
Rena baru saja keluar dari kelasnya dengan mencangklong tas di punggungnya berjalan dengan santai, terdengar bunyi handphone di dalam saku rok bawahannya, Dia segera mengambilnya dan menerima panggilan telpon ternyata dari Rendra yang beberapa hari ini membuatnya jantungnya cenat-cenut.
Dari seberang terdengar suara yang selalu di rindukannya itu. "Assalammualaikum, Dek, saat ini Abang tidak bisa jemput,Dek. Maaf yaa, kamu akan di jemput pak Sobar dia sudah berada di luar pintu gerbang," kata Rendra yang sebenarnya ia berada di lokasi sekolah Rena tetapi ia memarkirkan moge sedikit jauh dari mobil yang di bawa pak Sobar.
"Wa'alaikumsalam, Kenapa? Padahal Rena ingin berkeliling dulu di jalanan," katanya sambil berjalan keluar dari pintu Gerbang sekolah.
Rendra tertawa. "Panas, Adik sayang. Lebih enak sore, matahari juga tidak menyengat, tetapi Abang tidak bisa sayang, karena harus keluar kota."
"Kenapa keluar kotanya mendadak?" tanya Rena yang masih merajuk.
"Yang namanya pekerjaan itu memang mendadak, sayang. Tidak ada secedulnya kapan berangkat, seperti di sekolah," kata Rendra.
"Berapa lama di sana?" tanya Rena.
"Belum tahu sayang, bisa tiga hari, bisa sampai seminggu tergantung masalahnya rumit atau tidak," katanya pada Rena
"Ya, sudah Assalamualaikum," jawabnya langsung memutuskan sambungan teleponnya. lalu membuka pintu mobil dan duduk di bangku tengah kemudian menutup dengan sangat keras membuat pak Sobar terjengkit.
"Ada apa Non? Kok, marah-marah," tanya pak Sobar dengan hati-hati.
"Jalan, Pak! Gak usah hiraukan aku," katanya pada pak Sobar.
"Pak Sobar di suruh siapa jemput Aku?" tanya pada pak Sobar tengah menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Di suruh tuan besar Non," kata Pak Sobar.
Ayah sudah pulang tanya Rena. Sudah non tadi sekitar jam Nyonya sampai rumah tapi itu kan baru sampai sekitar pukul 11.00," jawab pak Sobar.
"Ayah ke mana dulu kok tidak bersamaan dengan Bunda tanya Rena.
Mbak kalau gitu Saya tidak tahu non, tanda tanyakan sendiri sama Tuhan besar, "kata Pak sobar.
__ADS_1
"Isss, mana mungkin aku berani bertanya soal itu pak sabar?" kata Rena. "Nona saja tidak berani apalagi saya?" katakan sobar.
Rena terkekeh. "Bener juga nih, Pak Sobar. Ya, aku cuma heran saja, kenapa Bang Rendra tiba-tiba tidak bisa menjemputku? dan Pak Sobar yang menyebutku, ayo jelaskan! kenapa Pak Sobar?" tanya Rena.
"Bapak juga tidak tahu non kenapa mas Rendra tidak bisa menjemput? coba tanyakan kenapa?" pak sabar balik bertanya.
"Kok Pak Sobar balik tanya pada Rena, sih!" protes Rena
Pak Sobar tertawa. "Habis Non Rena lucu masak tanya Bapak, jelas Bapak gak tahu," kata Pak Sobar.
"Ya, sudah Bapak focus aja dengan jalan saya mau tidur, pusing," kata Rena sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya.
Tak seberapa lama mereka pun sampai,
Rena langsung turun dari mobil, dan berlari masuk kedalam tanpa mengucapkan salam, dia langsung menaiki tangga tanpa peduli orang tua tengah terbengong dengan kelakuan putrinya itu.
"Kenapa dia, Yah?" tanya Rika pada Angga. Pria paruh baya itu terkekeh, dia sudah bisa menebak bahwa sang putri marah pada Rendra karena tidak menjeputnya.
"Putrimu sedang jatuh cinta, nanti kita bahas bersama Daddy ya, Bun," kata Angga pada istrinya.
