
Waktu berjalan seirama dengan gerakan jarum jam yang terus berputar tanpa henti, sejak Ratih memutuskan untuk mau berkonsultasi dengan spikiater, membuatnya semakin lebih baik dari awal dia sampai di di Cambridge. Liburan sekolah segera berakhir, bagi siswa yang sedang menapaki pendidikannya di jenjang perkuliahan mulai beraktivitas. Bara yang sudah mulai sibuk dengan aktifitas barunya yaitu kuliah.
Sore hari Bara, baru datang ia menghampiri istrinya yang sedang sibuk di dapur. Memeluknya dari belakang dan bertanya, "Masak apa sih?"
"Lihat aja sendiri," kata Anin pada Bara.
"Enak kelihatannya," kata sambil mengecup pipi Ratih, istrinya itu tertawa, "Mandi sana dulu bau asam."
"Masak sih?" tanya sambil mencium bau badannya sendiri, setelah itu dia tertawa dan pergi ke kamarnya.
Ratih masih sibuk mengatur makanan di meja ketika Bara selesai mandi. Bara duduk di kursi belakang meja makan di sebelah Ratih.
Sudah tersaji makanan menggugah selera, sayur asam dan pepes ikan serta kerupuk goreng di meja makan Ratih mengambilkan makanan untuk suaminya sambil bertanya, "Mengenai kasus Ayah bagaimana, kau tak memberikan aku handphone jadi aku tak tahu sama sekali kabar ayah dan bagaimana kasusnya."
"Baik lah, aku sengaja tidak memberikan handphone agar kamu lupa peristiwa saat kita akan berangkat ke sini, aku menunggu kamu bisa menguasai emosimu dulu, mengenai ayah jangan kawatir, semua sudah di urus oleh paman Aiko, kau tak tahu kan paman Aiko itu siapa? Paman Aiko itu adalah mantan anak buah paman Riko yang menikahi adiknya bernama Anjani, dan om Riko itu mantan mafia anak buahnya tersebar di mana-mana dan hidup dengan usahanya masing-masing. Jika mereka di kontak maka bisa langsung datang, mereka ahli dalam bidang apapun termasuk IT. orang yang kamu tusuk itu sedang di rawat di rumah sakit dan kondisinya semakin baik, tidak ada kasus karena tidak ada tuntutan, mengenai kasus perceraian ayah mu dengan tante Cinta sudah berjalan dan tidak ada kendala apapun mengingat ayahmu sebenarnya sudah bercerai secara agama 4 tahun yang lalu.
Akan ku kembalikan hp mu saat kamu benar-benar pulih."
"Trimakasih, Bang apa jadinya aku tanpa kamu." kata Ratih sambil menatap suami dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah jangan nangis nanti sayurnya jadi keasinan karena kena air matamu itu yang masuk di piring mu."
"Enak saja, mana ada masuk di piring, sembarangan," jawabnya sambil mengusap air matanya. Bara merangkul pundak istrinya dan tertawa.
Begitu juga Frans, Aila, Nara, Rafa dan Anin, mempunyai aktivitas yang sama yaitu kuliah.
__ADS_1
...----------------...
Di tempat yang berbeda di Indonesia tepatnya di Jakarta, di sebuah apartemen sepasang suami istri yang sudah saling bisa mengenali dan menyelami perasaan pasangannya sedang menikmati keindahan malam di atas balkon tempat tinggalnya.
Rafa yang dulu membenci Anin karena profesinya dan penyebab putusnya hubungan dengan kekasihnya itu kini tak bisa lepas dari pesona sang istri yang semakin membuatnya memuja pada istri itu. Rafa memeluk Anin dari belakang menghisap harum tubuhnya yang menjadi kesenangannya.
"Nin, apa itunya sudah selesai?" tanyanya sambil menempelkan dagunya di pundak Anin.
"Itunya apa?" tanyanya sambil terkekeh
"Cek, kamu masak gak ngerti sih."
Anin tertawa, "Belum Fa."
