
"Ya, aku memang lama gak pernah datang kemari, ku pikir Anisah akan memakai uangku untuk memperbaiki rumah tenyata tidak, dia benar-benar tidak mau memakai uangku sepeserpun," kata Andrian.
"Ibu, sungguh mempunyai rasa gengsi yang tinggi, untung tidak menurun kepada anaknya, kalau menurun bisa susah menaklukkan hatinya," kekeh Rafa yang di iringi tawa Andrian.
"Ayo ayah kita masuk aku ingin tahu bagaimana rupa asli dari adik iparku itu," katanya sambil tertawa
Yang mirip ibunya yaa Davin itu, kalau dia tidak suka maka tidak berupaya untuk menyukai malah semakin angkuh dia, di sana dia di jodohkan dengan cucu sahabat ayahku, dia menolak mentah-mentah ku yakin kedatangan ke sini bukan karena hanya ingin melihat Kakak," kata Andrian pada menantunya.
Mereka berjalan, ke ruang makan nampak Anin menata makanan yang sudah di panaskan di meja, Ehan yang mendengar suara kakeknya yang berbincang-bincang dari kamar yang pintu terbuka itu segera keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar om Davinnya.
Pintu terbuka terlihat seorang lelaki remaja keluar dari dalam kamarnya dan tersenyum.
"Mami sama Papi sudah pulang katanya ingin bertemu dengan mamiku yang cantik," kata Ehan sambil menggerakan alis ke atas ke bawah. Davin tertawa melihat ulah ponakannya itu.
"Ayo kita turun kalau begitu?" kata Davin pada ponakannya dan mereka pun turun kebawah bersama.
"Hello kakakku," sapa Davin sambil merentangkan tangannya, Anin menoleh kearah suara itu lelaki tampan perpaduan dari ayah dan Ibunya, tersenyum kepadanya. Mata tersimpan kerinduan yang amat sangat. Dia beranjak dan berjalan menghampiri Adiknya yang tak pernah dilihatnya, kata ayahnya mereka pernah bersama saat Anin masih usia lima tahun dan dia tidak bisa mengingatnya kembali masa-masa itu.
Davin memeluk sang kakak, meluapkan kerinduan yang terpendam selama ini hanya melihat foto-foto masa kecilnya.
"Jangan lama-lama, Dek," pinta Rafa yang membuat Andrian tertawa.
"Kan tadi aku sudah minta ijin kakak ipar, lagi pula kita saudara loh," katanya masih memeluk Anin sang kakak.
Anin tertawa memukul bahu sang adik. "Jangan buat dia marah," kata Anin dan Davin tertawa kemudian melepaskan pelukannya dan mencium pipi sang kakak, Rafa melebarkan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh adik iparnya itu.
Davin tertawa dan menghampiri kakak iparnya itu. "Maaf kakak kelepasan, jangan marah yaa!" katanya terkekeh sambil menjabat tangan kakak iparnya itu.
__ADS_1
Rafa hanya pasrah saja sifat tengilnya itu di rasa menurun dari sang Ayah. mereka saling berpelukan.
"Mami Ambilkan aku makan, mereka tidak mengajakku makan," kata Ehan sambil mengerucutkan bibirnya itu.
"Oh sorry, Boy aku tidak mengajakmu makan, habis ku pikir Mamimu sudah masak andai kamu kakek ajak makan takut di marahi ibu, biar ku ambilkan yaa, kakek siap melayani mu Baginda raja kecil," kata Andrian tertawa.
"Ok, trimakasih kakek, aku tersanjung," kata Ehan sambil tertawa,
Anin tersenyum melihat keakraban kakek dan cucu itu ia berjalan kearah tempat duduknya lalu mengisi piring suami dengan nasi, lauk-pauk dan sayur kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.
"Ayah, Davin itu aku membeli kue andai suka, silahkan untuk menikmatinya sambil menemani kami makan," kata Anin pada mereka.
