Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Siapa Rendra Prayuga


__ADS_3

Setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian yang bersih ia pun merebahkan dirinya sebentar untuk melepaskan lelah duduk selama 20 jam lebih.


Sementara itu Rena di dalam kamarnya langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya lalu berganti pakaian, setelah itu dia keluar dari kamar mencari kamar Nara, saat sedang mencari ia berpapasan dengannya Diki. "Mbak kecil cari siapa?" tanya Diki menggodanya.


"Aku mau lihat Adik bayi, Bang," katanya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ayo Adik Diki antarkan, kalau mau lihat," guraunya lagi pada Rena.


"Abang jangan gitu dong, gak enak di dengar biasa saja," protes Rena pada Diki.


"Ya, gak boleh biasa saja Mbak Kecil, kan kamu anaknya paman Angga," godanya lagi pada Rena.


"Idih, jadi sebel tahu, Bang," protesnya sebal. Angga tertawa. "Lalu harus panggil apa Mbak Kecil," kelakarnya pada Rena sambil berjalan mendahului Rena menunjukan kamar Nara.


"Ya seperti biasanya saja, Bang. Gak usah gitu juga panggil Rena saja seperti biasa," jawab Rena semakin jengkel.


"Sini, Mbak Kecil. Masuk sini kalau mau lihat bayi Alvan," jelas Diki pada Rena.


"Ohh, namanya Alvan," sahut Rena sambil mengangguk-angguk.


"Mbak Ren, datang. Masuk yuk Mbak!" sapa Nara tak kalah ramahnya.


"Aku jadi tahu kenapa tante Aila sebel banget sama Mbak Nara, kenapa yaa kalian jadi kompakan begini, kalau jadi orang yang menyebalkan," keluh Rena membuat mereka tertawa.


"Sudah di bilang panggil Rena saja, Biar Rena punya Abang dan mbak. Uaaaaaa," tangis Rena sedih dan jengkel. Diki memeluk Rena. "Eee? Kenapa nangis? Sudah-sudah jangan nangis kita pangil Rena sampai kamu sudah tua baru kita panggil Mbak, gimana? Apa kamu suka?" tanya Diki pada Rena dan ia pun mengangguk.

__ADS_1


Diki tersenyum, begitu pun Nara ia tak mengira Rena akan menangis seperti itu. Diki meraih putranya yang sudah terbangun karena tangisan Rena. "Nah ini dia si Alvannya, Ren. Cakep ngak anak Abang?" tanya Diki pada Rena. "Iya cakep, maaf ya dik bangunin kamu, Momi sama Papi kamu resek banget," katanya terkekeh dan bayi itu pun tersenyum.


...----------------...


Di sebuah pinggiran kota Jakarta tepatnya di sebuah perkampungan dan di rumah sederhana yang bagus karena sudah di rehab beberapa kali. Seorang pemuda yang baru pulang dari Boston karena kuliahnya sudah selesai dan ingin menjenguk sang sahabat yang sebenarnya telah lama ia sukai.


Akan tetapi ternyata sahabatnya itu menyukai pria lain dan menikah di saat ia masih meniti karir di Boston.


Dia tak pernah berani untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu karena dia merasa tak memiliki apa-apa untuk bisa ditawarkan padanya, yaa dia adalah Rendra Prayogo seorang pengamen kecil yang bertemu gadis kecil berusia tujuh tahun memberikan sejumlah uang padanya untuk bisa diajari memetik gitar.


Gadis kecil itu tidak lain dan tidak bukan adalah Nara, yang membawanya bertemu dengan Ammar yang biayai sekolahnya hingga di mendapatkan beasiswa kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT)di Cambridge. Beliau masih mengirim biaya hidup untuknya di sana.


Semua itu tidak ingin ia sia-siakan. Dia mulai membangun bisnis di sana di tengah pendidikannya dan mulai berkembang saat ini.


Dia bekerja sama dengan teman yang menetap di sana dan sekarang ia pun membangun bisnis di sini mulai dengan membuka sebuah rumah makan yang di desain dengan minat anak muda yang instagramable.


