Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
7 bulanan 2


__ADS_3

Ratih mengajak mertuanya ke balkon untuk menikmati suasana pagi dengan melihat bunga-bunga bermekaran.


Setelah sampai di sana merasa takjub dengan pemandangan yang ada di balkon.


"Ini kamu sendiri yang menatanya?" tanya Rika


Mereka duduk di taman ini, Rika pun berbincang-bincang mengenai kehamilan dan persalinan, membuat merasa senang, seperti di perhatikan oleh ibu mertua itu.


"Iya Bun ini Ratih sendiri yang menatanya karena banyak waktu luang dan sering di rumah sendiri membuat ku bosan jika tidak melakukan apa-apa dan lagi kita tak punya halaman atau apapun untuk bisa berkebun atau sekedar membuat taman, untuk sekedar bersantai jika ada waktu luang atau ingin makan dengan suana berbeda seperti makan di outdoor, Bun," jawab Ratih sambil


"Ide kamu ini luar biasa loh, ada kursi-kursi dan meja kayu yang ditata sedemikian rupa," timpal Rika


"Itu Abang Bun, dia desain sendiri lalu pesan, jadi gak ada jika beli di luar, awalnya Abang ngelarang sih Bun, katanya takut terjadi apa-apa pada kandunganku, akan tetapi akhirnya dia mengijinkan juga Bun," jawab Ratih sambil duduk di bangku taman.


"Ini bisa loh di jadikan acara yang romantis-romantis Rat, seperti candle light dinner begitu," kekeh Rika. Ratih pun tertawa. "Benar itu, Bun."


"Kalau sarapan pagi disini sepertinya nyaman yaa, Rat?" tanya Rika sambil mengedarkan pandangannya di balkon itu.


"Iya, Bun kapan-kapan deh Bun kita agendakan sarapan pagi di sini," kata Ratih pada mertuanya itu.


"Rat, Bunda mau tanya nih, apa panti asuhan itu sudah lama berdiri?" tanya Rika pada menantunya.


"Sudah sih Bun, pemiliknya tidak punya anak, Bun. Kalau gak salah pemiliknya bernama Abraham Bun," jawab Ratih.


"Apa kamu belum kenal penghuni Flat di lantai ini?" tanya Rika pada menantunya.

__ADS_1


Ratih terkekeh. "Belum sih Bun hanya sebagian saja, mereka kebanyakan sibuk Bun dan jarang ada di rumah. Datang-datang kalau pas butuh saja, dan kebanyakan mereka yang tinggal di sini adalah mahasiswa dari berbagai negara sih Bun, jarang yang benar-benar keluarga, mereka pun sifatnya hanya menyewa saja, Bun. Seperti apartemen sebelah itu, pemiliknya sudah menyelesaikan kuliahnya, sehingga berencana untuk menjualnya," jawab Ratih


"Nggak heran sih kamu kesepian jika di tinggal kuliah sama Bara, tetapi kamu kerasan di sini, 'kan?" tanya Rika pada menantunya.


"Ya harus, Bun. Ratih, 'kan istrinya, Bun. Ratih akan tinggal di manapun Bang Bara tinggal, tempat tinggal suamiku adalah yang ternyaman buatku Bun," jawab Rika pada Bundanya.


Rika mengedarkan pandangannya kembali balkon yang tidak terlalu luas itu di sulap menjadi taman yang indah untuk sekedar bersantai melepas lelah.


"Bunda kalau begini rasanya kerasan juga deh berhari-hari tinggal disini, sayangnya kan Bunda terikat pekerjaan dan tanggung jawab pada rumah sakit, jadi kalau ingin lebih lama tinggal di sini harus pensiun dulu," katanya sambil terkekeh.


"Kalau liburan saja Bun, kesini," usul Ratih.


Ketika asik berbincang-bincang mereka dikagetkan suara yang sedang mengagumi taman mini buatannya.


"Salah sendiri sibuk dengan game kamu dari tadi ya Bunda tinggal deh," jawab Rika sambil terkekeh.


...----------------...


