Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Meminta Dukungan Izah


__ADS_3

Diki Menghelah nafas, "Kenapa pakai begituan juga, Dra. Lo sudah datang saja kita seneng, tapi jangan coba-coba peluk istri gue, bakal gue tonjok lo," kata Diki serius.


Rendra tertawa. "Enggak bakalan deh aku takut sama kamu, godaan Rena saja masih polos, dia," katanya Enteng.


"Bang Ren, kamu serius sama Rena, Awas jangan macam-macam!" ancam Nara.


"Jelas aku serius, Bi. Kapan aku gak serius?" kata Rendra


Diki berjalan mendekati Rendra yang masih berdiri di depan box anaknya, lalu menepuk bahu Rendra. "Selamat menikmati kegilaan selama lima tahun, loh harus menahan hasrat, kalau gak mau digorok dua algojo, daddy dan paman Angga," bisik Diki sambil menepuk bahu Rendra, hingga membuat pemuda itu tertawa. "Apa Om Angga galak, Bi?" tanyanya pada Nara.


"Galak sih, enggak cuma disiplin aja, lo jangan main cium-cium Rena, yaa!" larangnya pada sahabatnya itu.


"Kenapa?" tanya Rendra pada Nara.


"Intinya belum halal jadi jangan main nemplok aja tuh, bibir loh!" sarkas Diki pada Rendra.


"Kalau kilap gimana dong, penting gak ketahuan kalian dan dua algojo aman-aman sajalah," kata Rendra membuat Diki dan Nara tak berkutik.


"Ayok Bang, Rena sudah siap!" katanya sambil berdiri di depan pintu dengan memakai kaos dan bawahan street, serta rambut yang di kuncir ekor kuda.


Rendra terbelalak, dan geleng-geleng kepala. "Benar kata loh gue setiap hari bakal gila Dik," katanya pada Diki yang hanya bisa tertawa.


"Sini sebentar, kamu jangan pakai yang beginian dong, Na. Bikin mupeng gue saja," kata Rendra sambil memukul pantat Rena.


"Abang, kenapa malah dipukul sih? ini itu sudah sopan, Bang," jawab Rena.


"Sopan gimana sih Na, lihatnya ini kelihatan dan itu yang di depan juga kelihatan," kata Rendra sambil tangannya menunjuk pantat dan area privasi Rena yang membuat gadis itu melotot ke arah Rendra. "Ihh, Abang mesum!" teriak Rena. "Enggaklah cuma kasih tahu kamu saja, kalau kamu pakai yang begituan, yang dilihat pertama kali itu yaa yang abang tunjukkan tadi, jadi tolong sekarang ganti yang lebih sopan lagi!" perintah Rendra pada Rena.


"Ya sudah aku pakai kulot saja," katanya sambil memayunkan bibirnya, membuat Rendra menelan salivanya sendiri.


"Mana handphonemu kasihkan dulu pada Abang?" pintanya.


"Buat apa Bang?" tanya Rena


"Biar Abang muda hubungi kamu, kamu juga sama bisa muda hubungi Abang," jawab Rendra

__ADS_1


"Kasih nama cewek aja Bang biar gak ketahuan Bunda sama Ayah," kata Rena sambil memberikan handphonenya pada Rendra.


"Gak mau, Abang maunya terang-terangan kalau boleh Abang akan mintak kamu ke orang tuamu untuk kita tunangan dulu," kata Rendra sambil menyimpan nomernya di handphone Rena.


"Terserah, Abang!" kata Rena sambil menghentakkan kakinya ke lantai lalu pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


Tak lama kemudian Rena kembali lagi dengan bawahan jin yang sedikit longgar. "Katanya pakai kulot?" tanya Rendra yang meneliti penampilan Rena,


"Gak jadi jelek, aku kelihatan gemuk," katanya sambil menarik tangan Rendra mengajaknya segera pergi.


"Gak apa-apa gemuk, aku malah suka, apalagi yang bagian tertentu kayak tadi," kekehnya


"Bang Rendra, Jangan cemarin tuh, otaknya aduh! Gemes gue sama kamu, Bang!" teriak Nara sambil melempar batal ke arah Rendra, alhasil baby Al pun terbangun dan menangis. "Maaf ya Dik, Bi, gue tinggal dulu," katanya sambil tertawa.


Di ruang makan berpapasan dengan Izah. "Ma, Rendra mau keluar dulu, yaa?" ijinnya pada Izah.


