
"Kenapa kak Arta ceritakan?" protes Aska pada Arta yang membuat mereka tertawa.
"Maaf Ask, kelepasan," jawab Arta sambil menjewer kedua telinga.
"Baiklah, tetapi yang itu jangan di ceritakan yaa, kak! Aku bisa malu, aku nih laki-laki loh," katanya penuh rahasia
"Ayo apa itu? Kamu jangan macam-macam yaa Ask!" ancam Bay dengan tatapan tajam.
"Jangan mengancam ku Om! Kalian lebih parah, mereka mencium pipi kalian, sedang kak Arta tidak pernah melakukannya padaku, jadi jangan coba -coba mengorek hubunganku dengan ke Arta," kata Aska.
"Baiklah, maaf kalau itu membuat mu tersinggung," kata Bay pada Aska.
Arta tertawa melihat perdebatan mereka. Ini sudah lebih dari setengah jam loh, apakah kalian tidak kembali nanti di tutup gerbangnya loh," kata Arta mengingatkan mereka.
"Baik lah kak Ar, ini trimalah uang muka dari lukisan tadi kata Aska memberikan dua lembar uang ratusan ribu.
"Tidak usah Ask, kemarin saja masih ada," tolak Arta
"Tidak apa-apa kak Arta ini juga dari kami untuk lukisan kami berempat," kata Bay sambil menyodorkan uang empat ratus ribu hasil patungan mereka berdua.
"Tidak usah bukan kah kanvas juga dari Aska," kata Arta mencoba menolak.
"Jangan di tolak kak Ar, kanvas putih itu tak akan ada nilainya tanpa coretan-coretan indah dari tangan mu," kata Aska.
"Iya betul, kak kau tidak boleh menolaknya, itu baru uang muka karya jika sudah jadi kami akan menambah nilainya sesuai karya kakak," kata Bay.
"Baiklah aku terima dengan syarat kalian tidak boleh menambahnya setelah lukisan jadi," jawab Arta
"Baiklah, kalau begitu kami kembali Kak," pamit mereka berempat dan Arta mengangguk lalu mengemasi barang-barangnya dan di masukan dalam tas kemudian pergi meninggalkan taman menuju ke sekolahnya.
"Kenapa sih kalian ngikutin aku? Gak ada kerjaan lain apa?" protes Aska
"Enggak," jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Kalian kan biasanya sama teman cewek kalian sendiri kenapa sekarang ngikutin aku? Pakai kenalan segala," lanjut Aska yang berjalan di depan.
"Keberatan kami kenalan sama tuh, cewek? Kamu suka yaa sama Kak Arta?" tanya Bay pada ponakannya yang lagi marah itu.
"Ngak usah tanya Om, aku kan gak pernah tanya pada kalian dan gak pernah ngurusin apa yang kalian lakukan sama teman-teman kalian, giliran aku kenapa kepo?" tanya Aska masih dengan kemarahannya dia merasa privasi telah di ganggu.
"Aku minta maaf As, tadinya gak mau ngikut tetapi karena Rui gak masuk, terus kamu selalu bikin teka-teki sama kita jadi jiwa kepo ku meronta As," kata Ehan sambil tertawa.
"Jangan tertawa jelek tahu," kata Aska sarkas.
"As, beneran kamu marah sama kita," kata Al.
"Benar lah, selama ini aku kan gak pernah ganggu kalian, tahu gak kenapa aku keluar pagar dan ketemu dengan kak Arta karena kalian sibuk dengan diri kalian sendiri sementara aku sendirian," kata Aska sambil berjalan melewati pintu gerbang dan masuk kedalam kelas duduk di bangku lalu diam saja.
"Maaf deh, besok gak ganggu lagi deh, kita jagain saja pintu gerbangnya biar gak di tutup dulu kalau kamu belum masuk," kata Bay.