"Kok lama sih, Nin? katanya seminggu, ini sudah seminggu loh, jangan-jangan kamu bohong sama aku kalau lo bohong gue priksa ni," kata Rafa sambil tangannya gak bisa diam.
"Tidak, mungkin aku gadis dekil yang tak masuk kriteria sebagai teman mu atau pun kekasihmu." jawab Anin dan Rafa tertawa, "Iya mungkin tapi bukan itu."katanya sambil membalikan tubuh Anin lalu memeluk erat.
"Lalu apa? Dari awal aku kuliah kau selalu memusuhiku." katanya sambil menatap suaminya, sungguh wajahnya sangat tampan, suatu perpaduan dari mama Azizah dan Daddy. Rafa mengecup sekilas bibir Anin lalu tersenyum, "Aku seorang fotografer kadang aku menemui klien ku di club, saat itu lah aku tahu kamu penyanyi di club malam, aku membencimu karena ku pikir kau adalah wanita munafik, di kampus kau berdandan seperti cewek cupu, tapi ketika kau bernyanyi di sana dandananmu membuat pria menatap nakal kepadamu, entahlah aku tak suka saja waktu itu."
"Mungkin saat itu kau sudah menyukaiku," kata Anin sambil tersenyum percaya diri, Rafa tertawa keras dan menyentil dahi istrinya.
"Ouw, kau suka sekali menyakitiku, sakit tahu."
"Habis otakmu itu terlalu narsis, mana ada seorang Rafa menyukai gadis cupu macam kamu, bisa jatuh pamor ku waktu itu." kata Rafa sambil menatap kota Jakarta di atas balkon Apartemen.
__ADS_1
Anin pun tertawa keras, "Jadi sekarang pamormu sudah jatuh Bapak Rafa Raditsha Dintara karena menikahi Anindia Prameswari yang cupu.
"Tidak, aku tidak menikahi gadis cupu tapi gadis ... ," Rafa membisikan sesuatu di telinga istrinya membuat Anin merona saat itu juga dan memukul dada pria itu.
Rafa tertawa, "Merananya aku malam ini, hanya bisa memeluk istriku tanpa bisa menikmati menu spesial di tengah malam, kalau kudapan boleh engak?" tanyanya sambil melirik dada Anin.
"Ah, kau ini." teriaknya sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya. Rafa tertawa, "Boleh dong, kalau gak boleh harus boleh!" katanya lagi sambil tertawa dan menarik tangan Anin untuk masuk di dalam.
"Kau selalu memaksa, kalau ujung-ujung harus, kenapa minta ijin?"
"Gak enak aja Nin, kemarin-kemarin kan langsung nylonong begitu, masak aku yang enak kamu enggak, tapi sebentar ku ingat dulu, sepertinya kamu gak masalah deh, mau maksa atau enggak dan kamu menikmati." katanya lagi sambil tertawa, "Rafa!!!" teriak Anin.
...----------------...
Setelah pernikahan Bara dan Ratih, Aila tinggal di rumah Raka, Raka meminta mereka untuk tinggal beberapa hari di rumahnya, sudah satu minggu mereka berada dirumah itu. Di tengah makan malam bersama tiba-tiba saja Aila merasa mual ia segera berlari di toilet di dekat dapur dan memutakan seluruh isi perutnya yang baru di isinya tadi.
Frans meminta Ijin untuk menyusul Aila, di hampirilah istri lalu memijat tengkuk dan punggung istri.
"Ai, kamu kenapa?" tanya Frans pada Ai
"Nggak tahu, Frans, tiba-tiba saja mual aja?"
"Tapi perutmu harus di isi Ai, tidak boleh kosong," kata Frans pada Aila.
"Sepertinya aku tidak bisa makan lagi Frans," kata Aila sambil membersihkan mulutnya dengan air.
__ADS_1
"Makan buah saja ya, ayo ku antar ke kamar." kata Frans sambil memapah Ai pergi ke kamarnya."
Setelah sampai di kamar, Frans membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, "Tunggu sebentar."