
Ruangan VIP itu seketika menjadi rame.
"Kamu, sering-sering ke rumah kakek, Dik. Mumpung kakek masih sehat," pinta Raka.
"Iya Kek, pasti. Maaf belum bisa kesana bawaan ingin bulan madu terus di rumah," kata Diki sambil tertawa.
Raka pun tertawa. "Kakek, ngerti Dik. Kakek kalau lihat kamu ingat masa muda kakek dengan Nenek mu itu. Yah, seperti kamu dan Nara, Nenek mu baru lulus SMU pada waktu itu sudah ku ajak nikah. Eh, dianya mau," kenang Raka.
"Eh, emang dulu kakek usia berapa bertemu Nenek?" tanya Diki sambil membuka nasi kotaknya. " Kakek umur 24 tahunan Dik," kata Raka sambil menyuapkan makanan di mulutnya. Nara beranjak dari sofa dan berpindah duduk di dekat Diki. "Sudah makan?" tanya Diki dan Nara menggeleng dan tersenyum. "Mau di suapi?" Diki tersenyum lalu mengarahkan suapan nasinya ke mulut Nara. "Ini yang manja mamanya apa dedek yang ada di perut?" tanya Diki sambil terkekeh. "Dua-duanya, Bang." jawab Nara manja
"Apa Dulu Daddy sama Mami juga begitu? serasa ruangan ini milik mereka berdua, yang lain pada kemana gak tahu juga," kata Frans bercanda.
"Kalau Om ingin seperti kita ... tuh suapin tante Aila," kata Diki sambil terkekeh.
"Cek, kan sudah di dominasi sama Mami." kata Frans sambil menyuapkan makanan di mulutnya. Mereka pun tertawa mendengar protesan dari Frans.
"Kamu Nanti malam aja Frans, Mami masih kangen dengan anak Mami," kata Rima terkekeh. Raka yang telah selesai makan mengambil satu nasi kotak dan berjalan menuju ke arah istrinya lalu duduk di bibir ranjang. "Mami juga harus makan biar nanti gak kena asam lambung," katanya sambil menyuapkan makanan ke mulut Rima. Mereka tertawa dengan apa yang dilakukan Raka untuk menggoda Frans. "Kenapa Daddy ikut-ikutan juga?" kata Frans sambil meletakan kotak makanan yang telah kosong dan mengambil air mineral lalu meminumnya. "Sabar yaa Frans ada saatnya giliranmu," timpal Ammar.
Ketika mereka saling bersendagurau, Rafa dan Anin datang, keduanya masuk setelah mengucapkan salam. Lalu mencium punggung tangan Kakek- Neneknya, Paman- bibinya, Daddy serta Mamanya.
"Sudah rame dan telah berkumpul semua ternyata, kita kira hari ini kita saja yang datang yaa, Nin," kata Rafa sambil memeluk Om dan juga iparnya.
__ADS_1
Anin mengangguk lalu memeluk Aila. "Gimana, Tan perasaannya?" Aila tersenyum. "Nanti kau akan tahu sendiri, perasaan seorang ibu yang telah melahirkan anaknya, sudah berapa bulan ini?" tanya Aila pada istrinya keponakannya itu.
"Enam sama dengan Nara. Dedeknya belum bisa dibawa kesini,Tan?" tanya Anin pada Tantenya itu.
"Belum, masih di inkubator, kalau mau lihat di ruang bayi." Anin manggut-manggut. Nenek menatap Anin. "Masih mual-mual engak?" tanya Nenek pada Anin. Anin tertawa. "Yang mual Bang Rafa, Nek." Rima tertawa. "Syukurlah, bukan kamu. Biar kapok dia, biar berubah watak dan perilakunya."
"Kok Nenek bilang gitu sih sama aku. Padahal aku 'kan, Cucunya." kata Rafa sambil menghampiri Anin istrinya. "Ayo makan dulu, An." Rafa menggeret tangan Anin untuk duduk di sofa lalu menyuapkan makanan pada Anin. Rima tertawa mendengar gerutu dari cucunya itu.
