Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Meminta Restu


__ADS_3

Mobil Bara pun meninggalkan rumah Ratih pada malam itu juga.


Bara mengantarkan Aiko pulang ke rumahnya. Lalu mobil itu berjalan kembali menembus malam menuju ke kediaman Bara.


Berapa menit kemudian mobil itu pun sampai dan masuk kedalam garasi rumah itu.


Bara keluar dari mobil, begitu pun Ratih.


"Ayo, Rat," ajak Bara


Bara pun berjalan memasuki rumah sebelumnya ia mengucapkan salam, dan di jawab oleh bunda yang memang berada di kamar tamu.


Bara dan Ratih masuk ke ruang tamu, Bara mencium punggung tangan bundanya di ikuti oleh Ratih, Rikam mengerutkan keningnya, dan itu membuat Ratih sedikit kurang nyaman dan Bara pun tahu itu.


"Duduk dulu Rat, sebentar ya," katanya sambil menarik bunda masuk kedalam


Dia pun menceritakan secara singkat pada bundanya. Rika pun mengerti."


Rika keluar menemui Ratih.


"Nak ikut bunda sini, "Kata Rika sambil menarik tangan Ratih untuk mengikutinya, sampailah di sebuah kamar," Sementara kamu tidur di sini, di lemari ada beberapa baju kau bisa memakainya."


"Baik tante trimakasih, maaf merepotkan tante."


"Loh, kok tante, panggil Bunda ya," kata Rika dengan lembut.


"Baik, bu trimakasih." Rika mengangguk dan meninggalkan Ratih di kamar tamu.


Ratih melihat kamar itu begitu besar, Ia duduk di bibir ranjang sambil memikirkan apa yang terjadi tadi hingga ia teringat bahwa ia masih bau minyak karena meninggalkan pekerjaan menggoreng Rempeyek. Ia pun meringis, di bukanya lemari ada beberapa setel baju tidur dan gamis lalu handuk serta mukena.


Dia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membesihkan diri.


Bara duduk di sofa di ruang kerja ayahnya bersama ayah dan ibunya.Dia menceritakan semuanya kepada ayah dan ibunya tanpa mengurangi atau menambahnya.


" Apa kau mencintainya, masalah jangan sampai kamu menikah karena rasa kasihan."


"Bara sudah lama yah suka sama Ratih, waktu masih SMP, cuma waktu itu katanya pindah di Surabaya."


"Baiklah rencana kapan mau nikahnya?"


"ya kalau bisa cepat itu lebih baik yah."


" Bagaimana kalau waktunya di samakan dengan acaranya Nara?


"Begitu juga boleh yah."


"Ya sudah mana berkas perusahaannya, biar ayah lihat."

__ADS_1


Angga mengeluarkan berkas perusahaan pak Haidar, dilihatnya lalu mulai berkomentar," perusahaanya dalam keadaan sehat dan pengelolahannya sangat bagus, tapi ayah harus bertemu langsung dengan orangnya."


"Baik yah, nanti akan Bara antar bertemu dengan pak Haidar. Ratih juga menitipkan sertifikat rumah dan sawah milik neneknya kepada ku."


"Simpan saja dulu Bar, sekarang sebaiknya kau beristirahat dulu sudah malam Bar."


"Baiklah yah."


Bara dan Angga keluar dari ruangan kerjanya dan pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


****


Adzan subuh berkumandang, Ratih terbangun dari tidurnya, mengambil air wudhu lalu sholat subuh di kamarnya. berdzikir dan berdoa dengan khusyuk meminta perlindungan pada Allah supaya di jauhkan dari marah bahaya dan orang yang ingin berbuat jahat.


Setelah selesai ia pun keluar dari kamar tamu, melihat Rika sibuk di dapur ia menghampirinya," Bun, ada yang bisa Ratih bantu."


"Sudah bangun, bener ni mau bantu bunda."


"Iya bun," jawab Ratih sambil tersenyum


" Bunda mau bikin sayur asem, pepes ayam dan balado udang, biar cepat kamu bikin bumbu pepes dan baladonya Rat, bisa?"


"Bisa bun," jawabnya dengan semangat."


