Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Beralih Haluan


__ADS_3

Setelah berkenalan dengan Rena, Rendra menatap Diki sembari berkata, "Bang boleh peluk istri loh nih, soalnya gue kangen banget tuh sama si cabi," pintanya terus terang.


"Nggak boleh kamu bukan mahrom," kata Diki dengan wajah datarnya.


"Ya Allah sebentar saja, Bang. Aku juga kangen sama bang Rendra sudah lama gak ketemu, berapa lama, Bang? Empat tahun lebih, yaa?" tanya Nara sambil menatap suaminya duduk di bibir ranjangnya.


"Bang Rendra peluk aku saja, gak ada yang marah dan cemburu, kalau Mbak Nara sudah ada yang punya gak boleh peluk-peluk sembarangan," celetuk Rena yang berdiri dari sofa berjalan menuju box bayi Al.


"Beneran ini boleh peluk kamu?" tanya Rendra tertawa.


"Iyalah, Anggap saja aku Mbak Nara yang masih kecil, wajahku juga gak beda-beda amat masih keturunan Dintara," kekehnya sambil menundukkan wajahnya, Dika menepuk dahinya, Mbak Kecil ini tahu aja mana cogan mana yang enggak, pikirnya.


"Beneran nih?" tanya Rendra sambil membungkuk menatap wajah Rena dari dekat, sontak Rena terkejut belum sempat hilang rasa terkejutnya, sebuah tangan menarik tanganya dengan keras menabrak dada bidang pria itu.


Pelukan dari lelaki yang baru dia kenal itu begitu hangat sedikit melupakan rasa cintanya dari Vino. Suara bisikan di telinganya membuatnya semakin membeku. "Aku telah membidikmu, mulai saat ini kau milikku. jadi jaga hati dan matamu dari pria lain."


Dengan senyuman menyeringai dieratkan pelukannya sesaat lalu dilepaskannya sambil menatap wajah Rena yang bersemu merah. "Belum berasa," celetuknya membuat Diki tertawa keras, lalu berdiri berjalan mendekati sang istri yang masih berbaring di ranjang lalu duduk di bibir ranjang.


"Hah? Apanya yang belum berasa, Bang?" tanya Rena bingung.


Diki semakin terpingkal melihat expresi wajah Rena. "Bang Ren, jangan mainin! Dia anak pamanku!" teriak Nara memperingatkan Rendra.

__ADS_1


"Yang mainin dia siapa, Bi? Aku cuma bilang belum berasa, mungkin nunggu tiga atau empat tahun lagi baru berasa, kalau bibirnya mungkin sudah terasa manis kalau boleh incip?" kata sambil tertawa.


"Gak boleh, Bang Ren! Nunggu dia lulus dan akad dulu, awas yaa, Bang! Jangan coba-coba cemari Mbak Kecilku itu!" larang Nara dengan keras.


"Apa sih, Bang? Kenapa Mbak Nara marah-marah coba? Terus apa yang tidak berasa? Rena benar-benar gak ngerti," tanyanya beruntun pada Rendra yang hanya tertawa melirik Diki yang mengangkat bahunya, lalu Nara yang memutar bola matanya.


Rendra pun menarik tangan Rena mengajaknya duduk di sofa. "Mau dijelasin sekarang apa lima tahun kedepan?" tanyanya lembut sambil tangannya merangkul bahu gadis itu.


"Sekaranglah, Bang. Kelamaan lima tahun ke depan keburu lupa aku," protesnya sambil menatap wajah pria tampan itu.


"Beneran, gak shock nanti kalau Abang bilang sekarang?" tanyanya lagi dan Rena mengangguk.


Rena melihat dadanya lantas secara spontan menyilangkan tangan di depan dadanya, sambil matanya menatap tajam ke Rendra yang terkekeh," gak usah di tutupi begitu juga Na, sudah Abang bilangkan kamu pasti sock, lagian masih kecil juga," katanya lagi sambil tertawa.


Rena menyipitkan matanya sambil menatap pria yang tak berhenti menatapnya itu. "Abang mesum sekali," katanya membuat Rendra tertawa.


