Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Semakin Manja


__ADS_3

Di tengah malam Anin terbangun, Ia begitu sangat lapar, dengan perlahan dilepaskannya tangan suaminya yang ada di perutnya, lalu ia bangun dari ranjangnya berjalan keluar kamar menuju dapur, diambilnya makanan yang masih tersisa, saat makan malam lalu dipanaskannya kemudian ditaruh dalam piring. Setelah itu, ia makan dengan lahap, dihabiskannya tanpa ada yang tersisa. Lalu ia membersihkan meja makan dan mencuci piring dan gelas kotor serta wadah-wadah kotor bekas menyimpan makanan di lemari pendingin tadi.


Saat sedang mencuci piring kotor, sebuah tangan memeluknya dari belakang, sambil menaruh dagu dipundak Anin, Rafa berkata dengan lirih, "Kenapa meninggalkanku, hemm." Anin tertawa. "Aku lapar." Anin meneruskan aktivitas hingga selesai dan Rafa pun tak mau melepaskan pelukannya. Setelah selesai Anin mengajak suaminya kembali ke kamar. "Kamu tidur lagi saja, Fa. Ini masih malam, aku baru selesai makan tunggu satu jam aku akan menyusulmu nanti," kata Anin pada Rafa yang ikut duduk di sofa. Rafa menggeleng lalu merebahkan dirinya di sofa dan meletakan kepalanya di atas Pakuan Anin, dengan posisi miring menghadap ke perut Anin. "Aku gak bisa tidur kalau gak ada kamu di dekatku," katanya lirih.


"Hemm, kenapa suamiku jadi manja begini, ya?" Anin tertawa sambil tangannya bermain di rambut Rafa.


"Gak tau Nin, kalau dekat kamu jadi gak mual aku," jawab Rafa sambil menciumi perut istrinya.


"Fa, jangan begini geli tahu!" pinta Anin.

__ADS_1


"Cuma begini saja, jangan nolak! saat ini aku ingin menciumi perutmu gak tahu kenapa?" sautnya lirih. Anin meraba kening Rafa. "Gak panas, kamu gak demam kenapa merancau, ya?" kilah Anin. Rafa tertawa." Aku gak lagi merancau, Nin. Beneran ni kenapa aku gak bisa jauh dari kamu, kalau gak ada rasanya gak enak di hati saja," jawabnya masih dengan mengendus perut Anin yang rata, merupakan kesenangan barunya itu. Walaupun Anin merasa sangat risih namun tetap membiarkan suaminya melakukan itu, ia tak bisa lagi melarang suaminya itu. Malam semakin larut Anin mengajak suaminya itu untuk pindah di ranjang sebab dirinya juga sudah sangat mengantuk, merekapun berbaring di atas ranjang dan saling berpelukan. Rafa menyusupkan wajahnya ke dada Anin. "Nin, kok sepertinya ada yang berubah ya, di tubuh kamu," kata Rafa lirih.


"Emang apa yang berubah? Seperti sama saja deh, Fa," jawab Anin sedikit bingung. Rafa tertawa sambil mengendus dada Anin ia pun menjawab, "Ini loh, Nin. Kok makin besar, ya."


wajah Anin merona dan mencubit perut suaminya itu. "Auww," rintih Rafa. Tak lama kemudian tak terdengar lagi celotehan Rafa yang berbau mesum itu, berganti dengan dengkuran halus yang terdengar di telinga Anin. Anin pun memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk, kemudian terlelap dalam pelukan Rafa.


...----------------...


"Bang, bangun dong, Nara lapar nih," Adunya pada Diki. Diki mengerjapkan matanya dan melihat kearah istrinya dengan suara serak habis bangun tidur ia pun bertanya," Apa, Sayang?"

__ADS_1


"Lapar, Bang. ingin makan mie tapi buatan Abang," pintanya manja.


"Oke, sebentar ya," jawabnya sambil bangun dan beranjak dari ranjangnya berjalan sedikit sempoyongan karena belum sepenuhnya sadar. Dia keluar kamarnya dan menuju dapur di ikuti dari belakang oleh Nara lalu duduk di kursi meja makan sambil menunggu suaminya memasak mie untuknya. Diki mengambil dua mie instan yang ada di laci atas lemari dapur. Lalu mengambil sayur dan memotongnya, kemudian mencucinya di masukan kedalam panci yang berisi air mendidih bersama dengan mie instan kemudian mengtiriskannya. Dia kembali merebus kuah kaldu hingga mendidih lalu di matikan kompornya dan di masukan mie serta sayuran di dalamnya kemudian bumbu dimasukan ke dalamnya setelah itu, di taruh mangkok besar, di beri dua telor mata sapi di atasnya. Nara yang tersenyum-senyum melihat suaminya memasak mie untuknya. ada kesenangan tersendiri ketika melihat pemandangan itu.


Diki berjalan ke meja makan dan meletakan mie dia atas meja di depan Nara. "Banyak sekali buatnya. Bang," tanya Nara saat melihat satu mangkok besar mie kuah. Diki pun menjawab, "Untuk kita berdua."


Mereka pun makan bersama ia menyuapi istrinya terlebih dahulu lalu dirinya sendiri.


Tak seberapa lama mie kuah itu pun tandas. Diki membersihkan perkakas kotor yang habis digunakan untuk memasak mencuci bersih bersama dengan piring dan gelas kotor. Masih 30 menit berjalan selesai makan, tidak baik untuk segera tidur. Di mengajak keruang tengah untuk melihat film, Dia menyalakan televisi namun tak ada yang menarik untuk di lihat. Akhirnya ia pun memutuskan untuk melakukan olahraga bersama sang istri, Nara pun tak menolak. Diki memperlakukan Nara dengan sangat lembut karena dia tahu kemungkinan istrinya itu sedang berbadan dua. Setelah berbagi peluh dan kesenangan mereka pun membersihkan diri di kamar mandi, kemudian naik keranjang mereka dan kembali tidur karena masih terlalu malam untuk terjaga hingga pagi menjelang.

__ADS_1


...----------------...


Di Amerika Serikat di Boston, Ratih tak henti-hentinya makan seolah perutnya selalu lapar, dua hari yang lalu ia memeriksakan dirinya karena tidak kunjung juga haid dan hasilnya positif dia sedang hamil. Tak ada keluhan apa-apa dalam kehamilannya, juga tidak menginginkan apa-apa hanya saja nafsu makan dan ranjangnya sedikit meningkat, itu sungguh membuat Bara semakin bersemangat dalam menghadapi ke hamilan istrinya, tak perlu meminta haknya, justru sang istri yang selalu menyerangnya. Hari ini pun terjadi lagi 3 kali ia melakukannya dengan sang istri hingga dia harus berkonsultasi dengan dokter kandungan Ratih takut terjadi apa-apa dengan kandungan Ratih. Bara hanya melihat sambil tersenyum ketika sang istri memakan banyak cemilan walaupun begitu dia tidak membiarkan istrinya memakan.makanan yang tak sehat, Setiap hari sepulang kuliah ia selalu membeli makanan jenis apapun agar bisa ada yang dimakan saat istrinya merasa lapar.


__ADS_2