembunyi," jawab Rendra dengan tegas
"Wah itu bagus, Mas. Mas siapa?" tanya Darmi.
"Saya Rendra, Bik," jawab Endah memperkenalkan dirinya.
"Saya Bi Darmi, Mas Rendra," jawab bik Darmi balik memperkenalkan dirinya.
ini Mas Rendra, kayaknya cocok sama Mbak Rena ini soalnya Mas Rendra ini dewasa, Mbak renanya ini Aduh manjanya bukan main, Mas," kata Rendra Darmi Sambil tertawa.
Idih bibik bongkar rahasia orang saja," gerutu Rena membuat bibik dan Rendra.
"Silahkan, Mas Ren, bibik tinggal ke belakang dulu," kata bibik
Rendra yang duduk di sofa mengangguk mengiyakan.
Setelah kepergian bibik, Rena merebahkan tubuhnya di sofa dengan kepalanya yang baringkan di pangkuan Rendra.
Rendra menghelah nafas panjang. "Dek, kamu sudah belum bebenahnya, seragam kamu, buku-buku kamu sudah belum?" tanya Rendra
"Sudah, tapi Rena mau rebahan dulu, Bang," katanya menatap Rendra yang terlihat sedikit canggung dalam keadaan seperti ini.
"Ini kalau kita dalam keadaan begini, ketahuan bik Darmi, pak Sobar terus kita bisa dinikahkan sekarang juga, apalagi posisi kamu Dek, benar-benar meresahkan!" Protes Rendra sambil membuang pandangannya keluar.
"Gak mungkin, cuma begini doang," katanya sambil tertawa.
"Dek, Abang ini lelaki dewasa loh," katanya sambil menekan kata dewasa membuat Rena tertawa sambil menyambung. "Aku ini gadis kecil loh, Bang." Lalu Rena bangun dari tidurnya, kemudian duduk di sofa di sebelah Rendra. "Di makan kuenya sama di minum tehnya dulu baru nanti kita berangkat lagi," kata Rena sambil mengerlingkan mata membuat Rendra semakin gemas pada gadis itu.
__ADS_1