
Mobil membawanya di sebuah hotel berbintang lima, Cinta terpaksa menurut karena mereka mengancam akan membunuh putrinya. Ia di apit dua orang lelaki kekar bertato dan bertampang sangar. Masuk melalui lobby hotel lalu menaiki lift menuju kamar yang di maksud. Sesampainya di lantai 5 mereka keluar dan berjalan menuju kamar nomer 234. Salah satu pria sangar itu mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu terbuka dan tiga orang pria sekitar berusia 27-30 tahun berada di kamar itu, menatap lapar pada Cinta, dua pria kekar itu langsung mendorong Cinta untuk masuk ke dalam kamar lalu menutup dengan rapat, salah satu pria itu menguncinya dari dalam. "Duduklah!"
kata salah satu dari pria itu. Cinta duduk di sofa yang di depan meja terdapat minuman sejenis wine.
"Minumlah, satu gelas sudah di siapkan untukmu." katanya sambil berjalan kearah Cinta dua pria telah duduk mengapit Cinta, kakinya dan tangannya mulai gemetaran, lalu satu orang duduk di atas meja menghadap Cinta, tatapan tajam menyapu seluruh tubuh Cinta dengan pakaian yang terbuka di area dada dan paha wanita itu.
"Kau minum sendiri atau aku yang meminumkannya padamu," kata pria yang ada di depan Cinta.
Dengan tangan gemetar diraihnya gelas itu lalu di minumnya. Dua pria yang berada di sampingnya sudah menarik baju bagian atasnya kebawah hingga dadanya terbuka tanpa penghalang. Cinta sudah mulai sesuatu yang aneh terjadi seperti keinginan disentuh dengan secara berlebihan, "Apa ini tuan, ada apa dengan diri saya tuan sementara dua orang sudah beraksi di bagian atas tubuh Cinta. Setelah itu tidak ada yang tahu apa yang terjadi di ruangan itu hingga dua hari berikutnya.
Setelah dua hari Cinta di jemput dalam keadaan tidak sadarkan diri, dua hari pula ia menutup diri di kamarnya, tatapannya kosong, semangat hidupnya meredup jika bukan karena Putri ia sudah memilih bunuh diri, Pria yang ia cintainya sebagai ayah biologis dari putrinya meninggalkan dirinya dengan membawa uang yang di pinjam dari Lorenza dan membiarkan dirinya terlantar dan hancur berkeping-keping, lalu seorang yang dianggapnya teman menjadikannya makanan predator. Ia tak bisa melupakan dua hari itu, matanya terpejam air matanya menetes dengan deras, "Ratih, maafkan tante, andai tante tidak serakah mungkin ini tidak terjadi. Teman, apa itu teman? aku sudah tak percaya dengan kata teman lagi, semuanya karena sebuah kepentingan, sedikit sekali orang yang benar-benar tulus dalam berteman dan bodohnya aku tidak bisa melihat ketulusan orang."
Cinta terbawa lamunannya yang sangat panjang sepanjang pagi hingga siang makanannya tak tersentuh. Tiba-tiba pintu terbuka Lorenza masuk kedalam dengan salah satu pria yang kemari berada di hotel.
"Tuan, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Cinta tanpa menoleh sedikit pun padanya.
Pria itu tak menjawab hanya melihat sekilas lalu meminta Lorenza yang menjelaskannya.
"Dia, Tuan Barant. Dia memintamu untuk menemaninya malam ini," Lorenza menjelaskannya.
"Berapa orang yang kau bawa Tuan Barant?" tanyanya dengan nada ketus.
Tuan Barant terkekeh dan berjalan mendekati Cinta. "Kau mau berapa orang, Sayang? akan ku kabulkan, tapi sayangnya saat ini aku hanya ingin kau temaniku saja, "katanya sambil tersenyum menyeringai.
"Apa aku bisa menolak? Tidak'kan," katanya sambil membuang mukanya ke arah lain.
"Ya, kau benar, Aku malah ingin membelimu," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Siapkan Lorenza berkas-berkasnya!"
"Tunggu, bagaimana dengan putri saya, Jika putri saya tetap di sini saya tidak mau, bunuh saja saya," kata cinta dengan tatapan menghunus pada Barant.
