Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Pertemuan Kedua 'Mereka'


__ADS_3

"Are you okay? (Apa kamu baik-baik saja?)" tanya Devan dengan memperhatikan wajah gadis yang menurutnya tak asing.


"I'm okay, t-thank you." jawab gadis itu, di perhatikan Drvan seperti itu membuatnya sedikit grogi.


"Don't worry, I'm not hurt you. (Jangan khawatir, aku tidak menyakitimu)" ujar Devan tahu jika gadis di depannya itu sedikit waswas dengannya.


"Wait.. I think we have met before. Your face is familiar. (Tunggu, aku pikir kita pernah bertemu sebelumnya. Wajahmu tidak asing)" imbuhnya.


"Mmm I think also. (Aku pikir juga begitu)" balas gadis itu yang sepertinya juga pernah bertemu dengan Devan.


"Are you Nada's friend? (Kamu teman Nada kan?)" tebak Devan.


"Oh Yeahh. We have met at Nada's Engagement event, right? (Kita bertemu di acara pertunangan Nada kan?)" balas gadis itu memastikan.


"Yeahh, I am Devan. Nantha's friend. (Yaa, aku Devan, teman Nantha)" jawab Devan dengan mengulurkan tangannya.


"I am Shena." balas Shena.


"I still can't imagine if our second meeting happened like this. (Aku masih tidak bisa membayangkan jika pertemuan kedua kita terjadi seperti ini)" ujar Devan.


"Menyebalkan memang." balas Shena dengan berbahasa Indonesia.


Devan terkekeh, "Oh iya, gimana tangan kamu? Masih sakit?" tanya Devan.


"Lumayan sih, di teken banget tadi." ujar Shena.


"Ini masih agak merah. Emang bener-bener sakit jiwa tuh orang." ujar Devan.


"Mmmm wait, kamu duduk sini dulu. Aku kesana bentar." lanjutnya dengan meminta Shena duduk di bangkunya dan ia beranjak pergi sebentar.


Tidak lama kemudian, Devan kembali dengan membawa syal yang ia ambil di mobil dan bungkusan berisi es batu yang baru ia beli di salah satu counter penjual minuman.


Melihat itu Shena hanya diam dan sedikit bingung dengan apa yang Devan bawa.


"Maaf ya.." ujar Devan menyentuh tangan Shena.


"M-mau ngapain?" tanya Shena was was


"Buat ngeredain sakitnya." balas Devan.


"Nggak usah repot-repot, nanti juga reda sendiri." ujar Shena hendak menarik tangannya, namun di cegah oleh Devan.


"Kalo sekarang kan biar cepet reda, kalo nanti ya kamu agak lama ngerasain sakitnya." jelas Devan.


"Tapi-"


"Diem. Aku nggak gigit." sergah Devan.


"I-iya udah aku sendiri aja." ujar Shena.


"Diem, udah biar aku aja." lagi-lagi Devan tidak mau di bantah dan segera mengompres tangan Shena.


"Ssshhh... aw" rintih Shena.


"Tahan ya." ujar Devan.


"Coba tadi aku nggak dateng, mungkin bakal lebih parah dari ini." ujar Devan


"Ihh jahat banget sih." balas Shena menggerutu.


"Kan aku bilang mungkin. Lagian bukannya kamu ada di New York ya?" tanya Devan.


"Kok kamu tau?" ujar Shena tanya balik.


"Ya denger-denger aja sih." balas Devan.


"Iya tiap 2 atau 3 bulan sekali aku kesini buat meeting sama klien bahas desain-desain busana gitu." jelas Shena.


"Kalo meeting-meeting gini biasanya sampe semingguan, ini udah hari ke sembilan aku disini dan besok mau balik New York. Jadi ya aku kesini mau refreshing aja sebenernya. Eh nggak taunya malah ada insiden tadi." lanjutnya.


"Oh iya, kamu sendiri disini ngapain?" tanya Shena.


