
Amar tersenyum. "duduklah perintahnya pada Rendra.
Setelah itu dia memperkenalkan Rendra dengan Angga.
"Kenalkan Ren, ini Mas Angga dia Ayah Rena," jelas Amar pada Rendra
saya Rendra Om ucapnya memperkenalkan dirinya pada ayah Rena. Angga pun menjabat tangan Rendra sambil berkata aku ingin bicara denganmu berdua saja, bisa?" tanya Angga pada Rendra.
"Tentu, Om. Anda mau di mana?" tanya Rendra pada Angga.
"sudah di sini saja mas aku akan keluar kata Amar.
oke kalau begitu kita bicara di sini saja lanjut Angga. Amar pun pergi keluar meninggalkan ruangannya untuk memberi akses keleluasaan pada anak angkatnya dan kakak kandungnya untuk berbicara dengan nyaman.
Ahmad sudah menjelaskan padaku Dan sekarang aku ingin tahu apa yang kau inginkan pada putriku mengapa kau menginginkan untuk menikah siri? tanya anggap pada Rendra.
Bigini Om, Saya hanya ingin disaat Rena sedih bisa memeluknya tanpa harus kuatir berdosa karena kita sudah halal dan saya bisa menjaganya dari pria yang tidak baik, tapi jika saya orang lain saya tidak bisa melakukan apa-apa terhadap Rena Saya hanya bisa melihat dari kejauhan saja," jawabnya sambil menunduk. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh Angga yang harus dijawab oleh Rendra seolah seperti ujian masuk tentara. Akan tetapi Rendra maklumi hal itu, sebagai orang tua tentu akan mengkhawatirkan anak gadisnya apalagi dengan seorang pria yang baru dikenalnya beberapa hari walaupun dari pihak ayah angkatnya telah mengenalnya begitu jauh. tanpa disadari Rendra semua percakapan yang dilakukan dengan angka direkam dalam masa Angga yang nantinya akan diberitahukan kepada istri dan Daddy-nya untuk menjadi pertimbangan selanjutnya.
"Oke tapi saya tidak bisa memutuskan sekarang karena saya harus berbicara dengan istri saya dan juga Ayah saya selaku orang yang paling tua di sini," katanya pada Rendra.
__ADS_1
"Baik Pak saya tunggu putusannya," jawabannya dengan sopan.
"Selama saya belum memutuskan apapun, saya ingin kamu tidak mengantar jemput Rena, biar supir saja yang melakukannya," kata Angga pada Rendra.
"Iya Pak saya mengerti," jawabnya dengan hormat
"Baiklah itu saja kamu boleh pergi maaf jika kamu harus menunggu," kata Angga lagi
"Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti kecemasan orang tua terhadap putrinya, jadi saya akan menunggu keputusan bapak dengan sabar," katanya sambil mencium punggung tangan Angga, kemudian dia pun berpamitan untuk kembali melakukan aktivitasnya, di rumah makan usahanya sendiri.
Di perjalanan keluar dari ruangan Ammar dia berpapasan dengan Daddy angkatnya itu, dia berpamitan setelah mencium punggung tangan Ammar.
dia tidak pernah tahu bahwa masa lalu amat pun hampir sama dengan dirinya terlunta-lunta sendirian seolah tidak memiliki orang tua walaupun dia masih memilikinya itu sebabnya membuat karakter Amar begitu sangat mengasihi sesamanya.
Rendra pun menaiki mogenya lalu melajukannya dengan kecepatan sedang meninggalkan gedung hotel Amar.
setelah bercakap-cakap dengan adiknya Angga pun pamit untuk pulang akan tetapi baru sampai pintu ya kembali lagi.
"Mar, aku ke sini tidak bawa mobil tolonglah antarkan aku pulang katanya sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
ke sini diantar siapa tanya Amar. tentu saja diantar Pak sobar tapi belinya kan juga mengantar istriku pulang sama Dedi tadi aku kan sudah bilang ke kamu kalau aku dari bandara dan langsung ke sini ah kau ini masa sudah pelupa," katanya pada Amar.
Pria itu pun terkekeh. "Debenarnya yang pelupa itu siapa kamu atau aku toh, Mas. Lah ini tadi saja kamu mau pulang sendiri, lupa kalau kamu itu diantar sama Pak sobar," kata Amar sambil ketawa begitu juga Angga.
"Sudahlah jangan membahas aku lupa atau tidak, sekarang tolong antarkan aku pulang, ini badan aku sudah sakit semua, aku mau istirahat dulu," kata Angga pada adiknya
"Oke baiklah! Jangan lupa nanti kamu buka wa dari aku ya, aku mengirimkan rekaman CCTV percakapan kamu dengan Rendra, biar Daddy sama istri kamu tahu benar karakter Rendra bagaimana dia dalam bertutur kata denganmu," kata Ammar melangkah keluar kantor bersama lalu memasuki lift khusus yang membawa mereka ke lantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar mereka berjalan menuju area parkir lalu masuk ke dalam mobilnya tak lama kemudian melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan hotel tersebut.
setengah jam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah Angga. Amar tidak turun dari mobilnya dan berpesan bahwa masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan jadi tidak bisa mampir Angga pun memahaminya dan menyuruh adiknya segera berangkat menuju hotelnya kembali setelah itu ia pun masuk ke dalam rumahnya setelah mengucapkan salam sang istri menyambut dengan berbagai macam pertanyaan karena masalah seolah penting tidak bisa ditunda esok hari itu sebabnya jika begitu penasaran Apa yang dibahas suaminya dengan adik iparnya itu. nanti lah Bun akan aku kasih tahu saat ini aku lelah sekali ingin tidur dulu kata Angga Baiklah kalau begitu ya istirahat dulu apa Ayah sudah makan kalau belum akan aku siapkan tanya Rika.
Sudah Bun tadi di ruangan kerja Amar katanya Ya sudahlah Ayah istirahat dulu Bunda mau ke kebun belakang lihat tanaman Bunda apakah sama Pak sobat dirawat katanya sambil terkekeh dari tadi ngapain Bun tanya Angga nunggu kamu ya eh yang ditunggu malah ingin tidur ya sudah katanya sambil mengangkat bahunya Angga tertawa dalam merangkul istrinya itu Maaf ya Bun Aku istirahat dulu sebentar nanti deh aku ceritain semuanya sambil nungguin Rena pulang.
oke kalau begitu sudah sana udah mau ke belakang kata Rika sambil berjalan meninggalkan suaminya yang masih berada di depan pintu kamarnya kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar lalu membaringkan tubuhnya di ranjangnya.
Rika pun bersabar dia tetap membiarkan suaminya untuk beristirahat dan dia mulai fokus dengan tanaman-tanaman hiasnya.
Mulai mencabuti rumput-rumput liar lalu menggemburkan tanahnya dan menyiraminya di rasa matahari sudah meninggi dan serasa menyengat kulit ia pun masuk kedalam rumah, menggambil segelas air putih lalu meneguk sampai habis, setelah itu berjalan kekamar dan menyusul sang suami tidur di sampingnya.
__ADS_1