"Katanya kalau sama kamu boleh, karena belum ada yang punya, kalau aku mesumin Cabi, si Diki bakal marah dong. Tunggu lima tahun lagi deh peluknya biar berasa, dan ... kamu juga," bisiknya ditelinga Rena lalu mencuri cium di pipi Rena, membuat wajah gadis itu bersemu merah.


"Bang Ren, Jangan macam-macam yaa! Gue curiga di sana Abang pasti hidup bebas," tuduh Nara.


"Mana ada Bi? Bahkan aku ngak sempat bergaul sama cewek, karena di sana Abang juga kerja, memang begini bawaannya kalau cowok lagi demen sama ceweklah, gue lagi demen sama Mbak Kecilmu ini gimana dong? Mau dihalalin juga masih kecil, itu pipi sama bibirnya bikin Abang gak kuat aja, tanya tuh sama suamimu Kenapa coba cepat halalin kamu," kata Rendra tak melepaskan pelukannya pada Rena dan entahlah Rena juga tidak bisa menolak.

__ADS_1


"Kenapa Bang?" tanya Nara sama Diki.


"Ck, kamu Itu bongkar rahasia saja," kata Diki sambil matanya menyorot kepada Rendra.


"Bang kenapa?" tanya Nara lagi


Diki pun mendekati sang istri lalu berbisik, "Ingin cepat bikin Anak sama kamu." Nara pun langsung memukul suaminya itu. "Aduh Mi sakit tahu, kamu tuh lebih parah dari Rena dulu, bayangin saja kamu datang ke Vila Abang dengan pakai begituan, malam-malam lagi minta sekamar pula gimana gak kesel semalam suntuk gue bolak balik ke kamar mandi coba ngapain, kamu itu bikin abang gila tahu makanya langsung aja Abang minta ke daddymu," kata Diki pada istrinya yang lagi ngambek.


Sementara itu, Rendra yang mendengar perdebatan kecil itu tertawa terpingkal-pingkal. "ngapain kamu tertawa coba, puas bikin kita bertengkar," katanya sambil menyorot matanya ke Rendra yang hanya mengangkat kedua bahunya.


"Begituan bagaimana sih Pi, aku cuma pakai celana pendek dan kaos oblong saja," jawabnya membela diri.


"Yeeh, Mbak Nara, kata Bunda gak boleh begitu," kata Rena memperingatkan sepupunya itu.


"Kamu yang gak boleh Ren, ketahuan bunda Rika di gorok habis kamu di peluk begitu langsung nemplok," Sarkas Nara pada sepupunya itu.


"Ini kan bukan salah Rena, Mbak Nara, salah Bang Rendranya pakai peluk Rena segala jadi gak bisa gerak tubuh Rena," kekehnya. Rendra pun semakin erat memeluknya mencoba memasuki hati gadis kecil itu lebih dalam lagi, kata-kata manis sengaja di lontarkan agar si gadis melambung tinggi dan tidak akan sanggup untuk melepaskannya suatu saat nanti sampai ia menjemputnya di pelaminan cukup satu kali kehilangan gadis yang ia puja dan tak ingin terulang lagi. "Kamu sudah mandi?" tanya Rendra pada Rena.


"Sudahlah, Bang. Aku baru tiba di sini tadi jam 10.00 dan langsung mandi, masak bau sih," katanya sambil mencium ketiaknya, membuat mereka tertawa. "Enggak, Abang mau ajak jalan-jalan pakai moge, kalau kamu mau, cepat ganti pakaian! Yang sopan Ya Ren, jangan kayak cabi! Pakai baju asal saja," katanya sambil melangkah ke box baby Alvan. Rena pun segera berlari keluar menuju kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga.


Rendra menatap bayi yang tidur pulas itu" Ini bocah kayak maknya, kamar ramehnya sudah seperti pasar, masih saja tidur," katanya terkekeh sambil meletakan amplop di dekat bantal si kecil, "Bi, Bang Dik, jangan di tolak yaa, aku gak tahu mesti kasih hadiah apa, jadi mentahnya saja, terserah mau di belikan apa? Gak seberapa sih," katanya sambil menatap sepasang suami-istri itu.

__ADS_1


__ADS_2