"Sama, Rena?" tanya Izah sambil mengerutkan dahinya.


"Sebentar ya, Na," kata Rendra pada Rena yang hanya mengangguk lalu Rendra mengajak Izah sedikit menjauh dari Rena. "Ma, aku suka sama Rena, serius, Ma. Tolong bantu! Setidaknya bisa tunangan dululah Ma," pinta Rendra.


"Baru 29 tahun Ma, belum tua aku segitu, Ma," kata Rendra membuat Izah tertawa.


"Rena mau apa enggak sama kamu?" tanya Izah pada Rendra


"Sepertinya sih mau, Ma. Kalau gak mau aku paksa maulah, Ma," jawab Rendra yang mendapat pukulan keras di kepalanya oleh Izah.


"Aduh, Ma. Sakit," aduh Rendra sambil mengusap kepalanya.


"Biar otak mu waras, bukan dipaksa Dra, dirayu dan ingat tidak ada ciuman dan sentuhan yaa, jangan nakal aku potong tanganmu nanti!" ancam Izah membuat Rendra meringis sambil menggaruk kepalanya. "Kalau kilaf bagaimana, Ma?" tanya Rendra bernegoisasi dengan Izah.


Mata Izah langsung melotot kearahnya. "Iya, Ma!" jawabnya sambil terkekeh.


"Ya sudah, Ma. Rendra berangkat yaa," pamitnya.


"Sebentar, Dra! Kamu jenguk sekalian Anaknya Rafa! Adikmu gak hanya Nara, Cucuku juga dua, istri Rafa baru melahirkan tadi malam, jadi tolong sekalian bawakan ini untuk makan siangnya nanti!" perintah Izah. Rendra menghelah nafas. "Aku mau kencan malah di suruh bawa rantang, Ma?" gerutu Rendra.

__ADS_1


"Gak mau dibantu, nih?" tanya Izah setengah mengancam.


"Maulah, Ma. Yaa, sudah Rendra berangkat dulu, Ma. Tapi aku ngak tahu tempatnya nih Ma?" protesnya lagi.


"Nanti Mama suruh Rafa sharlok ke nomer kamu deh, belum ganti, 'kan?" tanyanya.


"Belum, Ma. Nanti kalau sampai gak ketemu tempatnya kita makan berdua saja yaa, Na," katanya sambil terkekeh.


"Rendra!" panggil Izah memeringatkan ancamannya


"Iya, Ma," jawabnya sambil tertawa lalu pergi bersama Rena. "Ini bawa! Kita ke rumah sakit dulu," katanya. Namun, dia teringat hanya membawa satu Helm saja. Dia menghampiri sekuriti untuk meminjam helm sebentar. "Pak, pinjam helmnya sebentar!" pinta Rendra.


"Oh, ini ada punyak Den Rafa, pakai saja Den, kemarin di titipkan di sini," kata sekuriti dengan sopan. "Oh yaa, trimakasih, Pak. Saya bawa dulu," katanya sambil berjalan menuju ke kendaraannya ia memakai helm Rafa sedangkan Rena memakai helm miliknya. "Ayo cepat Naik!" perintahnya


"Sudah, Bang!" jawab Rena


"Maju lagi dan pegangan!" perintah Rendra.


"Aku bawa Rantang, Bang," jawab Rena. Rendra menghelah nafas. "Taruh tengah rantangnya, kedua tangan kamu pegangan Abang pepet sama tubuh kamu, rantangnya gak akan jatuh," jelas Rendra


"Begini, Bang. Boleh pelukan begini?" tanya Rena.


"Boleh Ren, kamu masih kecil," kata Rendra.


"Masih kecil kok, mau dilamar," gerutunya lirih tapi masih didengar Rendra.


"Gak mau sama Abang?" tanyanya pada Rena sambil menjalankan moge dengan kecepatan tinggi, membuat gadis itu sedikit ketakutan ia berteriak menjawab, "Mau, Bang!" Membuat Rendra terseyum. "Bang jangan kencang-kencang aku takut!" katanya sambil berteriak.


"Makanya kamu pegang Abang, gak akan jatuh," jawab Rendra yang sedikit menurunkan laju kendaraannya.


"Kamu tahu rumah sakitnya?" tanya Rendra pada Rena


"Tahu, Bang, rumah sakit swasta terbesar itu loh, Bang," jawab Rena.


"Ok!" katanya lalu melajukan kuda besinya di rumah sakit tempat Anin dirawat.

__ADS_1


__ADS_2