Ia berjalan ke dapur menemui ibu tercinta. "Bu aku mau pergi ke rumah Pak Ammar, untuk melihat cucunya," pamitnya.


"Kau tidak membawa hadiah untuk sang cucu?" tanya ibunya


"Aku tak tahu harus bawa apa bu aku bawa mentahnya saja biar Nara sendiri yang membelinya," katanya sambil terkekeh.


"Baiklah salam ya buat Nara, sayang sekali tidak bisa jadi menantu Ibu, gadis itu sangat baik," kata ibunya


"Setidaknya tetap jadi sahabatku dan Adikku bu aku sudah sangat bahagia," katanya sambil mencium punggung tangan ibunya.

__ADS_1


Setelah itu ia pun keluar menaiki mogenya dengan kecepatan tinggi hanya butuh waktu beberapa menit saja, ia sampai di rumah Ammar, Rendra turun dari mogenya berjalan menuju pintu masuk rumah Ammar lalu mengucapkan salam, dan di jawab oleh mama Izah yang sedang merapikan ruang tamu, Izah pun keluar untuk melihat tamunya dan terkejut dengan pemuda yang ada di hadapannya. "Rendra, kapan datangnya?" tanya Izah sambil memeluk pria jakung itu.


"Kemarin, Mam. Maaf Ma gak kasih kabar dulu," katanya sambil mencium punggung jemari Izah.


"Nggak apa-apa, kamu sehat dan sukses Mama senang, ayo masuk! Mau ketemu Nara?" tanyanya pada pria itu.


"Iya, Ma. Ngak apa-apa nih, Ma? Gak enak sama suaminya," kata Rendra pada Izah.


"Nggak apa-apa, Diki orangnya enakkan gak akan cemburu begitu saja," kata Izah sambil mengandeng tangan Rendra mengantarnya di kamar Nara.


Tak lama kemudian, Izah tiba di kamar Nara dengan Rendra. "Ma, biar aku sendiri yang masuk," kata Rendra


"Baiklah, Mama tinggal, yaa," kata Izah lalu pergi meninggalkan Rendra yang ada di depan pintu kamar Nara yang terbuka. Rendra mengetuk pintu yang terbuka ketika terdengar suara menyuruhnya masuk, dia pun masuk dengan melepaskan topi dan seyuman mengembang. "Hello cabi kamu nggak kangen aku, yaa. Mentang -,mentang sudah punya bodyguard seumur hidup," katanya sambil melenggang masuk."


"Hai kak Rendra, kapan pulang? Makin ganteng saja Abangku ini. Ups, sorry Bang Diki," katanya sambil menatap suaminya.


Rendra tidak langsung menghampiri Nara, langkah kakinya menuju Diki yang duduk di sofa bersama Rena. sepersekian detik Rena terbengong menatap wajah Rendra yang tampan sebelas dua belas dengan Diki. Dia menyalami Diki. "Ini pasti Dokter Diki suaminya si Cabi, kenalkan Bang saya Rendra sahabat serta Kakak Angkatnya Cabi," katanya lalu beralih pada Rena yang masih terbegong, Diki menyenggol Rena dan Rena pun terkekeh lalu menyambut uluran tangan Rendra. "Rena, Karena Natasa Dintara," jawabnya memperkenalkan diri.


"Adik lo Bi?" tanyanya pada Nara tanpa melepaskan tangannya sambil mengeryitkan dahinya.


"Mbak kecil gue anak Paman Angga," jawab Nara sambil terkekeh pasalnya Rendra belum melepaskan jabatan tangannya ke Rena.


"Kenalkan Rendra Prayuga," katanya kemudian sambil tersenyum lalu melepas jabatan tanganya.


"Bang boleh peluk istri loh nih, soalnya gue kangen banget tuh sama cabi," pintanya terus terang.

__ADS_1


"Nggak boleh kamu bukan mahrom," kata Diki dengan wajah datarnya.


__ADS_2