"Lagi ngurusin perusahaan Nantha yang disini sambil ngunjungin orang tua." jawab Devan.


"Orang tua?"


"Orang tuaku stay disini, karna perusahaan dan beberapa usahanya memang berdiri disini, jadi ya aku di Indo sendiri." jelas Devan.


"Oh gitu." Shena hanya manggut-manggut.


"Oh ya, by the way tadi kamu bilang besok mau balik ke New York kan? tanya Devan.


"Huumm.." Shena berdehem.


"Aku besok juga mau kesana, ada meeting." ujar Devan


"Kebetulan dong." ujar Shena.


"Udah booking?" tanya Devan.


"Belum sih." jawab Shena.


"Bareng yuk.." ajak Devan.


"Hah?"


"Besok jam 7 aku jemput." ujar Devan tanpa penjelasan.

__ADS_1


"Hah?"


"Kamu hah hah terus."


"Ya kamu asal nyeplos aja sih." Shena sedikit kesal.


Lagi-lagi Devan terkekeh dengan respon gadis manis di depannya ini.


"Kasih kontak kamu dan alamat tempat kamu sekarang." ujar Devan.


"Aku kan belum bilang setuju." balas Shena.


"Aku anggap setuju." ujar Devan seenaknya.


"Enak aja."


"Enakin aja."


"Ihhh apaan sih kamu." Shena tambah kesal dengan sikap Devan.


"Hahaha enggak-enggak aku becanda. Aku ngajak kamu bareng, cuma pengen jagain kamu aja." jelas Devan benar adanya.


"Jangan salah paham dulu. Maksud aku, kamu cewek sendirian, apa kamu nggak takut kejadian kayak tadi terulang lagi?" lanjutnya


"Ya jangan gitu dong." sahut Shena.


"Yaudah bareng aja besok.." ujar Devan.


Shena menghela napas, "Nih kartu namaku, nanti alamatnya aku teks aja atau kalo nggak, langsung ketemu di airport aja besok." jelas Shena memberikan kartu namanya.


"Nggak bisa. Harus aku jemput." ujar Devan.


"Nyebelin banget sih maksa terus." ujar Shena.


"Demi keamanan."


"Dasar. Bilang aja modus." gumam Shena dalam hati dengan percaya dirinya.


"Yaudah, thanks ya buat yang tadi dan ini." ujar Shena.


"Mau pulang?" tanya Devan.


"Iya mau prepare." jawab Shena.


"Yaudah aku anter aja, biar tau tempat kamu sekalian." ujar Devan menawari tumpangan.


"Aku naik taxi aja. Kamu enjoy aja dulu disini." balas Shena.


"Udah bosen. Yuk ah." ajak Devan.


"Enggak."


"Hah?"


"Karna udah nolongin kamu." Devan memperjelas ucapannya.


"Oh jadi kamu nggak ikhlas?" tanya Shena.


"Ikhlas. Yaaa, tapi alangkah baiknya di sertai dengan tindakan. Contohnya ya kayak gini. Kamu harus mau aku anter pulang." jelas Devan.


"Ck, dasar otoriter." ujar Shena dengan berjalan mendahului Devan.


Devan tertawa melihat kekesalan Shena yang meski begitu tetap mengikuti ucapannya.


Kini mereka berdua berada di dalam mobil. Hening seketika setelah mobil dijalankan dan membelah jalanan di perkotaan yang padat itu. Devan juga terlihat sedikit kikuk. Keduanya masih enggan memecah keheningan di antara mereka, bahkan hanya sekedar basa-basi untuk menghidupkan musik.


Sampai akhirnya Devan menghentikab mobilnya di depan gedung apartemen elit di kota itu, yang menjadi tempat tinggal Shena jika berkunjung ke Vancouver. Jangan tanyakan mengapa Devan bisa tahu apartemen Shena, karna di sepanjang perjalanan Shena hanya bersuara untuk menunjukan arah, seperti 'Habis ini belok kiri, habis ini belok kanan', begitu sekiranya hingga tiba di tempat tujuan.


