Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Bertemu Sahabat Lama


__ADS_3

Hari masih sangat pagi Angga tergesa-gesa pergi ke kantornya akan ada rapat jam 7.00 pagi. Dia bergegas menemui istrinya, " Bun, Ayah berangkat dulu." pamitnya.


"Gak sarapan dulu yah? tanya Rika pada suaminya sambil mencium punggung tangannya.


"Enggak bun, ayah buruh-buruh. Nanti sarapan di kantor aja." Rika mengangguk.


Angga pun berjalan meninggalkan dapur yang di songsong oleh kedua anaknya dengan mencium punggung tangannya.


Angga berjalan keluar dari rumah menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah.


Bara dan Karena duduk di meja sedang menyelesaikan sarapannya.


"Ren, cepat sedikit lo bisa terlambat loh, kalau kakak si Free masih libur, kalau kesiangan jangan suru kakak ngebut ya, nanti di marahi bunda."


"He..he..he.. , yang di marahi kan kak Bara bukan aku."


"Eh? kamu ya." kata Bara gemas.


"Bara!" panggil Rika dalam kamarnya.


"Iya, bun ada apa?"


Rika pun keluar membawa 2 berkas yang di perlukan Angga untuk Rapat hari ini.


"Ayah lupa bawa berkas untuk rapat hari ini tolong kamu antarkan ya.. bunda hari ini ada pasien gawat darurat yang segera di tangani, Rena cepat!"


"Iya bun," jawab Bara sambil memasukkan berkas di dalam tas punggungnya.


"Iya bun," jawab Rena sambil berlari kecil menjinjing tas dan sepatunya. gadis kecil berusia 12 tahun itu segera memakai sepatunya," kak Bara tolong tali kan sepatu ku dong, nanti kalau aku jatuh bagaimana?"


Bara menghelah nafas lalu berjongkok menalikan sepatu adiknya sambil menasehati adiknya," Kamu itu sudah besar harus bisa menalikan sepatu mu, kalau kak Bara sudah berangkat ke Amerika siapa coba yang menalikan sepatumu."


Bara dan Karena mencium punggung tangan Rika, lalu mereka berdua berangkat.


Bara mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang menuju sekolah Rena tak seberapa lama kemudian dia sampai ke sekolah Rena. Rena pun turun dari motor kakaknya, mencium punggung tangan kakaknya lalu masuk ke pintu gerbang sekolah.


Bara memacu motornya agar cepat sampai di tempat meeting ayahnya tiba-tiba saja ada seorang menyeberang jalan dengan membawa sesuatu bungkusan di kresek besar. tanpa bisa di cegah Bara pun sedikit menyerempet bahunya dia pun jatuh bersama barang bawaannya," gimana sih, bisa bawa motor engak sih mas, jalan kok gak lihat orang nyebrang to mas."


Bara segera meminggirkan motornya dan menjagangnya. Ia tersenyum dengan keluahan orang yang di tabraknya yang ternyata seorang gadis berjilbab yang sedang menjajakan dagangannya.


"Apa gak keliru ni mbak, mbak nyebrang gak pakai lihat mbak kira ini jalanan punya mbak sendiri apa?"


"Eh?" kamu ya.....


"Apa?"


"Bara..?

__ADS_1


"Ratih..?" benar kamu Ratih kan?" tanya Bara pada gadis itu, gadis itu mengangguk matanya berkaca-kaca menahan tangis entah karena bertemu Bara ataukah karena terluka.


Bara mengambil bungkusan besar itu membawanya kepinggir jalan. Ratih mengikutinya dengan jalan tertatih.


Begini aja lo ikut gue dulu antarin berkas ke bokap setelah itu kita urus yang ini."


"Tapi?"


"please Rat gue buru-buru." gadis itu pun menghangguk. lalu naik ke motor Bara sambil membawa dagangan yang telah hancur.


Bara pun kembali mengemudikan motornya melintasi jalanan yang padat hingga sampai di sebuah restoran mewah, Bara turun dari motornya berpesan sebelum pergi," lo tunggu di sini dulu gue masuk kedalam." katanya pada gadis itu. Ratih mengangguk.