"Kapan kita ke rumah Deddy? tanya Rika "Nantilah mungkin sehabis magrib atau saya habis isya kita ke sana," kata Angga.
"Apa Ayah tidak ingin bercerita sesuatu padaku sebelum membahasnya dengan Daddy," tanya Rika.
"Ya, habis ini, Bun. Kita akan bahas ini di ruang kerja aku," kata Angga.
Angga menyelesaikan makan siangnya lalu mengajak istrinya ke taman belakang. kita di sini aja Bun sambil berbincang-bincang tentang Rena. Memang ada apa sih dengan Rena, yah?" tanya Rika.
"Duduk sini dulu nanti aku jelaskan," kata Angga.
Mereka pun duduk di bangku taman dan Angga pun mulai menceritakan pembicaraannya dengan Ammar dan juga pertemuannya dengan Rendra anak angkat dari Ammar, lalu memberikan rekaman CCTV yang ada di handphonenya.
__ADS_1
Rika mulai melihat dan menilai bagaimana Rendra. Setelah itu, dia pun menghela nafas.
"Dia ini sebenarnya baik, aku terkesan, akan tetapi Rena itu masih kecil yah, rasanya sulit untuk melepaskan dia," jawab Rika sambil tatapan menerawang jauh.
"Dia dia nggak kemana-mana Bun. Dia masih di sini, Rendra hanya ingin mempunyai status yang Sah saja terhadap Rena masalah hak dan kewajiban dia tidak menuntut, tapi itu ... aku sebenarnya ingin mereka nikah agama dan negara, tapi tidak mungkin kan bagi Rena untuk nikah negara, karena usianya masih kecil masih empat belas tahun. Iya aku lupa kalau besok ulang tahunnya, sementara aku melarang Renda untuk menemuinya dulu, pantas saja dia uring-uringan," kata sambil tertawa.
"Ini harus dibicarakan dengan Daddy kita tidak bisa memutuskannya begitu saja, biasanya pendapat Daddy itu akan lebih bagus," kata Rika
"Eemm, itu benar Bun, coba Bunda dekati dia, pancing dia agar bercerita tentang Rendra," perintah Angga.
Rika berdiri dari duduknya dan berpamitan pada suaminya untuk menemui putrinya di kamar.
Dia berjalan meninggalkan taman belakang menaiki tangga menuju kamarnya sesampainya di depan kamar putrinya itu ia pun mengetuk pintu beberapa kali, menunggu beberapa saat belum ada jawaban dan pintu pun tidak terbuka sekali lagi Dia mengetuk pintu itu sambil berteriak dan ini Bunda tolong buka nak perintahnya.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat Rena yang masih menggunakan seragam sekolahnya dengan muka lesunya, mempersilakan bundanya masuk ke dalam kamar.
Rika duduk di sofa dan menarik tangan anaknya, untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa, Cerita sama Bunda?" tanya Rika.
"Gak ada apa-apa Bun, Rena cuma capek aja karena banyak pelajaran yang makin sulit saja," jawab gadis itu.
"Bener, gak ada yang lain? Gak lagi sedang jatuh cinta anak Bunda ini?" tanya Rika dan Rena menggeleng.
"Ya, Sudah kalau ada Pria yang berani sembunyi-sembunyi macari anak Bunda, biar kaki dan tangannya dipatahin sama Om Aiko," kata Rika hendak bangun dari duduknya.
"Eeh, jangan Bun!" pinta Rena sambil memegang pergelangan tangan Rika.
"Baik Rena akan jujur," katanya sambil menatap sang Bunda.
Rika kembali duduk, menatap sang putri dengan tatapan penuh kasih seolah mengatakan bahwa dia selalu mendengar apapun keluhan sang putri.
__ADS_1
Rena menghela napas. "Waktu aku menginap di tante Izah, aku bertemu Bang Rendra, Bang Rendra bilang gak mau main-main sama aku dan mau serius, tapi sekarang malah sibuk, gak jeput Rena, dan pergi keluar kota padahal besok ulang tahun Rena, Bun," kata Rena sambil matanya berkaca-kaca.