"Thanks." ujar Shena sambil turun dari mobil.


"See you tomorrow." ujar Devan namun tak mendapat balasan dari Shena, membuat Devan hanya meringis.


Sepanjang perjalanan pulang, Devan tak berhenti tersenyum mengingat pertemuan dan tingkah gadis yang notabene teman dari istri sahabatnya itu. Devan merasa jika sikapnya tadi terkesan konyol, tapi entah mengapa ia senang melakukannya. Apakah itu berarti?


"Enggak-enggak.. baru juga ketemu, dianya aja jutek gitu. Emang sih lucu, cantik, manis, gemesin. Aarghh ngomong apa sih gue." gumam Devan seolah tidak mengakui ketertarikannya pada Shena.


Jakarta, 19:00 WIB


Memasuki minggu ke 3 kehamilannya, semakin hari Nada semakin manja dan kadang uring-uringan, namun itu tidak membuat Nantha merasa kesal, justru ia mengikuti mood dan apapun yang istrinya minta. Nada yang setiap hari mengalami morning sickness sehingga tidak nafsu makan, membuat Nantha ekstra sabar membujuk Nada agar istrinya itu mau makan.


"Sayang, ayo tinggal dikit lagi. Aaaa.." ujar Nantha.


"Udah nggak kuat yang, kenyang banget aku." balas Nada.


"Baru 5 suap loh, kasian junior masih laper nanti." ujar Nantha.


"Tapi aku beneran udah kenyang, malah ini udah mau mual lagi." ujar Nada.


"Yaudah yaudah, minum dulu. Jangan di keluarin ya sayang, plisss." ujar Nantha dengan nada lembut bagaikan kapas. Ia benar-benar menjaga ucapan dan notasinya. Takut jika istrinya sensitif dan salah mengartikan. Wkwkwk


"Ya makanya udahan." ujar Nada.


"Iyaaa."


"Mau langsung ke atas?" tanya Nantha.


"Nonton tv dulu ya, ada film baru kata Andien." jawab Nada.

__ADS_1


"Yaudah aku temenin." ujar Nantha.


"Kamu tadi katanya habis makan mau ngecek laporan?" tanya Nada.


"Besok aja. Yang penting kamu." jawab Nantha.


"Alah gombal banget."


"Hahaha.." Nantha tertawa, tak lama kemudian tangannya masuk ke dalam dress piyama milik Nada, mencari harta karun di balik dress tersebut.


"Ih kenapa lagi kayak gini" ujar Nada.


"Aku pengen yang." balas Nantha.


"Nggak boleh sering-sering kata dr. Citra." ujar Nada mengingatkan.


"Kan emang nggak sering yang, aku udah libur 3 hari ini."


"Ayolah yang, plissss.. 1 ronde aja." ujar Nantha memelas.


"Ck, kamu ini. Janji ya cuma sekali.." ujar Nada.


"Asikk.." ujar Nantha bersemangat sambil beranjak menggendong istrinya ala bridal style.


"Eh jawab dulu." ujar Nada.


"Kan udah barusan."


"Nantha ih.."


Dan terjadilah 'perang' di antara mereka. Lagi-lagi Nantha tidak dapat menahan hasratnya untuk tidak meminta lebih. Namun melihat Nada yang sudah sangat lemas dan lelah, mengurungkan niatnya untuk melanjutkan aksinya lagi. Ia tidak ingin egois, yang nantinya akan menyakiti istri dan juga calon buah hatinya.


"Maaf sayang, aku khilaf." ujar Nantha sedikit menyesali perbuatannya, namun ia juga suka meskipun sebenarnya ia masih kurang.


"Aku capek banget." ujar Nada lemas.


"Yaudah tidur ya. Bentar aku pakein bajunya biar nggak dingin." ujar Nantha.