"Mami, masak Om Davin ganteng begitu gak punya cewek, masak gak ada yang naksir?" celetuk Ehan.
"Hahaha, bukan begitu Ha, belum ada saja yang klik di hati Om," kata Davin sambil tertawa.
Davin bertanya banyak hal tentang masa kecil kakaknya, sekolahnya, hingga bagaimana dia bertemu dengan suami yaitu Rafa.
"Sebenarnya dia ke sini dalam rangka melarikan diri dari sebuah perjodohan yang di lakukan oleh kakeknya," kata Andrian terkekeh
"Kenapa nggak mau?" tanya Rafa pada Davin.
"Habis kata kakek usianya lebih tua lima tahun dengan ku, seusia kakak lah sekarang," jawab Davin pada mereka sambil memakan roti yang di beli kakaknya itu.
"Memang apa yang membuat kakek menjodohkan mu dengan yang lebih tua dari mu?" tanya Anin pada Adiknya
"Aku juga tidak tahu, katanya aku ke kanak-kanakan kan emang umurku masih 19 tahun.
__ADS_1
...----------------...
Sementara itu di rumah Angga, Rena dan Rendra berpamitan untuk menangani perusahaannya dan sang kakak Bara karena harus pulang ke Indonesia sebab pak Haidar sendirian semenjak Vino memilih menjadi polisi kriminal, jarang sekali pulang, pulang satu Minggu dan bertugas hingga berbulan-bulan lamanya.
Saat ini terjadi masalah sedikit pada usaha dan usaha kakak iparnya itu sehingga dia harus membereskan masalah yang ada di sana dan mengajaknya ibu dan istri untuk tinggal di sana, siang ini mereka berangkat ke bandara di antar sopir, sebelum ke badara mampir dulu untuk kerumah menjemput ibunya.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang membawa mereka menuju rumah, nampak ibunya tersenyum dari kejauhan menyambut mereka.
Rendra keluar mengambil koper ibunya dan menyimpannya dalam bagasi mobil. lalu kembali masuk dan duduk di sebelah sopir sedangkan ibunya duduk bersama Rena sang menantu. Mobil kembali berjalan menuju Bandara Sukarno-Hata.
Tak lama kemudian mereka sudah berada di bandara, Rendra membawa troli berisi koper mereka berjalan menuju ke terminal keberangkatan lalu melewati ruangan pemeriksaan setelah itu masuk kedalam pesawat mereka, Rendra meminta Ibunya duduk bersama Rena tetapi sang ibu menolak meminta duduk sendiri bersama orang lain bahkan dia menasehati sang anak,
"Ibu tahu kalian sudah menikah empat tahun yang lalu tapi nyatanya kamu baru menjadi seorang suami beberapa Minggu yang lalu tentunya istri ingin bermanja dengan mu apalagi perjalanan sangat panjang dan melelahkan jadi kamu duduk saja di sana menemani istrimu itu.
Akhirnya Renda kembali ke tempat duduknya bersama sang istri.
"Kenapa Bang ibu tidak mau duduk di sini?" tanya Rena pada suaminya itu.
"Aku di suruh menemani kamu duduk di sini, kata ibu kamu masih mode manja-manjanya," katanya pada Rena
"Ibu bisa saja, kalau di sini juga gak apa-apa loh," kata Rena pada suaminya.
"Tapi Sebenarnya kamu tak ingin berjauhan dengan ku kan, sayang," kata Rendra pada Rena.
"Enggak juga cuma kadang-kadang nyari," katanya terkekeh.
Mereka pun berbincang-bincang bercanda dan bersenda gurau lalu akhirnya Rena menguap ia pun tidur bersandar dada suaminya.
__ADS_1
Rendra pun tersenyum, betul kata ibu istri akan lebih nyaman dengan suaminya apa lagi perjalanan yang memakan waktu yang cukup panjang yaitu sekitar 22 jam perjalanan ke sana.
Rendra akhirnya menyusul istrinya terlelap di atas kursinya.