Diki berpamitan untuk melanjutkan tugasnya sebagai Dokter. "Nanti kalau mau ke rumah kakek ikut aja, Abang nyusul," kata sambil mencium kening istrinya, Nara pun mengangguk lalu mencium punggung tangan Diki.
Diki pun pamit ke pada semuanya lalu keluar dari ruangan. Tak seberapa lama kemudian, mereka semua pamit. Ruangan kembali sepi tinggal Frans dan Aila saja. "Ya sepi lagi deh," katanya sambil menatap Frans. "Biar kamu bisa istirahat, sekarang tidurlah!"
Sunyi tak ada percakapan saling menatap menyelami hati masing-masing. ketika saling memandang, terdengar kembali salam dan ternyata tante Raya yang datang. "Sudah pulang semua nih?"
"Tante, apa Ai tak akan bisa punya Anak lagi?" tanyanya pada tantenya.
"Kemungkinan akan sulit, Ai. Akan tetapi jika Allah berkehendak maka apa pun bisa terjadi." Aila menganggukan kepalanya, Raya tersenyum. "Bukankah kau sudah punya anak yang ganteng," kata Raya sambil terkekeh.
"Iya, tapi aku takut dia datang lagi dan menggoncang rumah tanggaku tante," katanya dengan raut wajah cemas.
"Jangan cemas, dia sudah di tangani tak akan kembali dan sudah di Paris sekarang."
__ADS_1
"Ai apa kau tak percaya kalau aku mencintaimu," kata Frans menatap lekat istrinya.
"Aku percaya Frans, tapi aku tak percaya pada wanita itu," sahut Aila.
Frans menghelah nafas. "Yang penting saling menguatkan Ai."
Raya tersenyum. "Apa kalian tidak mengubah panggilan sebab kalian sudah punya anak, kalau dia nanti memanggil nama kalian karena mereka menirukan panggilan kalian, bagaimana? pikirkanlah itu!" kata Raya sambil berjalan keluar ruangan. Kemudian Frans menutup pintu dengan pelan. "Benar apa yang kata Tante, kita harus memikirkan untuk mengubah panggilan kita."
"Bagaimana, kalau aku memanggilmu, Papi?" tanya Aila
"Boleh, aku akan panggil kamu Mami, rasanya seperti baru kemarin kita bermain anak-anakan tapi sekarang benar-benar kita punya anak," kekeh Frans lalu mencium bibir Aila lama, setelah dirasa kehabisan nafas, Frans melepaskan tautan di bibir Aila. Ahh, aku akan puasa selama 40 hari, tak bisa ku bayangkan betapa rindunya aku, Ai."
"Gak usah di bayangkan di jalani saja. Nah kau lupakan panggilan yang kita sepakati." kata Aila sambil tersenyum manis dan Frans mengangguk tertawa.
Tak terasa terdengar adzan ashar, menunjukkan sebentar lagi matahari akan terbenam di gantikan oleh lembayung senja.
Frans masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri lalu melaksanakan sholat ashar di ruangan itu. Setelah selesai dia menemani isteri kembali, duduk di kursi depan ranjang Aila. Berbincang-bincang dan bercengkrama serta bercanda ria seolah ingin mengubah hari yang kemarin suram, menjadi hari yang begitu menyenangkan, Frans ingin Aila melupakan hari di mana nyawa dan anaknya menjadi taruhannya, bahkan hari itu terasa kakinya lemas tak berdaya ketika Aila terjatuh. Andai tidak ada pak Danu saat itu, apa yang terjadi dengan isterinya tak bisa dia membayangkan.
Sementara itu rombongan Keluarga yang menjenguk sudah berada di kediaman Raka, dia ingin anak dan cucu-cucunya menginap di rumahnya.
Mereka semua menempati kamar yang telah di sediakan.
__ADS_1
Nara merebahkan dirinya di ranjangnya yang telah lama di tinggalkannya. Setelah menikah ia belum berkunjung ke rumah kakeknya, betul kata kakek harusnya ia dan abangnya seharusnya sering-sering mengunjungi kakeknya karena kesempatan ada setiap hari.