"Hai, kau terlihat cantik jika sedang marah. Jangan kawatir kau bisa membawa anakmu pula."
__ADS_1
"Lorenza, apa kau benar-benar akan menjualku dengan tuan ini?! Tidak bisakah hutangku kubayar dengan pekerjaan lain." katanya menatap teman dengan penuh kebencian.
"Tentu, aku akan mendapatkan keuntungan yang banyak dari menjualmu. Beruntung, Tuan Barant ingin membelimu, jarang beliau tertarik dengan seseorang dan itu hanya kamu."
"Tolong pakaian pakaian yang tertutup karena dia akan bertemu dengan anaknya, bereskan pakaiannya segera! Akan kubawah sekarang juga," kata Tuan Barant.
Tak lama kemudian Cinta dibawa ke luar bersama dengan kopernya, dari kejauhan nampak putri berlari menghampirinya. "Mommy," teriaknya lantang, Cinta langsung memeluk anak itu lalu menciumnya.
"Mommy kemana? Kenapa lama tidak menemuiku?"
"Maaf mommy sibuk sayang."
"Aku Rindu mommy," katanya sambil mengerjapkan matanya.
"Ayo, masuk mobil!" perintah Tuan Barant. Tuan Barant meraih Putri lalu menggendongnya sambil berkata, "Anak cantik harus mandiri ya."
Dia mendudukan putri di tempat duduk bagian tengah lalu berjalan membuka pintu mobil dan ia pun duduk di belakang kemudi dan menjalankan kendaraannya meninggalkan rumah itu.
Barant yang sambil mengemudi berkata," Putri akan bersekolah di asrama, aku memberi tahu, bukan mengajakmu untuk mempertimbangkan apa yang menjadi keputusanku, ingat kau ku beli, jadi jangan mendebatku! Aku juga ingin mempunyai anak laki-laki dari mu jadi persiapkan rahimmu!" katanya sambil terus mengemudikan mobilnya
"Kenapa kau diam saja, hah?"
"Apa aku punya suara, tidak bukan?"
"Ya kau tepat sekali kau tidak punya suara untuk hal ini."
"Lalu kenapa harus bertanya? Lakukan apa yang kau mau aku tak peduli."
Barant tertawa, "Kau mau aku bagaimana menikahimu atau tidak?"
"Ku harap kau mau menikahiku walau hanya dengan siri."
"Baiklah, aku akan menikahimu, apa kau senang sekarang? Tersenyumlah, kau lebih cantik dengan tersenyum."
__ADS_1
"Tuan Barant, apa boleh aku meminta sesuatu?"kata Cinta.
"Apa? katakan saja," jawab Barant sambil menoleh kearah cinta lalu kembali fokus dengan kemudinya.
"Jangan seperti kemarin, apa anda mempunyai kelainan?"
"Tidak aku hanya ingin merobohkan ke angkuan mu itu," jawabnya lagi.
"Anda mau berjanji?"
"Tidak, jika aku menginginkan akan kembali ku lakukan." katanya sambil tertawa.
"Kesalahan mu cuma satu Cinta, menolaku, Itu kesalahanmu."
"Kapan aku menolakmu? baru kemarin kan kita ketemu."
"Tidak, coba ingat lagi kamu pernah bertemu denganku di mana?"
"Baiklah kalau aku salah mohon maaf," kata sambil berpaling melihat keluar jendela ia tak mau pusing mengingatnya toh akan sama juga hasilnya tetap terperangkap dalam kehidupan tuan Baran untuk selamanya.
...----------------...
Sementara itu di Apartemen Rafa, Anin mulai jarang berbicara, setelah bertemu Clara.
Rafa merasa ada sesuatu harus diperbaiki, ia memeluk istrinya dari belakang. "Kenapa diam apa masih marah dengan yang kemarin, sudah ku bilang kalau aku itu cintanya sama kamu sekarang."
"Iya aku tahu tapi kamu itu gak pernah nunjukin kalau kamu itu cinta sama aku, gak pernah bilang kalau kamu cintai sama aku." kata Anin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tadi kan sudah bilang," katanya.
"Aduh, Datar amat sih, Bang?" katanya sambil tersenyum miris.
"Masak sih, padahal sudah sunguh-suguh, tapi aku memang begini." katanya sambil terkekeh.
__ADS_1