Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Sebelum Pulang


__ADS_3

Dalam balutan kebahagiaan yang mewarnai hati Rendra dan Rena


Setelah bersenang-senang di dalam ranjang lalu dia membawa istrinya ke kamar mandi ditaruhnya tubuh Rena dalam bathub kemudian dia pun masuk dan duduk di belakang istrinya menyabuni sang istri.


Renda menyabuni tubuh sang istri didepan belakang atas bawah begitu lamanya


Setelah saling menyabun di dalam bathub, mereka pun terus bergurau di sana saling menggoda satu sama yang lain, Rendra sangat menikmati momen ini, menyentuh memandang dan mencium tubuh indah istrinya adalah suatu yang sangat menyenangkan buatnya, walau dia pun belum bisa melakukan penyatuhan secara hakiki.


Tak ada kata indah selain bersama istrinya, tak ada hubungan indah, selain bersama istrinya Rendra mendapatkan waktunya dengan sebaik-baiknya.


Dia terus aja bermain di tubuh Rena di atas maupun di bawah dia mainkan tidak hanya dengan tangan melainkan dengan bibir juga lidah semua dilakukan untuk menyenangkan istri.


Redra menatap tubuh istrinya yang polos, dan belum mengijinkan memakai pakaian kembali


"Bang kenapa coba Rena seperti ini," kata Rena.


"Karena Abang belum puas untuk bermain-main di sini dan di sini," katanya sambil terus Kekeh


"Abang nggak kasihan Rena, ini bisa pingsan loh, rasanya udah nggak ketahuan gimana dan Abang di situ nggak pindah-pindah," kata Rena.


"Sudah dek kamu diam saja biar Abang yang bekerja, nikmati saja sentuanku, Adik boleh sentuh tubuh abang juga, gak usah malu-malu Abang ini juga suamimu tubuh Abang ini adalah milikmu, maaf jika Abang gak sabar sentuh kamu


Di sepajang kamar hotel sudah menjadi tempat arena mereka untuk bergumul, memadu kasih, suasana di kamar semakin panas, gelora asmara meletup-letup. Rena pun sekarang sudah mulai mahir membuat suami melenguh mendesis dan menjerit pelan.

__ADS_1


Tubuh mereka sudah mulai basah oleh keringat yang bercucuran karena permainan mereka di atas ranjang itu. Walaupun tidak ada penyatuan dari mereka tetapi itu semua cukup membuat hati mereka menggelora.


Iringan nada dari bibir Rena juga Rendra semakin bersemangat,


dengan posisi ke bawah, ke atas, ke samping, saling berlawanan semua dilakukannya untuk saling menyenangkan, bahkan Rena merasakan satu hal yang luar biasa.


Saling mengulum, saling meraba, saling mencium dan menggigit kecil-kecil. dilakukannya terus, bergerak di tubuh indah sang suami. Debaran jantung Rena terus-menerus berdesir, berdetak kencang.


Macam-macam gaya dan lama diulangi lagi, terus begitu tanpa henti Rendah semakin mengganas.


Dia terus membakar dengan api asmara, bagaikan gulungan ombak, dua insan itu saling memberi pasangannya masing-masing, tidak peduli jarum jam terus berdetak malam yang dingin tak terasa karena suasana di dalam telah panas.


Rendra terus memajukan asmaranya terus-menerus dihadirkan selalu rasa yang luar biasa dan ia berikan selalu sensasi yang tidak pernah akan Rena lupakan.


Dia tak ingin kebahagiaan itu cepat berlalu, ia terus bermain di tubuh yang indah itu, bahkan tubuh Rena sekarang sudah dipenuhi dengan kiss mark yang sangat banyak, ketika dia sudah bosan di atas maka dia lakukan di bawah atau kedua-duanya.


Bibir di bawah tangannya merayap ke atas perlakuan yang sama sehingga membuat sang istri melenguh dan menjerit setelah puas Mereka pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah.


Rena sudah siap dengan pakaian lengkapnya. Namun rasa malas untuk pulang badannya terasa sakit semua, tapi besok ia harus sekolah mau tidak mau dia pun harus pulang.


"Ini salah Abang jadi badan Rena jadi sakit semua dan lemas," katanya sambil mengerucutkan bibirnya


"Katanya mau tahu rasanya pacaran yaa, gitu dek, pacaran itu yaa seperti itu yang tahu batasan ya gak sampai menghamili, yang gak tahu batas ya bisa jadi hamil, Abang bisa ajak kamu bertualang di sini tapi yaa harus nikah dulu dek, karena kita sudah nikah abang berani sentuh kamu kalau belum yaa gak berani dek bisa di bunuh Daddy juga Ayah, aku dek.

__ADS_1


"Abang takut om Ammar?" tanya Rena


Enggak, Ren cuma hargai Daddy, Daddy itu sudah seperti ayah aku sendiri, jadi aku ngak mau ngecewakan Daddy apalagi yang ku suka itu keponakan, jadi aku ngak mau mainin kamu Ren, karena setiap sama kamu sebelum nikah aku sudah punyak keinginan sentu kamu tapi abang tahan," jawabnya terkekeh.


"Kalau sudah siap, ayo kita pulang! nanti dimarahi ayah aku ngajak kamu bolos melulu," kata Rendra.


"Sudah dari tadi Abang," kata Rena


Rendra pun keluar dari hotel bersama Rena dan menaiki mogenya pulang ke kediamannya Angga.


Motor besar itu berjalan melintasi jalan raya tangan Rena bergelayut manja di perut Rendra yang Ramping itu.


Beberapa saat motor besar itu meleak-leok di antara mobil-mobil. besar hinga sekitar dua jam mereka sampai dirumah, mereka pun mengucapkan salam sebelum masuk rumah.


Angga hanya diam saja saat menantu dan Anaknya baru pulang, entah kemana namun Angga mendapatkan info kalau mereka masuk dalam hotel.


Angga sedikit kecewa dengan menantunya terlalu gegabah dalam hal ini dia tahu kadang cinta bisa membuat logika tidak bisa berfikir jernih dan sering bertindak ceroboh sungguh sangat menguwatirkan.


Apalagi putrinya masih sekolah, ia mulai berpikir kembali apakah menikahkan mereka adalah salah? Dia pikir suami putrinya itu akan bertindak dengan sebuah pemikiran yang matang penuh kedewasaan, tetapi nyatanya pria itu tak sanggup menahan gejolak jiwa, saat berdekatan dengan wanita yang dicintainya dan sudah halal disentuhnya.


Apalagi pernikahan mereka tak seperti pernikahan pada umumnya, karena sang istri masih di usia sekolah, sesuatu yang tak umum di pandangan masyarakat akan lebih banyak menimbulkan fitnah. Itu sebabnya Angga ingin menantunya itu benar-benar berfikir sebelum bertindak.


Angga hanya berharap tidak terjadi apa-apa, andaipun terjadi, yang dia utamakan adalah kejiwaan sang putri.

__ADS_1


Malam ini dia membiarkan dulu sang menantu baru besok pagi dia akan mengajaknya berbicara dengan menantunya itu.


__ADS_2