
"Udah biasa." ujar Shena.
"Mulai detik ini, nggak akan ku buat biasa." ucap Devan dengan menatap Shena serius.
Shena yang di tatap seperti itu oleh Devan merasa jantungnya berdetak lebih cepat, rasanya ingin lompat saja dari tempatnya.
"Hahhahahaha.." gelak tawa Devan membuyarkan fokus Shena. Seketika Shena sadar bahwa telah dikerjai oleh Devan.
"Kenapa tegang gitu..hahaha.." lanjutnya dengan masih tertawa.
"Nggak lucu tau nggak." ujar Shena ketus.
"Sorry..habis dari tadi bete mulu." balas Devan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam, kini Shena dan Devan sudah berada di lobi bandara, menunggu mobil jemputan, sementara Mr. Smith sedang berada di toilet.
"Thanks buat pesawatnya, next kalo kamu balik ke Vancouver kabarin aja, biar aku yang orderin." ujar Shena ingin membalas budi pada Devan
"Nggak usah dipikirin. By the way bareng aku aja. Bentar lagi juga mobilnya dateng." balas Devan.
"Thanks. Tapi nggak usah. Udah ada yang jemput." ujar Shena.
"Siapa?" tanya Devan berusaha menutupi kekepoannya.
"Pengen tau banget?" Shena sengaja meledek.
"Iya nggak sih."
"Yaudah."
Tak lama, datang seorang pria tampan, yang di prediksi umurnya tiga tahun lebih tua dari Devan. Pria itu menghampiri Shena, setelah Shena berteriak memanggil namanya.
"Heyy.. Sorry agak lama." ujar pria tersebut.
"No problem, Mike."
"Oh iya, Mike..kenalin ini Devan. Devan ini Mike." ujar Shena mengenalkan keduanya.
"Mike.."
__ADS_1
"Devan.."
Keduanya pun saling mengenalkan diri dengan berjabat tangan.
"Nice to meet you." ujar Mike ramah.
"Too." balas Devan dengan tampang dinginnya.
"Mmm.. yaudah kita langsung aja.." ujar Shena.
"Yuk."
"By the way, Devan thank you ya. Aku duluan dulu, salam buat Mr. Smith." ujar Shena pamit.
"Oke. See you soon." ujar Devan dengan senyuman yang sulit di artikan, sedangkan Shena terlihat mengerutkan dahinya, namun ia juga tidak menanggapi ucapan Devan. Dengan segera ia meraih tangan Mike untuk pergi dari bandara. Mike merasa ada sesuatu di antara Shena dan Devan.
"Bye, Mr. Devan." ujar Mike pamit.
"Bye, Mr. Mike." balas Devan.
Pukul 03:15 p.m
Devan baru saja tiba di hotel setelah sebelumnya makan siang dengan Mr. Smith. Hari ini ia cenderung diam, hal itu sudah jelas di karenakan oleh Shena yang dijemput oleh seorang pria yang entah mengapa membuat perasaan tidak terima melihat Shena dengan pria lain. Apakah ia cemburu?
Di sisi lain ia penasaran, apakah Shena sudah pulang atau masih pergi dengan Mike.
Ia delima, haruskah ia memastikan dengan menghubungi Shena ataukah ia tetap membiarkannya dengan diliputi rasa penasaran?
Akhirnya Devan yang sudah tidak tahan, langsung menghubungi Shena.
Tut tut tut
Panggilan pertama tidak ada jawaban, membuat Devan ragu untuk menghubungi kembali. Akhirnya ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dulu, agar lebih segar.
Ting
Sebuah pesan masuk di ponsel Devan, namun Devan sudah berada di kamar mandi dengan aktivitas mandinya.
Lima belas menit kemudian, Devan keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang lebih segar dan rambut sehabis keramas. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia membuka ponselnya, melihat pesan masuk di ponselnya yang ternyata pesan dari Shena.
__ADS_1
Shena
Why?
Begitu singkat respon dari Shena, namun hal itu tidak masalah bagi Devan, justru membuatnya semakin penasaran dengan gadis yang menurutnya beda dari yang lain.
Tanpa pikir panjang, Devan langsung menelpon Shena.
"...."
"Hai, where are you?"
"...."
"Nanti malam ada acara?"
"...."
"Aku jemput."
"...."
"Tidak ada penolakan."
"...."
"Bukan perkara sulit, babe.."
"...."
"See you tonight." ujar Devan dengan langsung mematikan sambungannya secara sepihak tanpa mendengar tanggapan Shena terlebih dulu. Devan yakin saat ini Shena pasti sedang kesal, bahkan ia sudah bisa membayangkan ekspresi kekesalan Shena. Membayangkannya saja membuat Devan terkekeh.
Yaaa, Devan bermaksud ingin menjemput Shena dan mengajaknya keluar malam ini, namun hal itu langsung mendapat penolakan dari Shena. Tetapi seorang Devan telah dilahirkan menjadi sesorang yang tidak bisa menerima penolakan dalam bentuk apapun itu. Untuk itu juga bukan perkara sulit bagi Devan jika hanya sekedar menemukan alamat apartemen Shena, meskipun sebelumnya ia belum pernah mengunjungi apartemen Shena yang di NewYork. Hal itu juga yang membuat Shena kesal, karna menurutnya hal apapun dapat Devan lakukan, lebih tepatnya di paksakan.
•
•
Di tempat lain, Shena yang sangat kesal ingin sekali mengumpat dan menyumpah serapahi seorang Devan yang seenaknya sendiri menurutnya. Bisa-bisanya ia di pertemukan dengan seseorang seperti Devan. Manusia paling menyebalkan.
__ADS_1
"Devannnn.....!!!"
"Bodo amat, gue mau tidur. Gue capekkk..!" ujar Shena dengan kekesalannya, lalu ia segera pergi ke kamar mandi untuk berendam agar pikirannya lebih tenang.