Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Mimpi Ratih


__ADS_3

Di Boston, tempat dimana Bara dan Ratih tinggal. Setelah sholat subuh seperti biasa ia menyiapkan sarapan suaminya, Ia membuatkan Roti isi daging panggang dengan saus barbeque dan segelas susu hangat.


Setelah tinggal di Boston mereka jarang mengkonsumsi nasi selain mahal juga juga susah di dapat. Mereka hanya makan nasi di siang hari jika masih tersisa di gunakan untuk makan malamnya.


Diawal-awal mereka tinggal di Boston belum bisa menyesuaikan perut dan lidahnya untuk makanan yang ada di sini, hingga suatu saat ia kehabisan beras dan susah mencarinya. Akhirnya selama satu bulan mereka hanya mengkonsumsi, Roti, kentang , daging dan sayur-sayuran maka sekali mereka mendapatkannya mereka pun berhemat beras, bayangkan saja harga beras di sana berkisar Rp.68.000,00 /kg.


Mungkin bagi Bara harga segitu tidak jadi masalah tapi karena susah di dapat maka ia pun harus berhemat, mereka tidak bisa tidak makan nasi dalam sehari setidaknya satu kali.


Bara keluar dari kamar dengan mengenakan kaos lengan pendek dengan stelan jins membungkus tubuhnya yang tinggi dan tegap berjalan menuju meja makan dan duduk di samping istrinya, di hadapannya telah tersedia setangkup roti isi daging saus barbeque dan segelas susu hangat.


Bara memakan dengan sangat lahap dan meminum susu hangatnya. Lalu mencium perut sang istri kemudian keningnya. "Hari ini aku pulang agak malam ya, Bun. Sedang menangani proyek bersama Luky, tidak usah menunggu dan jangan terlalu capek, ya."


Ratih mengangguk lalu mencium punggung tangan Bara.

__ADS_1


Bara beranjak dari tempat duduknya lalu menyangkutkan tas di punggungnya berjalan keluar Apartemen.


Bara tiba di lantai dasar berjalan menuju area parkir lalu masuk dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampusnya. Sementara itu, Ratih membersihkan meja makan lalu mencuci piring dan gelas kotor, setelah itu, ia pun pergi ke balkon memulai aktivitasnya menanam bunga di balkon.


Kemarin bunga-bunga ia pesan datang, entahlah kehamilannya ini lebih suka beraktivitas, Ratih tak suka diam ada saja yang ia kerjakan. Ratih mulai mengisi pot-pot dengan tanah campuran humus lalu memindahkan tanaman dari polibag. Dengan tanpa merasa lelah ia telah memindahkan sepuluh bunga di dalam pot hari ini. Dia mencuci tangannya lalu masuk kedalam menuruni tangga yang terhubung dengan kamarnya, ia keluar menuju dapur mulai menanak nasi lalu membuat lauk untuk makan siangnya,


Dia mengupas kentang, wortel lalu memotong-motong kecil begitu juga sayuran yang lain, hari ini ia ingin masak sup, setelah masak di masukan di dalam mangkuk besar kemudian ia membuat omlete dan menaruhnya kedalam piring lalu menatanya di atas meja.


Ketika adzan ashar terdengar dari handphone Ratih terbangun kemudian ia membersihkan diri setelah selesai ia pun menunaikan sholat ashar habis itu ia kembali keruangan keluarga sambil membawa camilan ia mengambil buku bacaan yang ia baca tadi. Ia pun mulai membaca sambil mulutnya tak mau diam mengunyah camilan yang memang di sediakan suaminya. Setelah pulang kuliah atau bekerja.


saat ini hanya itu yang dilakukan oleh Ratih. membaca, menonton televisi, sholat. Setelah ia selesai sholat ia melihat televisi hingga akhirnya tertidur


diruang tengah dengan TV yang masih menyalah.

__ADS_1


Jam sebelas malam Bara baru sampai Apartement, ia masuk ke dalam mencari istrinya hingga keruang tengah. ia menemukan istrinya diruang tengah sedang tertidur, baju menyingkap hingga keatas membuat sesuatu terbangun dari dalam tubuhnya, ia mengangkat istriya di pindahkan di kamarnya. Bara sudah tak bisa menahannya, dilucutinya semua kain yang menempel di tubuh istrinya hingga terlepas semua, ia pun melepas semua pakaiannya juga lucunya Ratih tak terbangun sama sekali saat Bara telah bermain di atas tubuh istrinya. ternyata Ratih sedang bermimpi bercinta dengan suaminya, saat bibir Bara bermain di bibir istrinya itu Ratih membalasnya dengan cium dashat, membuat Bara terkekeh. "Hai apa kau bermimpi bersama dengan ku, sayang."


Bara semakin bergelora namun tetap mengendalikan dirinya karena ada anak di rahim istrinya. Bara semakin bersemangat saat sang istri merespon apa yang di lakukan Bara bahkan ia terkejut saat sang isteri mengigau. "Aku ingin di atas, Bang." betapa senang hatinya ia pun menuruti permintaan sang istri dan saat ini Ratih sudah di atasnya memanjakannya dengan gerakan-gerakan yang membuat Bara menggila, hingga membawa kepuncak kenikmatan. tak cukup satu kali. Ratih kembali bergerak sesuai alur yang diinginkan dan itu membuatnya shock dan juga bahagia. Bara terkekeh di tengah kenikmatan pasalnya istrinya tak kunjung sadar bahwa ini benar- benar terjadi, Ratih menganggap bahwa ini adalah mimpi tak perlu merasa malu.


Ratih masih di atas Bara melakukan banyak hal pada tubuh suaminya. Tentu saja Bara semakin senang bahkan sangat merasakan sensasi luar biasa ketika istri berubah menjadi liar. Semenjak kehamilannya membuat gairah istrinya semakin meningkat, jelas itu membuat Bara, senang dan bahagia.


Dia tidak mengalami seperti Rafa, Nara yang mengalami morning sicknes.


Bara merasa malam ini malam istimewa karena istrinya melakukan tanpa ia sadari, memberi kepuasan padanya, tidak bisa di luapkan dengan kata-kata.


Akhirnya Ratih membawahnya kembali ke puncak yang ke tiga kalinya dan ia terkulai di atas Bara. Bara menghembuskan nafas ia berfikir untung saja saat ini benar-benar dia jika bukan bagaimana coba, ternyata gaya mengelindur Ratih juga membuatnya cemas.


Bara memindahkan istrinya yang masih tidur, namun mulutnya tak berhenti berbicara. "Bang Ratih capek tahu." sambil tersenyum manis. Sungguh sangat menggemaskan bagi Bara, Bara kembali tertawa ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah selesai ia menyiapkan air hangat dan aroma terapi untuk istrinya. Setelah itu ia pun keluar berjalan menuju ranjang, di gendongnya tubuh polos istrinya ke kamar mandi di baringkan di bathub yang berisi air hangat merasakan sesuatu yang lain akhirnya Ratih terbangun, ia melihat Bara berjongkok di depan bathub hanya berbalut handuk, ia menelan ludahnya. "Jadi yang tadi bukan mimpi?" Bara mengerak-gerakan alisnya ke atas. "Menurutmu?" Ratih merona di tutupnya wajahnya karena malu, Bara tertawa sambil berjalan keluar kamar mandi lalu menengok ke belakang. "Mandi, Bun!"

__ADS_1


__ADS_2