Di Indonesia di waktu yang berbeda di jam 19.00 diadakan pengajian di rumah Burhan kakek Nara dari pihak ibu.


Semua keluarga menghadiri acara tersebut, selain keluarga Angga karena sekarang berada di Boston.


Terlihat Nara yang mengenakan gamis berwana lilac dengan hijab senada duduk di antara orang mengaji. Sementara itu, Bapak berada di taman belakang berbicara banyak hal dan juga rencana kepergian ke Boston.


Semua prosesi tujuh bulanan di lakukan sedari pukul 10.00 pagi yang memberikan santunan pada anak yatim piatu, bukannya ingin meninggalkan adat siraman dalam perayaan tujuh bulanan namun Nara memang tidak menyukainya hingga di lanjutkan acara di malam harinya.

__ADS_1


Di deretan Bapak-Bapak yang duduk terlihat Haidar di sana bersama dengan putranya saat ini perusahaanya yang dikelola Angga dikembalikan lagi padanya karena seseorang yang berpengaruh dalam kehancuran rumah tangganya telah hidup dengan baik bersama keluarganya sendiri. Beberapa bulan yang lalu wanita itu menelpon dan meminta maaf padanya tentang apa yang dilakukan terhadap keluarga Haidar dan khususnya kepada Rindu.


"Kapan Mas, berangkat ke Boston katanya mau nyusul kesana?"tanya Burhan pada Raka.


"Insyaallah, besok mas, aku berangkat ke sana," jawab Raka. Burhan beralih menatap Haidar. "Pak Haidar juga ikut ke sana kan? pasti nak Ratih juga mengharapkan kehadiran ayahnya pasalnya hanya tinggal Mas seorang orang tua apalagi empat tahun gak bertemu sebelumnya begitu ketemu langsung nikah dan ikut suaminya," timpal Burhan pada ayahnya Ratih dan Vino itu.


Haidar tertawa. "Iya, betul kata panjenengan Pak, tapi saya nggak pernah menyesal hanya bersama beberapa Minggu saja lalu ia harus ikut suaminya. Itu lebih baik apalagi saat itu keadaan juga tidak baik-baik saja. Saya bersyukur telah melewati masa-masa itu. Memang Pak besok saya juga berangkat ke sana bersama Pak Raka, selain ingin tahu kabarnya juga kangen sama anak itu," kata dengan tatapan menerawang jauh dan matanya berkaca-kaca mengenang waktu sulit itu.


Acara pun berjalan dengan sangat lancar hingga pukul 21.00 malam. Raka dan Rima berpamitan untuk pulang ke rumahnya, mobil mereka pun berjalan dengan kecepatan sedang menuju kekediamannya.


Begitu pula Haidar dan Vino berpamitan dengan keluarga Burhan. Mereka masuk kedalam Toyota Alphard hitamnya berjalan melewati pintu gerbang dan menghilang di belokan jalan.


Dulu serasa lama untuk melewati masa-masa sulit itu kerinduan terhadap istri tak terbalas dengan manis wanita yang selalu di hatinya dan membuat pergi dari perempuan itu.


Tak seberapa lama ia pun sampai di rumahnya ia turun dari mobil yang telah terparkir di garasi rumahnya. Begitu pula Vino anak lelakinya yang sekarang telah duduk di bangku SMU.


"Yah, Vino langsung tidur, yaa," ijinnya pada Haidar.


Haidar mengangguk dan menutup pintu garasinya. Sebelum masuk ke rumah suara Vino terdengar lagi. "Ayah juga harus tidur," pesannya pada Ayah lalu melangkah pergi menuju kamarnya.


terdengar seretan langkahnya menuju menjauh. Haidar pun melangkah masuk ke dalam kamar sendiri di rebahkan tubuhnya di atas ranjang. rasanya tak sabar untuk bertemu putrinya itu.


Di raihnya foto yang yang terpasang pigora kecil di atas meja.


Di pandangi foto Rindu yang terseyum. "Rindu, kita akan punya cucu, putri kita akan punya anak, Rin," gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2