"Nggak mau." sahut Nada.


"Hah?"


"Gini aja, aku gerah. Pake selimut aja, sama peluk." ujar Nada manja.


"Manja banget sih istriku." balas Nantha dengan memeluk istrinya erat, tak lupa ia berikan kecupan di kening Nada.


°


°


°


Waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, Nantha sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sedangkan Nada masih terlelap dalam tidurnya, setelah sholat subuh dan menyiapkan baju kantor Nantha, ia kembali tidur karna masih sangat ngantuk dan lelah tentunya. Nantha hanya membiarkan istrinya, karna ia pun juga tidak tega jika membangunkan istrinya. Ia sudah cukup senang di perhatikan dengan di siapkan baju kerja, meskipun itu hal kecil, asalkan Nada yang menyiapkannya itu sudah membuatnya senang.


Ting~


Suara bel rumah berbunyi, Nantha yang mendengar itu tidak langsung turun ke lantai satu, karna ia tahu pasti sudah di bukakan oleh Bibi atau Mbak Nining.


"Selamat pagi nyonya Nimas." ujar Mbak Nining.


"Pagi mbak Nining, Nada sama Nantha sudah bangun?" tanya mami Nimas.


"Aduh saya kurang tahu nyah, dari tadi belum keluar kamar." jawab mbak Nining.


"Yaudah kalo gitu mbak. Ini minta tolong bawain ke dapur ya. Hari ini saya mau masak buat makan siang. Saya juga mau bikinin rujak buat Nada, katanya kemarin ngidam pengen makan rujak." jelas mami Nimas.


"Oh iya baik nyah."


Saat mami Nimas sedang mengeluarkan isi dari kantung kresek, terdengar bunyi sepatu turun dari tangga, siapa lagi jika bukan Nantha yang bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Pagi, Nan." sapa mami Nimas.


"Loh, mami? Jadi yang tadi mencet bel mami?" tanya Nantha.


"Iya, hari ini mami mau masak disini buat makan siang sama bikinin rujak buat Nada. Oh iya, dimana Nada? Masih tidur?" tanya mami Nimas.


"Iya mih, kasian masih ngantuk." jawab Nantha.


"Masih ngantuk? Emang dia begadang?" tanya mami membuat Nantha kaget. Ia merutuki ucapannya.


"Ee e itu mih, ee--"


Melihat Nantha tergagap membuat mami Nimas tersenyum, "Udah udah mami udah paham." ujar mami.


"Yaudah aku pamit ke kantor dulu ya mih." ujar Nantha sedikit kikuk.


"Nggak mau sarapan dulu, Nan?" tanya mami Nimas.


"Gampang nanti aja di kantor mi. Aku belum laper." ujar Nantha berbohonh, padahal ia sudah sangat lapar. Namun karna ucapannya tadi ia sedkiti malu dengan ibu mertuanya.


"Yaudah kalo gitu nanti siang mami minta sopir buat kirimin makan siang ke kamu." ujar mami Nimas.


"Nggak usah repot-repot mi. Nanti jam makan siang Nantha pulang aja." ujar Nantha.


"Dari pada bolak balik. Udah nanti pokoknya mami kirimin. Sana berangkat nanti kamu kesiangan." ujar mami Nimas, kali ini Nantha tidak bisa membantah. Seorang Nantha yang biasanya tidak bisa di bantah dan terkesan memaksa, kini giliran dia yang dipaksa dan tidak bisa membantah ucapan ibu mertunya. Nantha hanya tunduk oleh 3 wanita yaitu ibunya, istrinya, dan ibu mertuanya.


"Yaudah, makasih ya mih. Nantha pamit dulu. Assalamualaikum, mih." ujar Nantha pamit sambil mencium tangan mami Nimas.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Hati-hati." balas mami Nimas, Nantha membalasnya dengan anggukan kepala.


__ADS_2