Mereka pun memasak bersama sambil berbincang-bincang kadang terdengar tawa kecil dari mereka.


Tak seberapa lama masakan pun siap tertata di meja.


"Bun, tolong dasi dong!" pinta Angga sambil turun dari tangga.


"Ayah manja, gitu aja minta tolong bunda,"


kata Rena sambil berlari menuruni tangga.


"Hai jangan lari nanti jatuh." kata Angga pada putrinya.


"Loh ada teh Ratih, kok bang Bara gak bilang Rena? kan Rena bisa ajak main ke kamar Rena." kata Rena sambil duduk di kursinya.


"Abang lupa Ren, maaf." kata Bara sambil memegang ujung telinganya dan Rena pun tertawa.


Angga duduk di kursi bersama istrinya, sementara itu Ratih hanya berdiri bingung apa yang harus di lakukan."


"Duduk nak, kita makan bersama."


"Baik Bun," jawabnya sambil duduk di sebelah Bara.


"Yah, kalau Bara pikir 4 hari terlalu lama lebih sore nanti atau besok pagi, kalau bisa sore nanti, yah." katanya sambil memasang tatapan memohon. Ratih menunduk tajam mendengar apa yang di katakan Bara."

__ADS_1


Angga menghelah nafas," kau tidak bisa memutuskan begitu saja Bar, kau harus tanya Ratih apa bersedia menikah tanpa pesta hanya ijab kabul saja, juga kesiapannya juga."


"Bagaimana Rat?" tanya Rika pada Ratih.


"Sebenarnya Ratih juga gak enak bun, yah tinggal di sini tanpa ikatan apa pun dengan bang Bara, kalau bang Bara punya niatan seperti itu Ratih merasa lebih di hargai, tidak perlu pesta cukup tasyakuran biasa saja, maaf bun, yah."


Bara tersenyum ketika mendengar Ratih memanggilnya abang


"Baiklah, kalau begitu sekitar pukul 9.00 nanti antar pak Haidar ke rumah kakek mu, biar semua urusan kantor Teo yang urus," katanya sambil menyuap makanan yang diambilkan Rika.


"Rena gak ngerti pada ngomong apa? kata Rena sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sudah makan saja kamu dek nanti terlambat." kata Bara sambil tersenyum.


"Bunda makin pinter masaknya, pepes ayamnya sedap sekali." kata Angga sambil menyuap makanan.


"Bukan bunda yang masak yah." kata Rika sambil tersenyum."


"Bunda beli?" tanya Angga sambil menatap istrinya penuh tanda tanya.


"Itu Ratih calon mantu yang masak," kata Rika santai.


"Baguslah jadi nanti kalau di Amerika Serikat, Bara ada yang memanjakan perutnya," katanya sambil terkekeh.


"Rat, kalau kamu ambil kuliah di sini kamu batalkan saja ya, ambil kuliah di sana saja. Menikah tapi berjauhan itu tidak baik, biar ayah yang membiyayai." kata Angga kembali


"Iya, ayah, rencana Ratih ambil jalur Beasiswa saja yah, jika nanti ada."


"Ya, itu terserah kamu, yang penting maunya Ayah kamu harus ikut mendampingi Bara di sana, karena kamu nanti sudah sah menjadi istrinya."


"Iya, ayah." Jawab Ratih.


Setelah menyelesaikan sarapannya Angga pamit pada istrinya, mereka semua mencium punggung tangan Angga, tanpa terkecuali Ratih.


Mobil Angga pun keluar dari rumahnya dengan kecepatan sedang.


"Bunda juga mau dinas, gak papa kan bunda tinggal, kamu cuma sama bik Darsih dirumah.


"Gak papa bun," kata Ratih sambil tersenyum.


"Bar bunda tinggal jangan macam-macam ya?"


"Enggak bun." jawabnya sambil terkekeh, mencium punggung tangan bundanya, begitu pula dengan Ratih mencium punggung tangan Rika.


"Rat aku mau atar Rena sekolah dulu ya," pamitnya juga pada Ratih.


"Rena berangkat dulu yak teh," pamit Rena pada Ratih sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Ratih terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2