"Sebenarnya kalau kamu terus terang sama kami, gak bakal ngikutin kamu untuk cari tahu, karena kamu gak mau bilang jadi kami penasaran lagi pula kamu tahu loh As siapa kita temui sedang kami tidak tahu siapa yang temui," lanjut Bay dengan tertawa.
"Iya deh aku maafin yang bikin sebal kenapa gak bilang ikut saja," protes Aska
"Memang kamu ijinkan?" tanya mereka pada Aska
"Enggak," jawab Aska terkekeh
"Tuh, 'kan?" jawab mereka serempak sambil tertawa.
Bel masuk terdegar semua siswa pada masuk dan kegiatan pembelajaran sudah di mulai.
Sementara itu Andrian melajukan mobilnya menuju Bandara, setelah tiba ia pun keluar dari mobil menuju ke terminal kedatangan berjalan mencari seseorang setelah melihat orang melambaikan tangannya ia pun mendekatinya, dan menyapanya.
"Sudah dari tadi?" tanya Andrian
"Barusan, Dadd. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan kakakku," kata pria muda itu yang baru lulus sekolah itu.
__ADS_1
"Apa dia cantik? Sebenarnya aku ingin bertemu dengan ibuku juga, tetapi karena Ayah bilang ibu sudah meninggal jadi sudah lah, walaupun hanya bisa bertemu dengan kakak dan ponakan serta kakak ipar aku sudah legah," kata pria itu yang tak lain adalah Davin.
"Kita makan dulu habis itu kita ke makam ibu mu," kata Andrian sambil berjalan menuju area parkir di mana mobilnya berada.
Mereka masuk kedalam dan melajukan mobilnya menuju restoran, sampai di sana andrian berhenti dan keluar di ikuti oleh putranya, mereka pun mencari tempat duduk yang nyaman lalu memesan makanan, setelah pesan mereka datang mereka makan sambil mengobrol.
"Kenapa kita tidak langsung menemui kak Anin saja," tanya Davin pada Ayahnya.
"Dia masih bekerja, Vin membantu suaminya mengembangkan hotel milik mertuanya," jawab Andrian
Setelah selesai makan ia pun pergi ke makam Anisa, tak lupa membeli rangkaian bunga mawar begitu sampai Andrian meng hentikan mobilnya lalu keluar dan berjalan menuju pemakaman Rangkaian bunga di letakan di pusaranya oleh Davin satu rangkaian bunga lagi sudah ada di sana ia sudah mengira bahwa itu kepunyaan sang ayah.
"Nis, Anak kita sudah besar, aku baru membawanya ke sini berharap kau bisa memeluknya ternyata ku telah terbaring di sini," kata Andrian
"Mam, aku Davin, ingin sekali bertemu denganmu tapi kamu sudah berbaring di sini, aku akan selalu mendoakan mu dan aku bersyukur kau pernah mendekap ku sewaktu bayi hingga usia satu tahun, trimakasih telah melahirkan ku," kata itu terucap oleh Davin.
Setelah selesai, Ia melajukan kembali mobilnya menuju sekolah Ehan. Tak lama kemudian mereka sudah sampai tampak empat bocah kecil menunggu di depan gerbang. Andrian keluar dari mobil di ikuti oleh Davin.
"Hai, grandson, kakek bawa siapa? Coba tebak!" sapa Andrian pada cucunya.
"Siapa?" tanya Ehan
"Hello, aku Ommu, Davin Ray ini semua siapa?" tanya Davin pada mereka
"Ini semua saudara aku dari Ayah, ini, Om Bay, Ini si Alvin putra adalah putra dari adik ayah, ini putra pamanku si Askary.
"Hello, senang berkenalan dengan kalian aku adalah kakek Andrian," sapa Andrian.
Hello kek Andrean dan Om Davin, ternyata kalian tampan- tampan yaa tidak sia-sia kami menunggu di sini untuk berkenalan dengan kalian." kata mereka semua tertawa.
"Apa kalian ikut ke mobil kami, tanya Andrian ramah.
"Tidak kakek kami di jemput oleh mami kami," kata Alvan dengan ramah
__ADS_1