Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Nara Melahirkan


__ADS_3

Tak lama kemudian istrinya itu tertidur, Diki pun berhenti. Namun, Nara pun ikut terbangun dan mulai membuat kehebohan. akhirnya ia terjaga di sepanjang malam hingga sampai jam tiga dini hari baru terlelap.


Tak seberapa lama kemudian, Nara membangunkan Diki untuk sholat subuh. "Dengan malas ia membuka matanya. "Jam berapa sayang?" tanya Diki dengan suara seraknya sehabis tidur.


"Jam lima pagi Bang," jawab Nara


Dengan menahan rasa kantuk Diki berjalan gontai menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu.


"Kamu sudah sholat?" tanya Diki pada istrinya.


"Belum, Bang. Nunggu Abang," katanya sambil tersenyum. Diki mengangguk dan mengelar sajadahnya lalu mereka sholat subuh berjamaah.


"Aduh Bang, perut Nara sakit lagi, ini malah sakitnya gak ketahan," keluh Nara


"Ya Allah, baju kamu basah Dek, kamu masih bisa berjalan atau tidak?" tanya Diki.


"Masih bisa, Bang," jawab Nara


"Sebentar Abang mau ambil tas," katanya


Setelah itu Diki menuntun sampai masuk di mobil, ia pun menyusul, dan duduk di belakang kemudi lalu menjalankan dengan kecepatan sedang, walau dalam keadaan panik, ia ingin otak bekerja, untuk ini masih sangat pagi sehingga jalanan lengang membuat menambah sedikit kecepatannya untuk segera sampai di rumah sakit, tiba di sana disongsong dengan bankar dorong, lalu dibawa ke ruang bersalin, sampai sana sudah pembukaan delapan. Dokter Raya segera mempersiapkan segalanya, setelah pembukaan sempurna, Raya memerintahkan untuk menarik nafas dan dorong, Diki berdiri di depan ranjang sambil memberikan semangat,


"Ok! Sudah pembukaan sempurna, ikuti aba-aba Tante, yaa. Tarik napas dorong!"


Nara menarik nafas lalu mulai mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejan, ia mencengkram tangan Diki saat merasakan sakit, kadang menarik rambut suaminya atau baju dengan kencang.


Penampilan Diki saat ini sudah berantakan, dan banyak luka cakar dari sang istri, hingga pada bayi itu pun lahir, bayi yang barat badannya empat kilo gram itu lahir dengan selamat.


Diki mencium dahi sang istri. "Trimakasih, sayang. Kamu hebat," kata sambil matanya berkaca-kaca.


Setelah melahirkan, Nara baru menyadari penampilan sang suami yang begitu berantakan. "Maaf, Bang," katanya sambil melihat keseluruhan penampilan Diki.

__ADS_1


"Gak apa-apa, ini tidak seberapa dengan perjuangan kamu tadi, sayang,"


Sementara keluarga besar yang dikabari Raya bahwa Nara akan segera melahirkan, bergegas pergi ke rumah sakit dan meninggalkan sarapan paginya, begitu juga Angga. Keberangkatan ke Boston ditunda beberapa saat untuk memastikan keadaan Nara ketika saat sedang melahirkan sampai bayinya keluar dengan selamat.


Raya membersihkan bayi yang masih merah itu, lalu di berikan pada Diki untuk diAdzani.


Setelah itu Diki keluar dengan wajah bahagia yang di sambut oleh keluarga yang sedang menunggu di luar ruangan.


Melihat penampilan Diki mereka semua terkejut, namun mereka tak berani berkomentar. Dengan masih memakai baju koko dan sarung serta Rambut acak-acakan, tangan yang penuh luka cakar.


"Bayi laki-laki, Kek, Nek, Dad dan Mom.


Maaf Diki mau keruangan Diki dulu untuk membersihkan diri," katanya sambil tersenyum.


"Yaa, sana! Penampilan sudah benar-benar mengerikan," kelakar Raka sambil terkekeh.