Bara berjalan memasuki restoran itu dan masuk ke ruangan VIP.


mengucapkan salam lalu masuk kedalam "yah, maaf agak terlambat sedikit ada masalah."


"Oh gak papa, klein ayah sudah ngerti."


kata Angga mengambil berkas yang dari tangan putranya.


"Ini yang dapat beasiswa pendidikan di Massachusetts Institute of Technology (MIT)di Cambridge."


"Iya betul." jawab Angga bangga.


Bara mencium punggung tangan klien ayahnya lalu dengan sopan berpamitan kepada mereka.


Bara berjalan cepat menuju motor yang di parkirkan, nampak Ratih berdiri di sebelah motor tersebut.


"Ayo naik kita cari depot yang nyaman."


"Bar, gimana nasib dagangan gue?"


"Naik dulu Rat nanti di bahas di sana ya."


Ratih pun menggangguk lalu kembali menaiki motor Bara. Motor itu pun melaju dengan kecepatan sedang. sambil mengemudi Bara pun bertanya," Bukankah kamu ikut ayah mu pindah ke Surabaya,"


"Iya, tapi aku ngak krasan di sana Bar, ternyata ayah menikah lagi. Istrinya menghendaki ku di sana hanya sebagai pengasuh anaknya saja ia tak mau menyekolahkan ku."


" Aku hubungi bu Siti dan menceritakan semuanya padanya apa yang ku alami di sana. dan bertanya apa masih berlaku tawaran beasiswa untuk ku karena aku masih ingin sekolah."


"Bu Siti wali kelas kita?" tanya Bara pada Ratih.


"Iya."


"Bu Siti memintaku menemui kerabatnya yang ada di Surabaya dan menumpang di mobil mereka karena mereka pun akan ke Jakarta."


"Aku berhasil lari dan menumpang mobil itu ke Jakarta, dan akhirnya bisa sekolah di SMA negeri di Jakarta dengan beasiswa."

__ADS_1


"Lalu sekarang rencana mau kuliah dimana?"


"Aku ngak kuliah Bar." kata Ratih


"Kenapa? kau pintar Rat, kau bisa jalur beasiswa kan."


"Iya, aku di terima beasiswa di UI jurusan manajemen perusahaan."


"Ambil! gue bantu lo untuk bisa kerja di bokap gue, tapi mungkin jabatan gak akan tinggi tapi setidaknya lo punya penghasilan tetap dan lo masih bisa kuliah Setelah lulus kalau nilai lo bagus karirmu di sana juga bagus." katanya sambil membelokan motornya di sebuah depot sederhana.


"Mana sini coba gue lihat lo jualan apa?"


katanya sambil meraih bungkusan kresek besar yang sedari tadi di tenteng oleh Ratih.


Bara memesan minuman dan makanan untuk Ratih lalu membuka bungkusan kresek itu yang ternyata berisi rempeyek yang sudah remuk. Bara mengambil satu bungkus dan membukanya lalu memakannya.


"Enak, satu bungkus berapa harganya.


"Satu bungkus harganya Rp.2000."


"Di sini ada beberapa bungkus?"


"ada 50 bungkus Bar."


"Ok! aku beli."


Seketika itu matanya membola," Apa kamu beli?"


"Hem, iya, kenapa?gak boleh."


"Boleh tapi itu sudah hancur Bar."


"Ya gak papa kan masih bisa dimakan."


Ratih menelan salivanya menunduk tajam menatap lantai Depot.


"Ayo segera selesaikan makan mu ku antar kau pulang. Ratih mengangguk.


Bara melakukan panggilan pada seseorang,hingga akhirnya tersabung.


"Assalamualaikum Om, boleh gak nih aku suplai rempeyek di kafe, bukan punya ku, punya teman."


"Wa'alaikum salam, boleh kebetulan orang yang biasa kirim peyek itu pulang kampung, Bisa suplai berapa nih, 4 ratus bungkus bisa dengan harga 10 rb atau 15 ribu."


"Ok! om makasih," sambungan terputus.


lo bisa buat 400 bungkus perhari dengan harga I0 rb atau 15 ribu."

__ADS_1


"Bisa Bar, trimakasih ya," Bara mengangguk tersenyum.


__ADS_2