Diki pun pergi menuju ruangannya, di sana ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian serta mengobati luka-luka akibat cakaran Istrinya.


"Masuk!" terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk. "Tan, Nara dan bayiku di pindahkan ke mana?" tanya Diki ketika sudah berada di dalam lalu Raya memberi tahu keberadaan Nara, Diki pun segera pergi dari ruangan Tantenya ke ruangan di mana Nara dirawat setelah berpamitan pada Raya.


Tak lama kemudian, Diki sampai di ruangan Nara terlihat keluarga besarnya duduk di atas tikar di depan ruangan VIP,


sedang sarapan pagi.


"Sini, duduk dulu dan sarapan dulu," ajak Ammar mertuanya itu.


Diki pun duduk di sana dan mengambil satu bungkus nasi pecel lele, serta membukanya lalu memakannya dengan lahap.


"Kenapa di luar Dad, di dalam kan masih luas?" katanya pada mertuanya itu.


"Nara sedang sedang menyusui maka dari itu kita di sini semua," katanya sambil terkekeh.

__ADS_1


Hening, mereka sarapan dengan tenang, makanan sederhana yang di dapat dari warung sederhana itu segera tandas hanya menyisakan bagiannya untuk ibu-ibu yang ada didalam.


Tak seberapa lama Mama, Nenek dan Bibi keluar, lalu Diki masuk ke dalam untuk menemui sang istri.


Nara terseyum saat melihat Diki masuk ke dalam ruangannya setelah tiga wanita berbeda usia itu keluar dari ruangannya.


"Hai, cantik bagaimana dengan keadaanmu saat ini?" tanya Angga pada Nara.


"Terasa lemas tubuhku terasa tak bertulang," jawab wanita itu.


"Kau begitu hebat, aku semakin mencintai mu," katanya sambil tersenyum menatap lekat di manik indah mata istrinya.


Lalu mengecup keningnya lama, ketika Diki melihat wanita yang di cintai itu berjuang untuk melahirkan sang putra, sungguh merasa tidak tegah, seperti separuh hatinya telah hilang.


Lalu Diki berjalan menuju, box bayi untuk melihat putranya itu. Bayi yang gemuk terlelap di dalam dengan nyaman.


Terdengar suara ketukan pintu, lalu pintu perlahan dibuka Kakek dan Nenek masuk ke dalam ruangan, Diki menoleh saat sang Kakek bertanya, "Tidur?" tanyanya.


"Iya Kek," jawab Diki.


Raka berjalan mendekati sang cicit yang begitu pulasnya. Melihat dari jarak yang begitu dekat, hatinya menghangat seketika, bayi itu menggeliat pelan. "Dia tampan sekali paduan dari dirimu dan dirinya," katanya tanpa mengalihkan pandangannya bayi mungil yang di hadapan kakek tua itu.


"Nanti, mungkin Kakek akan ikut pergi ke Boston untuk menunggu Ratih melahirkan, Kakek juga ingin melihat cicit Kakek yang di sana, kalau Anin melahirkan tolong kabari Kakek, yaa," pintanya pada cucu menantunya itu.


"Tentu Kek, akan ku kabari, seingat aku Mbak Anin selisih dua minggu dengan Nara istri ku," jawabnya pada Kakeknya itu.


"Semoga saja tidak bersamaan dengan Ratih, yaa," kata Raka terkekeh.


"Semogah saja, supaya Kakek bisa menunggui Mbak Anin di sini, jam berapa Kakek berangkat?" tanya Diki pada Kakeknya.


"Nah itu dia Kakek juga tidak tahu, yang mengurus semua perjalanan adalah Pamanmu, Kakek tinggal berangkat saja," katanya terkekeh

__ADS_1


"Kalau keinginan Kakek dan Nenek begitu, kalian harus menjaga kesehatan, yaa, karena perjalanan kalian butuh waktu 20 jam lebih. Aku sayang kalian, kami ingin kalian selalu sehat agar bisa melihat anak-anak kami tumbuh dewasa," kata Diki pada Kakek dan Neneknya.


__ADS_2